Sabtu, 22 September 2012

KonsultasiSyariah: Riba Koperasi Simpan Pinjam

KonsultasiSyariah: Riba Koperasi Simpan Pinjam


Riba Koperasi Simpan Pinjam

Posted: 21 Sep 2012 06:45 PM PDT

Bunga Di Koperasi Simpan Pinjam

Pertanyaan

Saya berkerja di sebuah koperasi yang salah satu usahanya adalah simpan pinjam uang, namun dalam meminjamkan uang itu ada jasa/bunga bagi anggota yang meminjam.

Apakah itu juga termasuk riba? Sebaiknya saya berhenti atau bagaimana baiknya?

Terima kasih.

Dari: Khairuddin

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du

Koperasi simpan pinjam yang berjalan di tempat kita, masih menerapkan transaksi riba. Karena setiap anggota yang meminjam, dipersyaratkan memberikan bunga beberapa persen dari nilai pinjamannya meskipun sangat kecil. Dan itu 100% riba, tanpa ragu.

Karena setiap transaksi utang piutang, yang sejatinya adalah transaksi sosial, sama sekali tidak boleh diubah menjadi transaksi komersial.

Fudhalah bin Ubaid radhiallahu 'anhu, bahwa beliau mengatakan,

كل قرض جر منفعة فهو ربا

"Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba."

Keterangan sahabat ini menjadi kaidah sangat penting dalam memahami riba. Setiap keuntungan yang didapatkan dari transaksi utang piutang, statusnya riba. Keuntungan yang dimaksud mencakup semua bentuk keuntungan, bahkan sampai bentuk keuntungan pelayanan. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu,

إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله

"Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya." (HR. Ibnu Majah; hadits ini memiliki beberapa penguat)

Dalam riwayat yang lain, dari Abdullah bin Sallam, bahwa beliau mengatakan,

"Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba." (HR. Bukhari)

Demikian nasihat sahabat, yang menunjukkan semangat mereka dalam menghindari riba.

Kami yakin, mungkin diantara kita ada yang menyanggah: Mana ada koperasi yang bersedia memberi utang tanpa keuntungan?

Memang ini bisa jadi sangat memberatkan. Karena itu, jika belum siap dengan konsekuensi ini, sebaiknya tidak memberanikan diri untuk memberikan pinjaman.

Secara perhitungan kasar, ini bisa jadi sangat membantu ekonomi anggota. Dari pada dia menjadi mangsa “Bank Plecit” (bank rentenir – dan semua bank rentenir), lebih baik keuntungan untuk bersama. Terbukti banyak koperasi jaya, karena simpan pinjam.

Itulah perhitungan manusia. Standar sukses hanya ada pada yang nampak di hadapannya. Tentang konsekuensinya, itu urusan belakangan. Tapi tidak demikian menurut mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Anda bisa renungkan hadis berikut:

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ما أحد أكثر من الربا إلا كان عاقبة أمره إلى قلة

Tidak ada seorang pun yang memperbanyak harta dari riba, kecuali urusannya akan berujung pada kemiskinan.” (HR. Ibn Majah dan dinilai shahih oleh al-Albani).

Bukankah ini ancaman yang sangat menakutkan. Mereka yang saat ini bekerja di dunia riba, bisa jadi sekarang bisa tersenyum dan tertawa. Bergembira menghabiskan jatah rezekinya. Untuk masa penantian menuju ancaman kehancuran dunia dan akhiratnya. Karena itu, bagi Anda yang bekerja di koperasi simpan pinjam, ada dua opsi: bebaskan bunga peminjam atau resign.

Solusi yang Bisa Ditawarkan

Koperasi merupakan wujud dari respon kebersamaan anggota. Kita berharap bisa menjadi salah satu alternatif solusi bagi ekonomi umat. Cukup buang jauh-jauh sistem simpan pinjam yang menodai kehalalan koperasi. Selanjutnya anggota bisa berkreasi untuk melakukan model usaha yang lain. Semacam berjualan atau bisnis lainnya. Selanjutnya, SHU (Sisa Hasil Usaha) bisa dijadikan tembolok, untuk melayani anggota yang membutuhkan pinjaman TANPA BUNGA. Insya Allah, bisa menjadi koperasi yang berkah.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Kesehatan: Menyembuhkan Darah Tinggi

Posted: 21 Sep 2012 02:16 AM PDT

Paman Terkena Darah Tinggi

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dokter, paman saya berusia 61 tahun. Dia terkena penyakit darah tinggi. Herbal apa yang cocok buat paman saya?

Sebelumnya terima kasih.

Dari: Taufiq

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Terima kasih atas pertanyaan yang Saudara berikan.

Tingginya tekanan darah pada usia lanjut perlu ditangani dengan pembatasan garam natrium dengan ketat, khususnya pada makanan sehari-hari, bisa diganti dengan garam kalium.

Jika Saudara menanyakan herbal yang cocok, kami tidak bisa menyatakan dengan mutlak, sebab kami tidak mengetahui detil kondisi Paman Saudara. Namun yang dapat kami sarankan dikonsumsi adalah habbatussauda’ atau jinten hitam, yang minyak menurut kami lebih baik, dan bunga rosela. Bunga rosela yang dibuat menjadi semacam teh, baik segar maupun kering, bersifat meluruhkan air seni secara alami, dan kandungan vitamin C nya baik untuk elastisitas pembuluh darah. Jangan lupakan bawang putih dan seledri dalam masakan harian beliau, karena khasiat penurunan tekanan darah yang juga dimiliki keduanya.

Semoga ada manfaatnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dijawab oleh dr. Hafid N (Pengasuh Rubrik Kesehatan KonsultasiSyariah.com)

Rubrik Kesehatan: Tidak Pernah Mengalami Haid

Posted: 20 Sep 2012 09:18 PM PDT

Selama Menikah Tidak Pernah Haid, Bisakah Saya Punya Keturunan?

Pertanyaan:
Assalammu'alaikum

Saya sudah menikah, umur saya 33 tahun dan saya belum memiliki seorang anak. Sejak remaja saya tidak mengalami menstruasi. Saya sudah periksa ke dokter, tetapi dokter tidak memberikan keterangan yang sedetil-detilnya.

Apa saya bisa punya keturunan? Apa ini penyakit? Dan adakah obatnya?

Dari: Pipit

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Terima kasih atas pertanyaan yang Saudari berikan kepada tim kami.

Apabila hingga remaja sampai saat ini sama sekali tidak pernah mengalami menstruasi, maka kondisi Saudari dalam dunia medis dikenal dengan amenorrhea primer. Kondisi ini tidak normal, dan berkorelasi erat dengan kesuburan Saudari.

Amenorrhea primer di antaranya dapat disebabkan oleh:

- Gangguan pada kelenjar hipotalamus: misalnya secara fungsional karena stress, anorexia, dsb, dan non fungsional misalnya akibat operasi.

- Gangguan pada hipofisis: misalnya prolactinoma.

- Gangguan pada ovarium: sindrom ovarium polikistik, sindrom Turner, kegagalan ovarium prematur, dan lain sebagainya.

- Gangguan pada rahim dan jalur reproduksi: organ genital tidak berkembang, hymen imperforata, dsb.

- Gangguan sistem tubuh lainnya seperti sistem endokrin maupun tumor lain yang mempengaruhi organ-organ reproduksi.

Untuk mengetahui kemungkinan untuk memiliki keturunan, pengobatan serta caranya, kami anjurkan Saudari untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada dokter spesialis kebidanan dan kandungan, khususnya subspesialis reproduksi, agar lebih akurat, insya Allah. Sebab deteksi penyebab amenorrhea memerlukan beberapa jenis pemeriksaan khusus, seperti kadar hormon prolaktin, FSH (Follicle stimulating hormone, hormon yang mengatur pertumbuhan folikel sel telur), LH (Luteinizing Hormone), USG Pelvis, pemeriksaan kromosom, dan lai sebagainya. Dan untuk menentukan pemeriksaan mana yang diperlukan, harus dinilai oleh ahlinya.

Hendaknya Saudari tidak segan untuk aktif bertanya kepada dokter yang bersangkutan. sebab hal tersebut adalah hak Saudari sebagai pasien, dan teruslah berdoa kepada Allah Ta’ala agar disembuhkan dan dikaruniai keturunan yang sholih dan berbakti kepada kedua orangtuanya.

Semoga ada manfaatnya

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dijawab oleh dr. Hafid N (Pengasuh Rubrik Kesehatan KonsultasiSyariah.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar