Selasa, 07 Mei 2013

KonsultasiSyariah: Rajin Ibadah Demi UN (Ujian Nasional)

KonsultasiSyariah: Rajin Ibadah Demi UN (Ujian Nasional)


Rajin Ibadah Demi UN (Ujian Nasional)

Posted: 06 May 2013 07:06 PM PDT

Rajin Ibadah hanya Untuk Mengejar Dunia

Pertanyaan:

Bolehkah beribadah dengan mengharap balasan di dunia? Misalnya:

  1. Solat Tahajud pada malam ujian nasional dalam rangka supaya diberikan kelulusan saat pengumumman ujian.
  2. Bersedekah 10 ribu rupiah dan berharap di balas oleh Allah di dunia sebesar 100 ribu rupiah.

Apakah bisa dikaitkan dengan kisah 3 orang yang terjebak dalam gua, kemudian Allah membantu mereka keluar dari gua, atas amalan yang mereka kerjakan sebelumnya?

Dari: Fajar Hari Prabowo

Jawaban:

Salah satu fenomena yang sering kita jumpai ketika musim UN, beberapa siswa spontan menjadi sosok yang rajin puasa sunah dan tahajud demi meraih kesuksesan ketika UN. Jika kebiasaan ini selanjutnya dirutinkan dan dikerjakan secara istiqamah, mungkin tidak menjadi tidak masalah. Namun sayangnya, umumnya yang terjadi, kebiasaan ini tiba-tiba luntur begitu UN selesai. Ada apakah gerangan dengan puasa & tahajudnya? Apakah mereka rajin puasa & tahajud hanya demi UN? Bagaimana nasib amal yang mereka kerjakan?

Berikut cuplikan artikel sangat indah, yang akan mengupas hal ini. Artikel ini kami ambil dari situs http://manisnyaiman.com, oleh Ustadz Abdullah Taslim, MA.

Berbicara tentang niat yang ikhlas berarti membahas suatu amalan hati yang paling berat untuk dilakukan seorang manusia, karena besarnya dominasi ambisi nafsu manusia yang sangat bertentangan dengan keikhlasan dalam niat, kecuali bagi orang-orang beriman yang diberi kemudahan oleh Allah dalam semua kebaikan.

Imam Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata: "Tidak ada sesuatupun yang paling berat bagi nafsu manusia melebihi keikhlasan karena pada keikhlasan tidak ada bagian untuk nafsu." (Jaami'ul 'uluumi wal hikam, hlm. 17)

Semakna dengan ucapan di atas, Imam Sufyan bin Sa'id ats-Tsauri berkata: "Tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku daripada (memperbaiki) niatku (supaya ikhlas)." (Hilyatu Thaalibil 'ilmi, hlm. 11)

Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: "Adapun kesyirikan (penyimpangan) dalam niat dan keinginan (manusia) maka itu (ibaratnya seperti) lautan (luas) yang tidak bertepi dan sangat sedikit orang yang selamat dari penyimpangan tersebut. Maka barangsiapa yang menginginkan dengan amal kebaikannya selain wajah Allah, meniatkan sesuatu selain untuk mendekatkan diri kepada-Nya, atau selain mencari pahala dari-Nya maka sungguh dia telah berbuat syirik dalam niat dan keinginannya. Ikhlas adalah dengan seorang hamba mengikhlaskan untuk Allah (semata) semua ucapan, perbuatan, keinginan dan niatnya." (Al-Jawaabul Kaafi, hlm. 94).

Keinginan/niat duniawi pada amal kebaikan

Termasuk penyimpangan niat yang banyak menimpa manusia dan menodai kesucian ibadah mereka, selain perbuatan riya', adalah terselipnya niat dan keinginan duniawi pada amal ibadah yang dikerjakan manusia. Penyimpangan ini penting untuk diketahui, karena sering menimpa seorang yang berbuat amak kebaikan tapi dia tidak menyadari terselipnya niat tersebut, padahal ini termasuk bentuk kesyirikan yang bisa menodai bahkan merusak amal kebaikan seorang hamba.

Allah berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan" (QS Huud: 15-16).

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amal shaleh yang dilakukan dengan niat duniawi adalah termasuk perbuatan syirik yang bisa merusak kesempurnaan tauhid yang semestinya dijaga dan perbuatan ini bisa menggugurkan amal kebaikan. Bahkan perbuatan ini lebih buruk dari perbuatan riya' (memperlihatkan amal shaleh untuk mendapatkan pujian dan sanjungan), karena seorang yang menginginkan dunia dengan amal shaleh yang dilakukannya, terkadang keinginannya itu menguasai niatnya dalam meyoritas amal shaleh yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perbuatan riya', karena riya' biasanya hanya terjadi pada amal tertentu dan bukan pada mayoritas amal, itupun tidak terus-menerus. Meskipun demikian, orang yang yang beriman tentu harus mewaspadai semua keburukan tersebut. (Fathul Majiid, hlm. 451)

Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab dalam kitab at-Tauhid mencantumkan sebuah bab khusus tentang masalah penting ini, yaitu bab: Termasuk (perbuatan) syirik adalah jika seseorang menginginkan dunia dengan amal (shaleh yang dilakukan)nya. (Fathul Majiid, hlm. 451)

Syaikh Shaleh bin 'Abdil 'Aziz Alu asy-Syaikh berkata: "Termasuk syirik kecil adalah seorang yang menginginkan (balasan di) dunia dengan amal-amal ketaatan (yang dilakukan)nya dan tidak menghendaki (balasan di) akhirat…Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia secara asal, menjadi tujuan (utama) dan (sumber) penggerak (diri mereka) adalah orang-orang kafir. Oleh karena itu, ayat ini (firman Allah di atas) turun berkenaan dengan orang-orang kafir. Akan tetapi, lafazh ayat ini mencakup semua orang (kafir maupun mukmin) yang menginginkan kehidupan (balasan) duniawi dengan amal shaleh (yang dilakukan)nya." (at-Tamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid, hlm. 404-405)

Makna dan Perbedaannya dengan riya'

'Abdullah bin 'Abbas berkata tentang makna ayat di atas: "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia", artinya balasan duniawi, "dan perhiasannya", artinya harta. "Niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna", artinya: Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan amal perbuatan mereka (di dunia) berupa kesehatan dan kegembiraan dengan harta, keluarga dan keturunan. (Fathul Majiid, hlm. 451).

Semakna dengan ucapan di atas, Imam Qatadah bin Di'amah al-Bashri berkata: "Barangsiapa yang menjadikan dunia (sebagai) target (utama), niat dan ambisinya, maka Allah akan membalas kebaikan-kebaikannya (dengan balasan) di dunia, kemudian di akhirat (kelak) dia tidak memiliki kebaikan untuk diberikan balasan. Adapun orang yang beriman, maka kebaikan-kebaikannya akan mendapat balasan di dunia dan memperoleh pahala di akhirat (kelak)" (Tafsir At-Thabari, 15/264).

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-'Utsaimin mengisyaratkan makna lain dari perbuatan ini, yaitu seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah bukan karena riya' atau pujian, niatnya ikhlas kerena Allah , akan tetapi dia menginginkan suatu balasan duniawi, misalnya harta, kedudukan duniawi, kesehatan pada dirinya, keluarganya atau keturunannya, dan yang semacamnya. Maka dengan amal kebaikannya dia menginginkan manfaat duniawi dan melalaikan/melupakan balasan akhirat. (al-Qaulul mufiid 'ala kitaabit tauhiid, 2/242)

Adapun perbedaan antara perbuatan ini dengan perbuatan riya', maka perbuatan ini lebih luas dan lebih umum dibanding perbuatan riya', bahkan riya' adalah salah satu bentuk keinginan duniawi dalam beramal shaleh. (at-Tamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid, hlm. 404)

Perbuatan riya' bertujuan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dengan amal shaleh, sedangkan perbuatan ini tidak bertujuan untuk mendapat pujian, tapi ingin mendapatkan balasan duniawi dengan amal shaleh, seperti harta, kedudukan, kesehatan fisik dan lain-lain. (Taisiirul 'Aziizil Hamiid, hlm. 473 dan Fathul Majiid, hlm. 451).

Dalil-dalil yang Menunjukkan Tercela dan Buruknya Perbuatan Ini

Allah berfirman:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan." (QS Huud: 15-16).

Ayat yang mulia ini dibatasi kemutlakannya dengan firman Allah dalam ayat lain:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا}

"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa (balasan dunia) yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami inginkan, kemudian Kami jadikan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir." (QS al-Israa': 18).

Maka kesimpulan makna kedua ayat ini adalah: orang yang menginginkan balasan duniawi dengan amal shaleh yang dilakukannya, maka Allah akan memberikan balasan duniawi yang diinginkannya jika Allah menghendaki, dan terkadang dia tidak mendapatkan balasan duniawi yang diinginkannya karena Allah tidak menghendakinya. (Simak Fathul Majiid, hlm. 452).

Oleh sebab itu, semakin jelaslah keburukan dan kehinaan perbuatan ini di dunia dan akhirat, karena keinginan orang yang melakukannya untuk mendapat balasan duniawi terkadang terpenuhi dan terkadang tidak terpenuhi, semua tergantung dari kehendak Allah . Inilah balasan bagi mereka di dunia, dan di akhirat kelak mereka tidak mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun, bahkan mereka akan mendapatkan azab neraka Jahannam dalam keadaan hina dan tercela.

Benarlah Rasulullah yang bersabda: "Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuannya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niatnya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)." (HR Ibnu Majah 4105, Ahmad (5/183), dan dishahihkan Ibnu Hibban, al-Bushiri dan al-Albani).

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah bersabda tentang buruknya perbuatan ini: "Binasalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) emas, celakalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) perak, binasalah budak (harta berupa) pakaian indah, kalau dia mendapatkan harta tersebut maka dia akan ridha (senang), tapi kalau dia tidak mendapatkannya maka dia akan murka. Celakalah dia tersungkur wajahnya (merugi serta gagal usahanya), dan jika dia tertusuk duri (bencana akibat perbuatannya) maka dia tidak akan lepas darinya". (HR. al-Bukhari, 2730)

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keburukan dan kehinaan perbuatan ini, karena orang yang melakukannya berarti dia menjadikan dirinya sebagai budak harta, karena harta menjadi puncak kecintaan dan keinginannya dalam setiap perbuatannya, sehingga kalau dia mendapatkannya maka dia akan ridha (senang), tapi kalau tidak maka dia akan murka.

Kemudian Rasulullah menggabarkan keadaannya yang buruk bahwa orang tersebut jika ditimpa keburukan atau bencana akibat perbuatannya maka dia tidak bisa terlepas darinya dan dia tidak akan beruntung selamanya. Maka dengan perbuatan buruk ini dia tidak mendapatkan keinginannya dan dia pun tidak bisa lepas dari keburukan yang menimpanya. Inilah keadaan orang yang menjadi budak harta. Na'uudzu billahi min dzaalik.

Beberapa Bentuk dan Contoh Keinginan Duniawi Pada Amal Kebaikan

Syaikh 'Abdur Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh rahimahullah menukil keterangan Imam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah tentang bentuk-bentuk amal shaleh yang dikerjakan dengan keinginan untuk mendapatkan balasan duniawi, sebagai berikut:

  1. Amal shaleh yang dikerjakan oleh banyak orang dengan mengharapkan wajah Allah (ikhlas), berupa sedekah, shalat, (menyambung) silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, tidak menzhalimi orang lain, dan lain-lain, yang dilakukan atau ditinggalkan seseorang ikhlas karena Allah, akan tetapi dia tidak menginginkan pahala di akhirat, dia hanya menginginkan balasan (duniawi) dari Allah, dengan (Allah ) menjaga hartanya dan mengembangkannya, atau memelihara istri dan anggota keluarganya, atau melanggengkan limpahan nikmat/kekayaan bagi keluarganya. Tidak ada niatnya untuk meraih Surga dan menyelamatkan diri dari (siksa) Neraka. Maka orang seperti ini akan diberikan balasan amal perbuatannya di dunia dan tidak ada bagian (balasan kebaikan) untuknya di akhirat (kelak). Bentuk inilah yang disebutkan oleh (Shahabat yang mulia) Ibnu 'Abbas .
  2. Ini lebih besar dan lebih menakutkan dari bentuk yang pertama, dan inilah yang disebutkan oleh Imam Mujahid tentang (makna) ayat di atas dan sebab turunnya, yaitu seorang yang mengerjakan amal shaleh dengan niat untuk riya' (memamerkannya) kepada orang lain, bukan untuk mencari pahala akhirat.
  3. Seorang yang mengerjakan amal shaleh dengan tujuan (untuk mendapatkan) harta, seperti orang yang berhaji untuk memperoleh harta, berhijrah untuk mendapatkan (balasan) duniawi atau untuk menikahi seorang wanita, atau berjihad untuk mendapatkan ganimah(harta rampasan perang). Bentuk ini juga disebutkan (oleh sebagian dari ulama salaf) ketika menafsirkan ayat ini. (Contoh lainnya) seperti seorang yang menuntut ilmu karena (keberadaan) madrasah milik keluarganya, usaha mereka, atau kedudukan mereka, atau seorang yang mempelajari al-Qur-an dan kontinyu melaksanakan shalat fardhu karena tugasnya di mesjid, sebagaimana ini sering terjadi.
  4. Seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan niat ikhlas karena Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, akan tetapi dia pernah melakukan perbuatan kufur yang menjadikannya keluar dari agama Islam. Seperti orang-orang Yahudi dan Nashrani jika mereka beribadah kepada Allah, bersedekah, atau berpuasa dengan mengharapkan wajah Allah dan (balasan) di negeri Akhirat, juga seperti kebanyakan dari kaum muslimin yang pernah melakukan kekafiran atau kesyirikan besar yang mengeluarkan mereka dari agama Islam secara keseluruhan, meskipun mereka melakukan ketaatan kepada Allah dengan ikhlas mengharapkan ganjaran pahala dari-Nya di negeri Akhirat, akan tetapi mereka pernah melakukan perbuatan (kufur atau syirik) yang mengeluarkan mereka dari agama Islam dan ini menjadikan semua amal perbuatan mereka tidak diterima (oleh Allah ). Bentuk ini juga disebutkan dalam penafsiran ayat ini dari Anas bin Malik dan selain beliau.

Lebih lanjut, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-'Utsaimin menyebutkan beberapa contoh keinginan duniawi dengan amal shaleh yaitu:

  • Orang yang menginginkan harta, misalnya orang yang melakukan adzan (di masjid) untuk mendapatkan upah/gaji (sebagai muadzdzin), atau orang yang berhaji untuk mendapatkan harta.
  • Orang yang menginginkan kedudukan, misalnya orang yang belajar untuk mendapatkan ijazah sehingga kedudukannya semakin tinggi.
  • Orang yang menginginkan hilangnya gangguan, penyakit dan keburukan dari dirinya, misalnya orang yang beribadah kepada Allah supaya Allah memberikan baginya balasan di dunia berupa kecintaan manusia kepadanya (sehingga mereka tidak menyakitinya), dihilangkan keburukan dari dirinya, dan lain-lain.
  • Orang yang beribadah kepada Allah dengan tujuan untuk memalingkan wajah manusia kepadanya (menjadikan mereka kagum kepadanya) dengan mencintai dan menghormatinya. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain. (al-Qaulul mufiid 'ala kitaabit tauhiid, 2/243).

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua yang membacanya dan menjadi sebab taufik dari Allah bagi kita untuk memurnikan tauhid dan penghambaan diri kepada-Nya serta penjagaan dari segala bentuk kesyirikan yang besar maupun kecil.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 12 Rabi'uts tsani 1434

Ustadz Abdullah bin Taslim, MA

Sumber: www.ManisnyaIman.com

Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.

Bolehkah Istri Menolak ketika Suami Minta Dipegang Kemaluannya?

Posted: 06 May 2013 04:08 PM PDT

Menolak Ajakan Suami

Pertanyaan:

Salam. Jika ada suami-istri, mereka berdua kerja, istri wanita karir; pergi gelap pulang gelap, jarang-jarang bisa bercengkrama lama dengan keluarga. Seringkali suami minta dipegang-pegang kemaluannya sebelum tidur. Kalau kondisi istri sudah capek, bolehkah dia nolak?

Sorry… pertanyaannya agak memalukan. Trim's jawabnnya..

Dari: Fulanah

Jawaban:

'Alaiki as-salam..

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

"Dalam hubungan badan yang kalian lakukan, nilainya sedekah."

Para sahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, apakah ketika kita melampiaskan syahwatnya, kita akan mendapatkan pahala?'

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menuturkan,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

"Bukankah ketika orang menyalurkan syahwatnya pada tempat yang haram, dia akan mendapat dosa? Maka demikian pula ketika dia salurkan pada yang halal, dia akan mendapat pahala." (HR. Muslim 1006).

Hadis ini memberikan pelajaran bagi para pasutri bahwa sejatinya semua upaya yang mereka lakukan untuk membahagiakan pasanganya di ranjang akan menghasilkan pahala baginya. Sekalipun semata dia niatkan murni untuk syahwat. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan alasan bahwa sebab dia mendapatkan pahala adalah karena dia meletakkan syahwat itu pada tempat yang dihalalkan syariat.

Abu Yusuf menceritakan,

سألت أبا حنيفة عن الرجل يمس فرج امرأته أو تمس هي فرجه ليتحرك عليه هل ترى بذلك بأسا؟

Saya pernah bertanya kepada guruku Imam Abu Hanifah, tentang suami yang memegang kemaluan istrinya atau istri memegang kemaluan suaminya agar bergerak (membangkitkan syahwat), apakah menurut Anda ini bermasalah?

Jawab Imam Abu Hanifah rahimahullah,

لا إني لأرجو أن يعظم الأجر

"Tidak masalah, bahkan saya berharap ini akan memperbesar pahalanya." (Tabyin al-Haqaiq, 16:367).

Beliau memahami, usaha suami untuk membahagiakan istrinya atau upaya istri untuk membahagiakan suaminya, bukan usaha sia-sia, karena semua tercatat sebagai pahala.

Istri Dilarang Menolak

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا المَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

"Apabila suami mengajak istrinya untuk berhubungan, lalu istri menolak dan suami marah kepadanya maka dia dilaknat para malaikat sampai subuh." (HR. Bukhari 3237 dan Muslim 1436).

Berdasarkan hadis ini, ulama melarang keras para wanita yang menolak ajakan suaminya dalam batas yang dibolehkan.

Imam Zakariya al-Anshari – seorang ulama madzhab Syafii – mengatakan,

ويحرم عليها أي على زوجته أو جاريته  منعه من استمتاع جائز بها تحريما مغلظا لمنعها حقه مع تضرر بدنه بذلك

Terlarang keras bagi istri untuk menolak ajakan suami untuk bercumbu dengannya dalam batas yang dibolehkan. Karena wanita ini menolak hak suami, sementara itu membahayakan badan suami. (Asnal Mathalib, 15:230)

Allahu a'lam

Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.

Sifat dan Adab Orang yang Meruqyah

Posted: 06 May 2013 02:32 AM PDT

Adab Orang yang Meruqyah

Pertanyaan:

Sifat-sifat dan adab-adab bagaimanakah yang seharusnya dilakukan oleh orang yang meruqyah?

Jawaban:

Bacaan ruqyah tidak akan berguna terhadap orang yang sakit kecuali dengan beberapa syarat:

Pertama: Pantasnya orang yang meruqyah adalah seorang yang baik, shalih, konsisten (istiqamah), memelihara shalat, ibadah, dizkir-dzikir, bacaan, amal-amal shalih, banyak melakukan kebaikan, jauh dari perbuatan maksiat, bid'ah, kemungkaran-kemungkaran, dosa-dosa besar dan kecil, berusaha selalu makan yang halal, khawatir dari harta yang haram, atau syubhat, karena sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

"Perbaikilah makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang doanya terkabul."

"Beliau menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh, (rambut) kusust berdebu, mengelurukan tangannya ke langit seraya (berkata), 'Wahai Rabbku, wahai Rabbku,' sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, diberi makanan dengan yang haram, maka bagaimana bisa dikabulkan karena hal itu."

Makanan yang halal termasuk di antara penyebab dikabulkan doa. Di antaranya lagi adalah tidak menentukan upah atas orang yang sakit, menjauhkan diri dari mengambil upah yang lebih dari kebutuhannya. Maka semua itu lebih mendukung kemanjuran ruqyahnya.

Kedua: Mengenal ruqyah-ruqyah yang dibolehkan berupa ayat-ayat Alquran seperti al-Fatihah, al-Mu'awwidzatain, dan akhirnya, ayat Kursi, akhir surat at-Taubah, permulaan surah Yunus, permulaan surah an-Nahl, akhir surah al-Isra, permulaan surah Thaha, akhir surah al-Mu'minun, permulaan surah ash-Shaffat, permulaan surah Ghafir, akhir surah al-Jatsiyah, akhir surah al-Hasyr. Dan di antara doa-doa Alquran yang disebutkan terdapat dalam al-Kalim ath-Thayyib dan seumpamanya, disertai meludah sedikit setelah membaca, dan mengulangi ayat tersebut sebagai tiga kali umpamanya, atau lebih banyak lagi.

Ketiga: Orang yang sakit adalah orang yang beriman, shalih, baik, takwa, konsisten (istiqamah) atas agama, jauh dari yang diharamkan, maksiat, sifat aniaya, karena firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian." (QS. Al-Isra: 82)

Dan firman-Nya,

"Katakanlah, 'Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Alquran itu suatu kegelapan bagi mereka." (QS. Fushshilat: 44)

Biasanya tidak begitu berpengaruh terhadap ahli maksiat, meninggalkan kewajiban, takabbur, sombong, melakukan isbal (menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki, pen.), mencukur jenggot, ketinggalan shalat dan menundanya, melalaikan ibadah dan seumpama yang demikian itu.

Keempat: Orang yang sakit meyakini bahwa Alquran adalah penawar, rahmat, dan obat yang berguna. Apabila ia ragu-ragu, maka hal itu tidak ada gunanya. Misalnya ia berkata, "Cobalah ruqyah. Jika bermanfaat, alhamdulillah dan jika tidak bermanfaat juga tidak apa-apa." Tetapi ia harus yakin dengan mantap bahwa ayat-ayat tersebut benar-benar bermanfaat dan sesungguhnya ayat-ayat itulah penawar yang sebenarnya, sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Maka, apabila syarat-syarat ini telah terpenuhi, niscaya bermanfaat dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Fatwa Syaikh Abdullah al-Jibrin yang beliau tanda tangani

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq Cetakan IV

Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.

Menyusui Dua Anak Sekaligus

Posted: 05 May 2013 11:48 PM PDT

Menyusui Dua Anak Sekaligus

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum

Dokter, saya punya 2 orang anak. Yang pertama 2,5 tahun dan yang kedua 2 bulan. Kedua-duanya saya beri ASI, sampai sekarang yang no 1 masih saya beri ASI. Saya udah beberapa kali berusaha menyapih yang no 1, tapi tidak berhasil. Apakah menyusui 2 anak sekaligus menghambat pertumbuhan salah satu dari anak? Yang kedua, apa hukumnya dalam Islam?

Jawaban:

Menyusui dua anak sekaligus disebut tandem breastfeeding atau tandem nursing.

Menyusui dua anak sekaligus tidak berbahaya dan tidak pula mengurangi jatah bagi bayi yang lebih kecil. Asalkan sang ibu memprhatikan asupan nutrisi yang lengkap dengan ditunjang suplemen multivitamin serta menjaga kebugaran tubuh dari stressor dan rasa lelah berlebih.

Anggapan bahwa jika menyususi dua bayi sekaligus akan mengurangi jatah bayi yang lebih kecil kurang tepat.  Karena produksi ASI sesuai kebutuhan dan  permintaan. Semakin tinggi permintaan atau semakin sering ibu menyusui  (puting payudara dirangsang dengan sedotan mulut bayi), maka semakin banyak pengeluaran hormon prolaktin yang keluar. Hormon ini berfungsi merangsang payudara untuk terus memproduksi ASI. Isnya Allah jumlah ASI akan cukup untuk dua bayi bahkan lebih

Bahkan tandem breastfeeding memiliki beberapa keuntungan:

1. Mendekatkan hubungan kakak-adik

Karena sama-sama menyusui dan dekat dengan ibu, berbeda jika salah satu lebih sering dempet dan dekat dengan ibu, maka satunya bisa menimbulkan rasa iri atau dinomorduakan

2. Nutrisi lebih untuk kakak

Karena awal-awal setelah melahirkan, colostrum (penting untuk daya tahan tubuh) dan zat penting lainnya banyak diproduksi dan sang kakak ikut mendapatkannya.

3. Mengurangi masalah bendungan payudara

Jumlah ASI yang berlimpah awal-awal bisa menyebabkan bendungan payudara. Dengan bantuan sang kakak maka masalah ini bisa teratasi

Untuk  kerugiannya akan menguras tenaga dan waktu yang berlebih sehingga sang ibu harus pandai membagi waktu untuk beristirahat serta cakupan gizi yang sesuai dan cukup.

Adapun hukumnya dalam Islam mengenai menyusui dua sekaligus, maka hukumnya Boleh karena tidak ada bahaya yang ditimbulkan. Karena ini adalah perkara dunia, maka perkara dunia hukum asalnya mubah/boleh sebagaimana kaidah fiqh

الأصل في الأشياء الإباحة

"hukum asal urusan dunia adalah mubah/boleh"

Adapun mengenai anak yang menyusui lebih dari dua tahun  (anak anda 2,5 tahun) maka hukumnya tidak mengapa/mubah. Untuk selengkapnya silahkan baca:

konsultasisyariah.com: Hukum Menyusui Anak Lebih dari 2 Tahun

Bolehkah Menyusui Lebih Dari Dua Tahun? (Syariat Dan Medis)

Dijawab oleh: dr. Raehanul Bahraen (Alumni Fakultas Kedokteran UGM, sedang menempuh spesialis patologi klinik di Fakultas Kedokteran UGM)

Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting. Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar