Selasa, 02 September 2014

KonsultasiSyariah: Salah Arah Kiblat ketika Shalat, Haruskah Diulangi?

KonsultasiSyariah: Salah Arah Kiblat ketika Shalat, Haruskah Diulangi?


Salah Arah Kiblat ketika Shalat, Haruskah Diulangi?

Posted: 01 Sep 2014 06:42 PM PDT

Salah Arah Kiblat ketika Shalat

Assalamualikum Warahmatullaahi wabarakaatuh,

Yth Ustadz, saya shalat jama’ akhir qashar Dzuhur dgn Ashar pd wkt ashar krn sedang berada di luar kota pd 5 Agustus 2014 yll. Tapi shalat saya salah arah kiblat yaitu menghadap ke timur. Sblm shalat, saya merasa yakin sekali arah kiblat tsb benar, krn pernah menginap di hotel yg sama seblm nya hanya berbeda kamarnya. Sebab itulah sy tidak bertanya arah kiblat kpd pihak hotel sblm shalat.
Kesalahan arah kiblat tsb baru saya ketahui besoknya tgl 6 Agustus 2014, setlh saya pindah kamar di lantai yg sama. Kamar tsb  di depan kmr saya semula.  Disitu ada petunjuk arah kiblat. Baru saya sadar, bhw shalat saya di kmr seblm nya ternyata “salah arah kiblat” nya.
Pertanyaan saya, sah kah shalat sy tsb ? Krn baru diketahui esoknya.
Sebagai informasi lebih lanjut, shalat yg salah tsb selain jama’qashar (dzuhur dg ashar), jg shalat maghrib dan tahajud/witir esok pagi nya. Mohon penjelasan ustadz, apa yg hrs saya lakukan utk menebus kesalahan tsb. Krn saya khawatir menjadi dosa meninggalkan 3 shalat wajib.

Syukron, Jazakumullaahu khoir.

Dudy- Ciputat. via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

ًWa ‘alaikumus salam Warahmatullaahi wabarakaatuh

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Para ulama menegaskan bahwa menghadap kiblat termasuk syarat sah shalat. Allah berfirman,

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

Dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya (QS. al-Baqarah: 150).

Oleh karena itu, orang yang tidak mengetahui arah kiblat maka wajib berusaha untuk mencari tahu arah kiblat. Hal ini bisa dilakukan dengan bebecara cara:

  1. Bertanya kepada penduduk setempat atau orang yang tahu.
  2. Jika tidak mungkin untuk bertanya maka bisa menggunakan tanda-tanda alam. Seperti sinar matahari, arah angin, dsb.

Dan jika dua cara di atas tidak memungkinkan maka shalat menghadap ke arah manapun berdasarkan dugaan kuat bahwasanya arah itu adalah kiblat.

Jika ternyata arah yang dia pilih itu salah, artinya tidak menghadap kiblat – padahal dia telah berusaha mencari arah kiblat semampunya – apakah shalatnya harus diulangi?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini,

Pertama, shalatnya wajib diulangi secara mutlak. Ini pendapat madzhab Syafiiyah.

Pada pembahasan tentang aturan menghadap kiblat ketika shalat, An-Nawawi mengatakan,

وَمَنْ صَلَّى بِالِاجْتِهَادِ فَتَيَقَّنَ الْخَطَأَ قَضَى فِي الْأَظْهَرِ، فَلَوْ تَيَقَّنَهُ فِيهَا وَجَبَ اسْتِئْنَافُهَا

Orang yang shalat (ke arah kiblat) berdasarkan ijtihad, kemudian dia tahu ternyata itu salah, maka dia wajib mengqadha, menurut pendapat yang kuat. Dan ketika dia tahu kesalahannya di tengah shalat, wajib mengulangi dari awal. (al-Minhaj, hlm. 24).

Kedua, shalatnya sah dan tidak perlu diulangi. Ini pendapat madzhab Hanafi dan salah satu pendapat dalam madzhab hambali.

Dalam kitab al-Ikhtiyar – kitab madzhab hanafi – dinyatakan,

وإن اشتبهت عليه القبلة وليس له من يسأله اجتهد وصلى ولا يعيد وإن أخطأ، فإن علم بالخطأ وهو في الصلاة استدار وبنى، وإن صلى بغير اجتهاد فأخطأ أعاد

Jika ada orang tidak tahu arah kiblat dan tidak ada seorangpun yang bisa ditanya, maka dia bisa berijtihad (dalam menentukan kiblat), dan shalatnya tidak perlu diulang, meskipun arah kiblatnya salah. Jika dia tahu kesalahan arah kiblat di tengah shalat, maka dia langsung berputar (ke arah yang benar) dan melanjutkan shalatnya. Dan jika dia shalat tanpa berusaha mencari arah kiblat yang benar, lalu ternyata salah, maka wajib mengulangi shalatnya. (al-Ikhtiyar li Ta'lil al-Mukhtar, hlm. 4).

Ketiga, dibedakan antara kondisi safar dan mukim. Ini pendapat sebagian ulama Hambali.

Al-Mardawi mengatakan,

الصحيح من المذهب أن البصير إذا صلى في الحضر فأخطأ عليه الإعادة مطلقا وعليه الأصحاب، وعنه لا يعيد إذا كان عن اجتهاد، احتج أحمد بقضية أهل قباء

Pendapat yang kuat dalam madzhab hambali, bahwa orang yang bisa melihat, ketika dia shalat dalam keadaan mukim, kemudian salah kiblatnya, maka dia wajib mengulang shalatnya secara mutlak. Dan inilah pendapat yang dipegangi para ulama madzhab. Dan ada riwayat dari Imam Ahmad bahwa dia tidak perlu mengulangi shalat, jika dia salah setelah berijtihad (berusaha mencarinya). Imam Ahmad berdalil dengan kejadian shalat di masjid Quba. (al-Inshaf, 2/15).

InsyaaAllah pendapat yang lebih kuat adalah pendapat hanafiyah dan Imam Ahmad, bahwa dia tidak perlu mengulangi shalatnya, jika sebelumnya dia telah berijtihad, dengan berusaha mencari arah kiblat.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma menceritakan:

Kami pernah dalam suatu perjalanan, tiba-tiba kami diliputi awan gelap. Kemudian masing-masing memilih arah kiblat dan arah kiblat kami berbeda-beda. Seseorang di antara kami membuat garis di depannya supaya tahu ke arah mana ketika shalat. Ketika di pagi hari, kami melihat garis yang dibuat semalam. Ternyata kami shalat tidak menghadap kiblat. Kejadian ini kami sampaikan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam [tetapi beliau tidak menyuruh kami mengulangi shalat]. Beliau bersabda: "Shalat kalian sudah benar." (HR. Daruqutni 101 & dishahihkan Al Albani).

Dalam hadis lain, dari Amir bin Rabi'ah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ، فَلَمْ نَدْرِ أَيْنَ القِبْلَةُ، فَصَلَّى كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا عَلَى حِيَالِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحْنَا ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَ: ” {فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ}

Kami pernah safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memasuki malam yang gelap. Kami tidak tahu, di mana arah kiblat. Akhirnya masing-masing kami shalat sesuai arah keyakinannya. Ketika pagi hari, kami ceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu turun firman Allah,

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

Kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah (QS. Al-Baqarah: 115)

(HR. Turmudzi 345 dan dihasankan al-Albani).

Harus Bertanya…

Bagi musafir, selama dia tidak yakin dengan arah kiblat dan memungkinkan baginya untuk mengetahui arah kiblat dengan bertanya, namun dia tidak mau bertanya, sehingga shalatnya tidak menghadap kiblat maka shalatnya batal dan harus diulangi.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

يحب على من تزل على شخص ضيفاً، وأراد أن يتنفل أن يسأل عن القبلة فإذا أخبره اتجه إليها، لأن بعض الناس تأخذه العزة بالإثم ومنعه الحياء وهو في غير محله عن السؤال عن القبلة، بل أسال عن القبلة حتى يخبرك صاحب البيت.
أحياناً بعض الناس تأخذه العزة بالإثم ويتجه بناء على ظنه إلى جهة ما، ويتبين أنها ليست القبلة، وفي هذه الحال يجب عليه أن يعيد الصلاة، لأنه استند إلى غير مستند شرعي، والمستند إلى غير مستند شرعي لا تقبل عبادته لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد”. أخرجه مسلم.

Wajib bagi orang yang bertamu di rumah seseorang, dan dia hendak shalat sunah, hendaknya dia bertanya tentang arah kiblat. Jika tuan rumah memberi tahu, dia bisa shalat ke arah yang disarankan. Karena ada sebagian orang yang gengsi atau malu – dan ini malu yang tidak tepat, sehingga tidak mau bertanya tentang kiblat. Seharusnya dia bertanya arah kiblat, sehingga pemilik rumah memberi tahu.

Terkadang ada orang yang gengsi, lalu dia shalat ke arah sesuai dugaannya, kemudian dia diberi tahu bahwa itu bukan arah kiblat, dalam kondisi ini, dia wajib mengulangi shalatnya. Karena dia bersandar kepada dasar yang tidak diterima secara syariat. Dan orang yang bersandar kepada dasar yang tidak diterima secara syariat maka ibadahnya tidak diterima. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 'Siapa yang melakukan amalan, tidak ada dasarnya dari kami, maka amal itu tertolak.' (HR. Muslim).

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/11334/ هل-استقبال-القبلة-من-شروط-صحة-الصلاة

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Hasil Testpack Hamil Anggur

Posted: 31 Aug 2014 11:33 PM PDT

Apakah Hamil anggur hasil testpacknya seperti hamil benaran?

Pertanyaan:

Saya seorang ibu rumah tangga 22 tahun saya menikah sudah 1 tahun. Namun bulan ini saya telat 10 hari tapi saat testpack hasilnya negatif. Saya mencoba minum jamu agar saya haid,namun sampai sekarang saya belum haid juga. Tapi badan selalu terasa pegal seperti mau haid. Saya merasa takut dan khawatir. Saya juga mau bertanya apakah hamil anggur ketika ditestpack terlihat hasilnya seperti hasil kehamilan pada umumnya???

Jawaban:

Baru telat haid sepuluh hari bisa jadi hasil test tetap negatif walaupun dalam kondisi hamil dan sudah terjadi pembuahan. Mungkin faktor alat yang salah mendeteksi atau faktor lainnya. Memang beberapa referensi menyetakan bahwa testpack baru bisa dilakukan ketika telat bulan 2 hari dari jadwal yang biasanya.

Telat haid dan hasil tes negatif juga bisa jadi karena anda mungkin mengalami terlambat haid. Artinya masa siklus haid bisa jadi memanjang. Perubahan ini disebabkan karena ketidakseimbangan hormon. Hormon yang tidak seimbang bisa karena:

  1. Stress dan depresi
  2. Kelelahan dan terlalu banyak aktifitas fisik
  3. Memakai KB hormon dan ini adalah salah satu efek sampingnya
  4. Meminum obat yang menganggu aktifitas hormon
  5. Dan lain-lainnya

Hamil anggur atau mola hidatinosa sangat mirip gejalanya dengan hamil. Hasil testpack juga positif, bahkan gejala yang lain sebagaimana kehamilan juga muncul, seperti mual, muntah serta perubahan mood dan emosi. Akan tetapi bisa dibedakan dengan pemeriksaan USG, pada USG hanya nampak gelembung- gelembung atau bola- bola kecil putih yang terlihat seperti rentetan buah anggur. Tidak terlihat janin. kadar HCL juga lebih tinggi dari hamil yang normal.

Saran kami bisa periksa test minggu depan atau periksa ke dokter untuk USG.

Dijawab oleh dr. Raehanul Bahraen (pengasuh kesehatan www.konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Blog Bintang Bicara tentang apapun

Blog Bintang Bicara tentang apapun


[BERITA PANAS] PNS Bugil Kota Bandung

Posted: 01 Sep 2014 11:59 AM PDT

Beredarnya foto bugil dan video mesum porno yang mengenakan baju seragam dari pemkot bandung, ternyata adalah palsu! Walaupun masyarakat mencari link download nya.  Karena yang sebenarnya terjadi. Si wanita itu  juga mengungkapkan dirinya bukan PNS. Ia menggunakan seragam PNS untuk keperluan manggung. Padahal walikota bandung sudah dibuat geger dan dag dig dug akan perbuatan salah satu […]

Senin, 01 September 2014

KonsultasiSyariah: Hukum Memakai Pacar atau Hena

KonsultasiSyariah: Hukum Memakai Pacar atau Hena


Hukum Memakai Pacar atau Hena

Posted: 31 Aug 2014 07:01 PM PDT

Memakai Pacar atau Hena

Assalamualaikum Sekarang ini banyak wanita yang memakai hena, baik di kuku maupun tangannya. Lalu bagaimana hukumnya? Padahal mungkin hena menghalangi meresapnya air ke kulit ketika berwudlu. Lalu apa yang boleh dipakai untuk menghias kuku?

UL

Jawaban:

Wa’alaikumus salam 

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Pertama, memakai pacar atau hena, termasuk perkara mubah. Karena tradisi semacam ini telah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara dalilnya,

Hadis dari A'isyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

Ada seorang wanita menjulurkan tangannya dibalik tabir, menyerahkan sebuah surat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tangan beliau sendiri (tidak mengambil suratnya). Hingga wanita itu bertanya,

"Ya Rasulullah, aku ulurkan tanganku untuk menyerahkan surat, mengapa anda tidak mengambilnya."

Lalu beliau mengatakan, "Sungguh aku tidak tahu, apakah ini tangan wanita ataukah laki-laki."

"Ini tangan wanita." jawab orang itu.

Lalu beliau bersabda,

لَوْ كُنْتِ امْرَأَةً لَغَيَّرْتِ أَظْفَارَكِ بِالْحِنَّاءِ

"Jika kamu seorang wanita, seharusnya kamu ubah kukumu dengan hena." (HR. Nasai 5089, Abu Daud 4166 dan dihasankan al-Albani)

Hadis berikutnya dari Ibn Dhamrah bin Said, dari neneknya, dari seorang wanita diantara mereka. Wanita ini pernah melakukan shalat di dua arah kiblat (masjidil aqsa dan masjidil haram) di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku, lelau beliau berpesan,

اخْتَضِبِي، تَتْرُكُ إِحْدَاكُنَّ الْخِضَابَ حَتَّى تَكُونَ يَدُهَا كَيَدِ الرَّجُلِ

Pakailah pacar, diantara kalian ada yang tidak memakai pacar sehingga tanganya seperti tangan laki-laki.

Sejak saat itu, wanita itu tidak pernah meninggalkan memakai pacar, hingga wafat'.

Hanya saja, hadis ini dinilai dhaif oleh Syuaib al-Arnauth.

Al-Mula Ali Qori mengatakan,

أي يريد النبي تغييرها بالحناء إما لكونه أفضل أو لكونه المعتاد المتعارف

Maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan untuk mengubah tangannya dengan hena. Bisa jadi karena itu lebih afdhal, atau karena itu kebiasaan yang makruf (di kalangan wanita).

Kedua, hena atau pacar tangan, termasuk perhiasan yang bisa menarik perhatian lawan jenis. Karena itu, para wanita yang memakai hena atau pacar di tangan, hendaknya menutupinya dan tidak ditampakkan kepada lelaki yang bukan mahram. Berdasarkan kandungan makna firman Allah,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan mereka harus menutupkan kain kudung kedadanya, danjanganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka … (QS. An-Nur: 31)

Makna 'janganlah menampakkan perhiasannya' semua yang menarik perhatian lawan jenis, termasuk tangannya yang diberi hena. Karena itu, yang lebih tepat, hena digunakan untuk berhias diri di depan suami.

Sementara yang belum menikah, sebaiknya tidak menggunakan pacar, terlebih jika itu ditampakkan sehingga mengundang perhatian orang.

Ketiga, terdapat riwayat bahwa Umar bin Khatab melarang membuat pola ukiran pacar di tangan atau memakai hena hanya di kuku.

Dari Abul Ala' bin Abdillah bin Syikhir bahwa ada seorang wanita yang pernah mendengar ceramah Umar,

يا معشر النساء إذا اختضبتن فإياكن النقش والتطريف ولتخضب إحداكن يديها إلى هذا وأشار إلى موضع السوار

Wahai para wanita, gunakanlah pacar, namun hindari pola ukiran dan pacaran hanya di ujung kuku. Hendaknya kalian memakai pacar di tangannya sampai sini. Kemudian beliau berisyarat sampai ke tempat gelang. (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf).

Namun, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa atsar (riwayat sahabat) ini tidaklah menunjukkan larangan memakai pacar di ujung kuku. Berdasarkan hadis dari A'isyah di atas. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan wanita memakai hena di kuku.

Dan riwayat Umar dipahami sesuai konteks kejadian, bahwa ketika itu sedang ihram. Sehingga beliau menganjurkan agar wanita menutupi tangannya dengan hena. Jika hanya di ujung kuku atau pola ukiran, tidak bisa menutupi tangan.

Atau karena beliau khawatir, hena pola ukiran dan di ujung kuku akan menimbulkan fitnah, sementara ketika ihram para wanita tidak boleh memakai sarung tangan. (Talkhis al-Habir, 2/237).

Karena itu, sebatas ukiran dan memakai pacar di ujung kuku, tidak terlarang menurut sebagian ulama.

Keempat, apakah memakai hena menyebabkan wudhunya batal

Jawab, hena atau pacar yang meresap di balik kulit, tidak menutupi permukaan kulit, dan tidak menghalangi air untuk mengenai permukaan kulit. Hena semacam ini tidak menghalangi keabsahan wudhu.

Berbeda dengan cat, yang tidak bisa meresap ke dalam kulit, sehingga menutupi permukaan kulit. Ini bisa menghalangi air mengenai permukaan kulit.

Keterangan selengkapnya, bisa dipelajari di: Hukum Tinta Pemilu untuk Wudhu

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Sabtu, 30 Agustus 2014

KonsultasiSyariah: Cairan Infus Buat Cuci Muka

KonsultasiSyariah: Cairan Infus Buat Cuci Muka


Cairan Infus Buat Cuci Muka

Posted: 29 Aug 2014 12:02 AM PDT

Cairan infus untuk membersihkan muka?

Pertanyaan:

Assalamualikum dokter……….
Dokter saya mau nanya apa benar cairan infus bisa buat membersihkan muka dan katanya muka akan jadi bersih, kalo emang iya cairan infus jenis apa yang bisa buat bersihin muka????
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih dokter
Wassalamualaikum …

Jawaban:

Wa'laikumussalam

Cairan infus bermacam-macam jenis dan kegunaannya, misalnya infus NaCl, Ringer Laktat, infus glukosa dan yang lainnya. Perlu diketahui cairan infus tidak dibuat atau diproduksi untuk membersihkan muka, sehingga kami tidak menyarankan membersihkan muka secara rutin dengan tipe atu jenis infus apapun. Bahkan jika salah memakai jenis infus, muka bisa bermasalah karena ada macam infus dengan glukosa tinggi atau kandungan garan yang tinggi atau PH yang tidak sesuai dengan muka.

Mungkin yang dimaksud adalah infus untuk membersihkan adalah infus NaCl. Memang infus NaCl sering digunakan untuk membersikan luka dan termasuk salah satu jenis infus yang kandungannya paling mirip dengan cairan tubuh sehingga sering digunakan untuk terapi pengganti kehilangan cairan tubuh. Akan tetapi sekali lagi cairan infus tidak dibuat untuk membersihkan muka dan juga masih banyak produk-produk lainnya yang lebih aman dan sudah terbukti untuk membersihkan muka.

Dijawab oleh: dr. Raehanul Bahraen (pengasuh rubrik kesehatan konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Jumat, 29 Agustus 2014

KonsultasiSyariah: Benarkah Fatimah tidak Mengalami Haid?

KonsultasiSyariah: Benarkah Fatimah tidak Mengalami Haid?


Benarkah Fatimah tidak Mengalami Haid?

Posted: 28 Aug 2014 07:33 PM PDT

Fatimah Wanita yang tidak Mengalami Haid

Assalamu’alaikum, afwan out of topic.

Apakah benar Fatimah binti Muhammad tak pernah haidh seperti yang dikatakan media dakwah seperti dibawah ini,

“Taukah Anda siapa Wanita didunia ini yang tidak pernah mengalami Haid..??
Jawabnya adalah Siti Fatimah Az-Zahra Binti Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam bin Abdullah bin Abdul Muthalib…
Istri dari Sayidina `Ali Bin Abu Thalib
Ibu dari Sayidina Hasan & Husain..
Keistimewaan ini menjadikan Rasulullah memberikan gelar khusus kepada Fatimah, yaitu "Al-Batul" salah satu maknanya adalah "ORANG SUCI".
Aisyah berkata bahwa Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wasallam bersabda:
"Ketika aku dalam perjalankan ke langit, aku dimasukkan ke syurga, lalu berhenti di sebuah pohon dari pohon-pohon syurga. Aku tidak melihat yang lebih indah dari pohon yang satu itu, daunnya paling putih, buahnya paling harum. Kemudian, aku mendapatkan buahnya, lalu aku makan. Buah itu menjadi nuthfah di sulbi-ku. Setelah aku sampai di bumi, aku berhubungan dengan Khadijah, kemudian ia mengandung Fatimah. Setelah itu, setiap aku rindu aroma surga, aku menciumi Fatimah."
(Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang surat Al-Isra': 1; Mustadrak Ash-Shahihayn 3: 156)”

Dari Zia Ulhaq

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Bagian dari kodrat wanita adalah mengalami haid. Wanita di dunia dianggap normal, ketika dia mengalami haid. Ketika A'isyah ikut berangkat haji wada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengalami haid. Hal inipun membuat A'isyah bersedih, hingga beliau menangis. Sang suami yang penyayang menenangkannya,

'Kamu kenapa? Apa kamu haid?' tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

'Ya.' Jawab A'isyah.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ

Sesungguhnya haid adalah perkara yang telah Allah tetapkan untuk putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, hanya saja kamu tidak boleh thawaf di Ka'bah. (HR. Bukhari 294dan Muslim 1211)

Oleh karena itu, ketika ada berita bahwa ada salah satu wanita keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak mengalami haid, yang disampaikan dalam rangka menunjukkan keutamaannya, selayaknya tidak langsung kita terima, namun kita periksa keabsahan berita itu. Karena kondisi ini menyalahi kodratnya wanita.

Apakah Fatimah tidak Mengalami Haid

Ada beberapa riwayat yang menyebutkan keutamaan Fatimah radhiyallahu ‘anha, yang menjelaskan bahwa beliau tidak mengalami haid.

Diantaranya hadis,

ابنتى فاطمة حوراء آدمية لم تحض ولم تطمث وإنما سماها الله تعالى فاطمة لأن الله تعالى فطمها ومحبيها عن النار

Putriku Fatimah manusia bidadari. Tidak pernah haid dan nifas. Allah menamainya Fatimah, karena Allah menyapihnya dan menjauhkannya dari neraka.

Hadis ini disebutkan al-Kinani dalam karyanya Tanzih as-Syariah, dan beliau menilainya hadis dhaif. Beliau mengatakan,

ليس بثابت وفيه غير واحد من المجهولين

Hadis ini tidak shahih. Dalam sanadnya terdapat beberapa perawi yang majhul (tak dikenal). (Tanzih as-Syariah, 1/412).

Dalam riwayat lain, dari Asma' bintu Umais, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 'Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihat fatimah mengalami haid atau nifas.' Kemudian beliau bersabda,

أما علمت أن ابنتى طاهرة مطهرة فلا يرى لها دم فى طمث ولا ولادة

Tahukah kamu, putriku adalah wanita suci yang disucikan. Tidak ada darah ketika haid maupun ketika melahirkan.

Riwayat ini juga disebutkan al-Kinani, dan beliau mendhaidkannya. Beliau mengatakan,

أورده المحب الطبرى فى ذخائر العقبى وهو باطل أيضا فإنه من رواية داود بن سليمان الغازى

Disebutkan oleh al-Muhib at-Thabari dalam kitab Dzakhair al-Uqba, dan ini juga hadis bathil, karena dari riwayat Daud bin Sulaiman al-Ghazi.

Keterangan yang sama juga disampaikan al-Munawi, beliau berkomentar

لكن الحديثان المذكوران رواهما الحاكم وابن عساكر عن أم سليم زوج أبي طلحة. وهما موضوعان كما جزم به ابن الجوزى، وأقره على ذلك جمع منهم: الجلال السيوطي مع شدة عليه

Akan tetapi dua hadis yang disebutkan, yang diriwayatkan oleh Hakim dan Ibnu Asakir dari Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah. Dan dua hadis itu palsu, sebagaimana yang ditegaskan Ibnul Jauzi, dan disetujui oleh beberapa ulama, diantaranya as-Suyuthi, dengan komentar yang sangat keras untuk hadis itu. (Ittihaf as-Sail, hlm. 12).

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Menahan Kentut Ketika Hamil

Posted: 28 Aug 2014 01:40 AM PDT

Adakah efek menahan kentuk ketika hamil?

Assalamu alaikum,
Apa efek menahan kentut ketika hamil?
Apakah berpengaruh terhadap kesehatan janin?

Jawaban:

Wa'alaikumussalam,

Secara umum menahan kentut tidak berbahaya, akan tetapi bisa membuat perasaan tidak nyaman karena kentut adalah akumulasi dari gas hasil metabolisme.

Begitu juga ketika hamil, yang perlu diketahui bahwa memang kehamilan menyebabkan beberapa wanita sering kentut. Penyebabnya adalah perubahan hormon menyebabkan proses pencernaan menjadi melambat. hormon relaksin dan progesteron meningkat jumlahnya sehingga terjadinya relaksasi otot-otot tubuh dan otot saluran pencernaan. Makanan menjadi melambat dan akhirnya menimbulkan gas, tidak jarang juga menimbulkan perasaan mulas dan kembung. Memilih makanan yang lebih kecil yang tidak membebani sistem pencernaan.

Menahan kentut tidak berbahaya bagi janin, memang wanita merasa malu untuk membuang gas (kentut) di depan umum. Akan tetapi ia bisa mencari cara agar bisa membuang gas, misalnya pergi keluar atau mencari tempat sepi. Jika masih sering juga,bisa diatur dengan mengontrol makanan. Kurangi makanan yang bisa menghasilkan gas lebih banyak misalnya minuman berkarbonasi, gorengan,buncis, brokoli, kembang kol dan kacang-kacangan.

Dijawab oleh: dr. Raehanul Bahraen (Pengasuh Rubrik Kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Kamis, 28 Agustus 2014

KonsultasiSyariah: Masbuq Shalat Jenazah

KonsultasiSyariah: Masbuq Shalat Jenazah


Masbuq Shalat Jenazah

Posted: 27 Aug 2014 06:54 PM PDT

Ketinggalan Shalat Jenazah

Bagaimana jika kita ketinggalan beberapa takbir shalat jenazah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Dalil utama tentang masalah masbuq dalam shalat adalah hadis dari Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Apabila kalian menghadiri shalat jenazah, berjalanlah dengan tenang. Gerakan apapun yang kalian jumpai, langsung diikuti. Sementara yang ketinggalan, sempurnakanlah. (HR. Bukhari 635 dan Muslim 602).

Berdasarkan hadis di atas, pada prinsipnya, masbuq dalam shalat jenazah, sama dengan masbuq dalam shalat pada umumnya. Hanya saja, dalam shalat jenazah, bentuk ketinggalannya dalam masalah jumlah takbir, sedangkan dalam shalat lainnya, bentuk masbuqnya dalam jumlah rakaat.

Hasan al-Bashri mengatakan,

إِذا انتهى إِلى الجنازة وهم يُصلّون؛ يدخل معهم بتكبيرة

Jika ada orang menjumpai jamaah shalat jenazah, sementara mereka sudah melaksanakan beberapa takbir, maka hendaknya dia langsung bergabung bersama jamaah itu dengan menyusul takbir (mereka). (HR. Bukhari secara muallaq – Bab Sunah Shalat ala Janazah).

Ibnu Hazm menjelaskan teknisnya sebagai berikut,

ومن فاته بعض التكبيرات على الجنازة؛ كَبَّر ساعة يأتي، ولا ينتظر تكبيرة الإِمام، فإِذا سلم الإِمام أتم هو ما بقي من التكبير، يدعو بين تكبيرة وتكبيرة كما كان يفعل مع الإِمام

Orang yang ketinggalan beberapa takbir shalat jenazah, langsung takbir meskipun hanya mendapatkan beberapa saat, dan tidak menunggu takbir imam berikutnya. Jika imam salam, dia sempurnakan takbir yang kurang. dia berdoa dari satu takbir ke takbir berikutnya. Sebagaimana yang dia lakukan bersama imam.

Sebagai ilustrasi,

Si A ketinggalan shalat jenazah, sementara imam sudah takbir kedua. Yang seharusnya dilakukan si A, dia langsung takbir, dan tidak menunggu takbir ketiga imam. Meskipun dia hanya mendapatkan beberapa saat, kemudian imam takbir ketiga.

Selanjutnya dia ikuti imam. Setelah imam salam, dia tambahkan satu takbir.

Bagaimana Urutan Doanya?

Berikut penjelasan Imam Ibnu Utsaimin,

فإذا دخل الداخل وقد كبر الإمام بعض التكبيرات، فإنه يدخل معه ويدعو بالدعاء في التكبيرة التي كبرها الإمام، فإذا قدرنا أنه دخل والإمام في التكبيرة الثالثة، والتكبيرة الثالثة هي التي يدعى فيها للميت، فإنه يدخل معه ويدعو للميت … ثم إذا سلم الإمام من صلاة الجنازة، أتم المأموم ما فاته إن بقيت الجنازة حتى يتم

Apabila orang yang masbuq menjumpai jamaah shalat jenazah, sementara imam sudah melakukan beberapa takbir, maka dia langsung bergabung dan berdoa dengan doa sesuai urutan takbir imam. Misalnya, dia bergabung ketika imam telah melakukan takbir ketiga. Dan di takbir ketiga, dianjurkan berdoa untuk mayit. Maka orang ini langsung bergabung dan mendoakan mayit… kemudian setelah imam salam shalat jenazah, makmum menambahi kekurangannya, jika jenazah masih di tempat. (al-Liqa as-Syahri, volume 1, no. 10)

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Rabu, 27 Agustus 2014

KonsultasiSyariah: Buah Merah Papua untuk Kesuburan Pria & Wanita

KonsultasiSyariah: Buah Merah Papua untuk Kesuburan Pria & Wanita


Buah Merah Papua untuk Kesuburan Pria & Wanita

Posted: 26 Aug 2014 08:48 PM PDT

Buah Kesuburan Pria & Wanita

Assallammuallaikum, sy & suami sdh periksa ke dokter kandungan hasil pemeriksaan kami berdua bagus .
Apakah buah merah bs dkonsumsi sbagai obat kesuburan untuk rahim &  sperma ? Klo memang bisa kami berdua hrs konsumsi dengan dosis takaran minum brapa?

Dari Juni S.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullaahi wabarokaatuh. 

Buah merah (Pandanus Conoideus) yang banyak tumbuh di daerah Papua dan digunakan secara tradisional untuk melindungi kulit, mengobati mata, dan penyakit lainnya oleh masyarakat setempat memang diklaim memiliki banyak khasiat lain. Warnanya yang merah menandakan buah ini kaya akan betakaroten, salah satu antioksidan. Penelitian lain juga menunjukkan buah merah banyak mengandung karoten, tokoferol, asam lemak, dan protein. Meskipun begitu, kami belum menemukan bukti yang cukup yang menunjukkan bahwa buah merah dapat dikonsumsi sebagai obat kesuburan. Efek buah merah yang membantu memperbaiki kesehatan dan melancarkan aliran darah ke seluruh tubuh mungkin saja dapat mendukung kebugaran sistem reproduksi dan kesuburan, namun karena belum ada penelitian yang mendukung teori ini, maka kami belum dapat mengkonfirmasinya juga dosisnya.

Saran kami, jika memang ingin mengkonsumsi buah merah atau ekstrak buah merah untuk kesehatan, gunakan sesuai dosis yang tertera di kemasan produk, atau sesuai petunjuk dokter yang merawat Ibu. Dosis bisa ditambah sedikit atau dikurangi sesuai toleransi tubuh. Disamping itu, tetap konsumsi makanan bergizi lainnya dan lakukan hubungan tanpa proteksi saat menjelang maupun segera setelah ovulasi berlangsung.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh: dr Hafidz (Pengasuh rubrik kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Hukum Menimbun Bensin

Posted: 26 Aug 2014 07:15 PM PDT

Menimbun Bensin

Pertanyaan:

Ketika mulai terjadi kelangkaan bensin, banyak pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab melakukan penimbunan bensin sehingga kelangkaan bensin makin menjadi-jadi. Akhirnya setelah bensin laris terjual yang dengan harga selangit barulah tandon bensin dikeluarkan dan diperdagangkan.

Apakah tindakan ini termasuk menimbun yang terlarang dalam syariat Islam?

Jawaban:

Para ulama berselisih pendapat tentang barang apa sajakah yang terlarang untuk ditimbun dalam ajaran Islam. Ada yang berpendapat bahwa yang dilarang ditimbun hanyalah bahan makanan pokok. Pendapat lainnya menyatakan yang dilarang ditimbun adalah semua barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak dan mereka akan kesusahan apabila terjadi penimbunan. Inilah pendapat Malikiyyah dan salah satu pendapat Imam Ahmad. Pendapat inilah  yang benar berdasarkan makna tekstual yang bisa kita tangkap dari hadits terkait masalah ini.

Dalam Nailul Authar 5/262  al-Syaukani mengatakan, "Makna tekstual yang bisa disimpulkan dari hadits tersebut, menimbun barang itu hukumnya haram baik yang ditimbun berupa bahan makanan pokok, makanan hewan tunggangan, atau pun selainnya. Kata-kata 'bahan makanan' pada sebagian riwayat tidak bisa dijadikan alasan bahwa yang terlarang hanyalah menimbun bahan makanan. Kesimpulan yang benar dalam masalah ini adalah semua barang yang diperlukan oleh banyak orang itu dilarang untuk ditimbun termasuk diantaranya bahan makanan pokok".

Al-Ramli  al-Syafi'i dalam Hasyiyah 'ala Asna al-Mathalib 2/39 mengatakan, "Sepatutnya larangan menimbun itu diberlakukan untuk semua barang yang umumnya menjadi kebutuhan masyarakat banyak baik berupa makanan atau pun pakaian".

Inilah yang selaras dengan hikmah dilarangnya menimbun yaitu terlarangnya merugikan dan menyusahkan masyarakat banyak.

Pendapat yang sama juga difatwakan oleh Lajnah Daimah 13/184. Para ulama yang duduk di Lajnah Daimah mengatakan, "Tidak diperbolehkan menimbun barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak. Tindakan ini disebut ihtikar.

Hal ini terlarang karena menimbang beberapa hal:

Pertama, adanya hadits Nabi:

لا يحتكر إلا خاطئ

"Tidaklah melakukan penimbunan kecuali pendosa" [HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah].

Kedua, menimbun adalah tindakan yang merugikan banyak kaum muslimin.

Sedangkan barang-barang yang bukan menjadi kebutuhan masyarakat banyak itu boleh ditimbun kecuali jika dijumpai kondisi yang menyebabkan masyarakat banyak membutuhkannya maka ketika itu barang tersebut wajib dipasarkan di tengah masyarakat dalam rangka mencegah kesempitan dan kesusahan masyarakat banyak".

Berdasarkan uraian di atas, menimbun barang yang tidak menyebabkan masyarakat banyak dirugikan karena mereka tidak terlalu membutuhkannya dan ada alternatif barang yang lain hukumnya tidak mengapa dan tidak termasuk dalam kategori menimbun yang terlarang.

Akan tetapi jika tidak didistribusikannya suatu barang itu menyebabkan masyarakat banyak yang  dirugikan, kerepotan, dan kesusahan disebabkan mereka tidak mendapati alternatif pengganti sehingga terpaksa membeli dengan harga yang di atas standar demi mendapatkan barang tersebut maka inilah yang dikategorikan menimbun yang haram. Termasuk diantara contohnya adalah menimbun bensin, tiket kereta api dll.

Referensi: http://www.alsalafway.com/cms/fatwa.php?action=fatwa&id=239

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Melunasi Utang Orang Lain dengan Zakat

Posted: 26 Aug 2014 12:03 AM PDT

Melunasi Utang Orang Lain dengan Zakat

Tanya:

Assalamu’alaikum. Tanya Pak : Seseorang A mempunyai hutang kepada B. Karena miskin si A tidak mampu membayar hutangnya.Kemudian ada si C yang melunasi hutang si A kepada si B, namun uang si C itu berupa zakat. Jadi Si C langsung membayar zakat kepada si B, dg peruntukan melunasi hutang si A. Bolehkah yang demikian? Ataukah Si C harus memberikan kepada si A terlebih dahulu?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فلا مانع من صرف الزكاة إلى المدين لسداد دينه لأنه من صنف الغارمين المستحقين للزكاة، وأما إعطاء الزكاة إلى الدائن، فإن كان ذلك بإذن المدين (الغارم) فلا إشكال، وإن كان بدون إذنه فمحل خلاف بين الفقهاء، فذهب الحنفية الشافعية إلى أن ذلك لا يجزئ، وذهب الحنابلة إلى إجزائه، قال في الإنصاف: لو وضع المالك إلى الغريم بلا إذن الفقير فالصحيح من المذهب أنه يصح.

Tidak masalah menyerahkan zakat kepada orang yang memiliki utang untuk melunasi utangnya. Karena dia termasuk golongan al-Gharimin (orang yang memiliki beban utang), yang berhak menerima zakat.

Adapun menyerahkan zakat itu langsung kepada orang yang menghutangi (kreditor), maka di sana ada rincian,

  1. Jika pelunasan utang ini atas izin orang yang memiliki utang (debitor), maka tidak ada masalah.
  2. Jika pelunasan ini tanpa izin dari orang yang berhutang, maka ulama berbeda pendapat.

Hanafiyah dan Syafiiyah berpendapat zakatnya tidak sah. sementara ulama hambali berpendapat zakatnya sah.

Dalam kitab al-Inshaf – kitab fiqih hambali – dinyatakan,

لو وضع المالك إلى الغريم بلا إذن الفقير فالصحيح من المذهب أنه يصح

Jika pemilik harta langsung menyerahkan uang ke pemberi utang (kreditor) tanpa izin si fakir (debitor), pendapat yang kuat dalam madzhab, zakatnya sah.

Sementara dalam Fatawa Hindiyah – kitab fikih madzhab hanafi – dinyatakan,

ولو قضى دين الفقير بزكاة ماله: إن كان بأمره يجوز، وإن كان بغير أمره لا يجوز، وسقط الدين

Untuk kasus orang melunasi utang orang fakir dengan zakat hartanya, jika dengan izin si fakir, hukumnya boleh. Jika tanpa izin dari si fakir, hukumnya tidak boleh, meskipun utang tetap lunas.

An-Nawawi dalam al-Majmu' mengatakan,

ولا يجوز صرفه إلى صاحب الدين إلا بإذن من عليه الدين، فلو صرف بغير إذنه لم يجزئ الدافع عن زكاته، ولكن يسقط من الدين بقدر المصروف

Tidak boleh memberikan zakat kepada pemilik utang (kreditor) kecuali dengan izin orang yang berutang. Jika dia menyerahkannya tanpa izin orang yang berutang, zakatnya tidak sah, meskipun utangnya lunas sebesar yang telah dibayarkan.

Komentar Lembaga Fatawa Syabakah Islamiyah, setelah membawakan perbedaan pendapat para ulama di atas,

فالأحوط هو إخبار المدين واستئذانه في قضاء الدين عنه، أ وتسليمه المال ليسدد دينه بنفسه

Yang lebih hati-hati, memberi tahu pihak yang berutang (debitor) dan meminta izin kepadanya untuk melunasi utangnya. Atau kita serahkan zakat itu kepadanya, agar dia melunasi utangnya sendiri.

Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 43511.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial