Senin, 15 September 2014

KonsultasiSyariah: Mengobati Tangan Tertusuk Paku Berkarat

KonsultasiSyariah: Mengobati Tangan Tertusuk Paku Berkarat


Mengobati Tangan Tertusuk Paku Berkarat

Posted: 14 Sep 2014 09:00 PM PDT

Tertusuk Paku Berkarat

Bagaimana cara kita mengobati tangan atau jari kita terkena paku yang berkarat..

Dari Uzie

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada kami.

Risiko yang dikhawatirkan timbul dari luka akibat paku berkarat adalah penyakit tetanus. Luka yang berisiko menimbulkan tetanus adalah luka yang dalam/luka tusuk, dimana dasar luka sulit terlihat. Dalam luka juga lebih panjang dibandingkan lebar luka yang tampak dari luar. Kondisi luka seperti itu memungkinkan berkembangnya bakteri tetanus yang sifatnya anaerob. Jika mengalami luka tusuk akibat paku berkarat dan status imunisasi tetanus tidak diketahui atau telah lama tidak dibooster, maka sebaiknya, setelah darah berhenti dan luka dibersihkan dengan air mengalir, sebaiknya luka segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat, dan penderita mendapatkan suntikan anti tetanus.

Namun jika luka sifatnya lecet atau gores saja, tidak diharuskan untuk diperiksakan ke dokter dan mendapatkan suntikan anti tetanus. Luka cukup dibersihkan dengan air mengalir dan kasa steril hingga bersih dari kotoran, dan diberikan antiseptik seperti povidone iodine dan dibiarkan terbuka agar mengering.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh: dr. Hafids (Pengasuh rubrik kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Gerakan Shalat Untuk Difabel

Posted: 14 Sep 2014 06:48 PM PDT

Gerakan Shalat Untuk Difabel

Assalamu’alaikum,
Saya seorang difabel yang memiliki keterbatasan  bentuk kaki yang kurang sempurna dan keterbatasan tersebut membuat saya tidak dapat melakukan duduk diantara dua sujud dan duduk tahyat  dengan cara yang benar , jika saya melakukan duduk diantara dua sujud dan tahyat kedua kaki saya selalu terasa sakit dibagian lipatan antara paha dan kaki.  Selama ini, setiap shalat saya mengerjakan shalat dengan duduk, tapi sebenarnya saya masih dapat berdiri dengan sempurna. Dan, jika dilakukan dengan duduk, maka ketka saya sujud, wajah saya tidak ‘menempel’ ke tanah’ karena hanya sekedar membungkukan badan sajaNamun, saat saya shalat dengan berdiri,  saya bisa sujud dengan gerakan yang sempurna.
Pertanyaan saya:

  1. Apakah shalat yang saya lakukan (dengan duduk) itu suadah sah menurut syariat ?
  2. Apakah saya harus berdiri karena masih bisa berdiri dengan baik?
  3. Jika gerakan duduk di antara dua sujud dan tahyat saya salah, sementara saya-dalam kondisi seperti ini-sama sekali tidak bisa menyempurnakannya apa yang sebaiknya saya lakukan?

           Saya Sangat mengharapkan jawaban dari tim Konsultasi Syariah. Dan, saya mohon agar pertanyaan saya ini tidak dipublikasikan melalui website Konsultasi Syariah atau media apapun  dan  cukup dibalas melalui e-mail untuk menjaga privasi. Terima kasih.

Dari Anjar

JAWABAN:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Diantara kelebihan agama islam yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah jadikan ajaran beliau penuh dengan kemudahan. Dan ini menjadi bagian dari prinsip islam, menghilangkan segala bentuk kesulitan. Jika kita perhatikan dalam al-Quran, banyak sekali ayat yang menyebutkan bahwa Allah sama sekali tidak menghendaki kesulitan bagi para hamba-Nya.

Allah berfirman,

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. al-Maidah: 6)

Allah juga berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. (QS. al-Hajj: 78)

Allah juga menegaskan bahwa Dia tidak membebani jiwa manusia di luar batas kemampuannya,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. al-Baqarah: 286)

Allah juga memberi keringanan, bagi mereka yang memiliki kekurangan secara fisik, sehingga tidak bisa melakukan kewajiban yang dikerjakan oleh kaum muslimin lainnya. Ketika orang-orang munafik yang sehat fisik meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak ikut jihad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan dan tidak mempedulikan mereka. Dan hakekatnya itu celaan bagi mereka. Allah menyindir mereka habis-habisan dalam al-Quran. Allah sebut mereka layaknya orang banci, para pengecut.

Keadaan ini membuat sedih para orang buta, orang terbatas fisik, atau orang sakit. Sebenarnya mereka memiliki keinginan untuk bergabung jihad, namun keterbatasan fisiknya tidak memungkinkan bagi mereka untuk ikut jihad. Meskipun mereka tidak ikut, Allah tetap memuji mereka,

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا

Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). dan Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. (QS. al-Fath: 17)

Hadirkan Ridha

Adanya keterbataasan fisik tidak hanya Allah berikan kepada orang mukmin, namun juga terkadang dialami orang kafir. Kita dan mereka sama-sama sakit. Bedanya, kita punya harapan pahala di sisi Allah, sementara mereka tidak memiliki harapan apapun.

إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya orang kafir itupun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu punya harapan di sisi Allah, apa yang mereka tidak memiliki harapan itu. (QS. an-Nisa: 4)

Karena itu, apapun kondisi seorang muslim, dia tetap layak untuk bersyukur kepada Allah, atas hidayah islam yang Allah berikan kepada dirinya.

Kemudahan bagi Mereka

Allah berikan kemudahan bagi umat manusia dalam beribadah. Ketika dia tidak mampu melaksanakan dengan sempurna, dia bisa melaksanakannya semampunya. Allah berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian (QS. at-Taghabun: 16)

Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan seseorang untuk shalat semampunya. Sahabat Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu terkena penyakit wasir, sehingga menyulitkan beliau untuk shalat dengan sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada beliau,

صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

"Shalatlah sambil berdiri, jika kamu tidak mampu sambil duduk, dan jika kamu tidak mampu, sambil berbaring miring." (HR. Bukhari 1117, Abu Daud 952, dan yang lainnya).

Ketika anda tidak mampu duduk dengan sempurna, baik iftirasy maupun tawarruk, anda bisa duduk semampu yang anda lakukan. Jangan paksakan fisik untuk melakukan gerakan yang membuat diri anda kesakitan. Buat diri anda nyaman dengan shalat yang anda kerjakan.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Sabtu, 13 September 2014

KonsultasiSyariah: Nabi Hanya Umrah 4 Kali

KonsultasiSyariah: Nabi Hanya Umrah 4 Kali


Nabi Hanya Umrah 4 Kali

Posted: 12 Sep 2014 08:02 PM PDT

Umroh Nabi

Berapa kali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ، أَوْ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنْ جِعْرَانَةَ حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah 4 kali, semuanya di bulan Dzulqa'dah, kecuali umrah yang mengiringi haji beliau. (yaitu) Umrah dari Hudaibiyah atau di tahun perjanjian Hudaibiyah di bulan Dzulqa'dah, Umrah di tahun berikutnya di bulan Dzulqa'dah, Umrah dari Ji'ranah, dimana beliau membagi ghanimah Hunain di bulan Dzulqa'dah, dan umrah ketika beliau haji. (HR. Bukhari 1780 & Muslim 1253).

Ibnul Qoyim mengatakan,

اعتمر بعد الهجرة أربع عمر كلهن في ذي القعدة .

الأولى : عمرة الحديبية وهي أولاهن سنة ست فصدَّه المشركون عن البيت فنحر البُدْن ( أي هديه من الإبل ) حيث صُدَّ بالحديبية وحلق هو وأصحابه رؤوسهم وحلّوا من إحرامهم ورجع من عامه إلى المدينة .

الثانية : عمرة القضية في العام المقبل دخل مكة فأقام بها ثلاثا ثم خرج بعد إكمال عمرته .

الثالثة : عمرته التي قرنها مع حجته .

الرابعة : عمرته من الجعرانة لما خرج إلى حنين ثم رجع إلى مكة فاعتمر من الجعرانة داخلا إليها  ….

قال : ولا خلاف أن عُمَرَهُ لم تَزِدْ على أربع .

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah setelah hijrah 4 kali, semuanya di bulan Dzulqa'dah:

Pertama, Umrah Hudaibiyah, ini umrah pertama, dilakukan di tahun 6 Hijriyah, lalu di halangi oleh orang-orang musyrik, sehingga tidak bisa ke ka'bah. Kemudian beliau menyembelih onta, karena terhalangi di Hudaibiyah, dan melakukan tahalul dengan menggundul rambut, bersama para sahabat, dan kembali ke Madinah di tahun itu.

Kedua, Umrah qadha di tahun depannya. Beliau masuk ke Mekah dan tinggal di sana 3 hari, lalu beliau keluar setelah menyempurnakan umrahnya.

Ketiga, Umrah ketika beliau berhaji

Keempat, Umrah dari Ji'ranah. Ketika beliau menuju Hunain, kemudian kembali ke Mekah, lalu melakukan umrah dengna miqat Ji'ranah.

Ibnul Qoyim menegaskan, 'Tidak ada perbedaan pendapat ulama bahwa Umrah beliau tidak lebih dari 4 kali.'

(Zadul Ma'ad, 2/86)

Mengapa di Bulan Dzulqa'dah?

An-Nawawi mengatakan,

قال العلماء : وإنما اعتمر النبي صلى الله عليه وسلم هذه العُمَر في ذي القعدة لفضيلة هذا الشهر ولمخالفة الجاهلية في ذلك فإنهم كانوا يرونه ( أي الإعتمار في ذي القعدة ) من أفجر الفجور كما سبق ففعله صلى الله عليه وسلم مرات في هذه الأشهر ليكون أبلغ في بيان جوازه فيها وأبلغ في إبطال ما كانت الجاهلية عليه

Para ulama mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan beberapa kali umrah di bulan Dzulqa'dah, karena keutamaan bulan ini dan dalam rangka menyelisihi masyarajat jahiliyah dalam waktu pelaksanaan umrah, karena mereka – orang jahiliyah – berkeyakinan bahwa Umrah di bulan Dzulqa'dah adalah perbuatan yang sangat kurang ajar. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah di bulan ini beberapa kali, sebagai puncak penjelasan yang menunjukkan bolehnya umrah ketika Dzulqa'dah. Serta lebih kuat dalam membantah keyakinan Jahiliyah. (Syarh Shahih Muslim, 8/236)

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Hukum Adzan ketika Hendak Safar Haji

Posted: 11 Sep 2014 11:26 PM PDT

Adat Masyarakat, Adzan dulu Ketika Orang Mau Berangkat Haji

Tanya:

Di beberapa masjid, ketika seseorang hendak berangkat haji, dia diadzani. Apa praktek ini benar? ada yang bilang, itu ada dalil riwayat Bukhari dan Muslim…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Sebelum kita beranjak pada masalah dalil, terlebih dahulu kami ajak anda untuk memahami satu prinsip berikut.

Semua kaum muslimin paham bahwa islam adalah agama sempurna. Dan semua kegiatan yang sifatnya ibadah, telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kamiharap, anda mengakui hal ini. Jika diminta dalilnya, anda bisa baca hadis dari Sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَقِيَ شَىءٌ يُقرِّبُ مِنَ الجَنّةِ وَيُبَاعِد مِن النَّار، إِلّا وَقَدْ بُيِّنَ لكم

Tidak tersisa suatu apapun yang bisa mendekatkan diri ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah dijelaskan kepada kalian. (HR. Thabrani dalam al-Kabir, 1624)

Kemudian Abu Dzar mengatakan,

لَقَدْ تَرَكَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يَتَقَلَّبُ فِي السَّمَاءِ طَائِرٌ إِلَّا ذَكَّرَنَا مِنْهُ عِلْمًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggalkan dan tidak ada burung yang mengepakkan sayapnya di langit, kecuali beliau telah menjelaskan ilmunya kepada kami. (HR. Ahmad 21439 dan dihasankan oleh Syuaib al-Arnauth).

Kemudian di sana ada kaidah, jika ada satu perbuatan yang sangat mungkin dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat, ada motivasi untuk melakukannya dan tidak ada penghalang yang menyebabkan beliau meninggalkan perbuatan itu, akan tetapi beliau tidak mengajarkan perbuatan tersebut, menunjukkan bahwa itu bukan bagian dari ajaran islam.

Sebagai ilustrasi,

Adzan ketika memasukkan jenazah ke kuburan. Mungkinkah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya?

Jawabannya sangat mungkin. Tidak ada yang susah bagi beliau untuk melakukannya. Beliau bisa minta salah seorang sahabat untuk adzan ketika memasukkan jenazah di kuburan. Namun ketika tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengadzani mayit ketika memasukkan jenazah di kuburan, maka adzan semacam ini bukan ajaran islam.

Contoh lain,

Pembukuan al-Quran.

Mungkinkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di zaman beliau?

Jawabannya tidak mungkin. Karena selama beliau hidup, wahyu sewaktu-waktu akan turun, yang bisa saja wahyu itu menasakh wahyu sebelumnya. Sehingga tidak mungkin dibukukan. Disamping itu, tidak ada latar belakang yang kuat untuk melakukan itu. Karena penghafal al-Quran sangat banyak dan orang bisa merujuk langsung ke beliau.

Karena itu, pembukuan al-Quran yang dilakukan di zaman sahabat, tidak bertentangan dengan syariat islam.

Kaidah inilah yang digunakan para sahabat ketika mereka mengingkari perbuatan orang lain yang menambahi ajaran syariat. Suatu ketika, ada orang yang bersin di samping Ibnu Umar. Seusai bersin, dia membaca;

الحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ

Alhamdulillah, was salamu 'ala rasulillah…

Mendengar ini, Ibnu Umar langsung komentar,

وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ: «الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ»

Bukan seperti ini yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami. Beliau mengajari kami untuk mengucapkan, 'Alhamdulillah 'ala kulli haal.' (HR. Turmudzi 2738 dan statusnya hasan).

Demikian pula yang dilakukan sahabat Ammarah bin Ruaibah radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau melihat seorang khatib jum'at (Bisyr bin Marwan) yang berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Kemudian Ammarah mengatakan,

قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَا يَزِيدُ عَلَى هَذِهِ يَعْنِي السَّبَّابَةَ

Semoga Allah tidak merahmati kedua tangan itu. Sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa di atas mimbar, dan beliau tidak lebih dari isyarat ini. Beliau berisyarat dengan jari telunjuk. (HR. Ahmad 17224, Abu Daud 1104, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dan masih banyak kasus semacam ini.

Kita beralih ke adzan ketika melepas kepergian haji.

Jika kita ditanya, apa yang sulit bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan hal demikian?

Tentu jawabannya, tidak ada yang sulit. Beliau bisa dengan mudah menyuruh sahabat untuk adzan ketika beliau hendak berangkat haji. Dan juga tidak ada penghalang bagi beliau untuk melakukannya.

Namun tatkala tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa beliau melakukannya, menunjukkan bahwa mengadzani jamaah haji ketika hendak berangkat, BUKAN ajaran syariat.

Ada Dalil Riwayat Bukhari & Muslim?

Kami sempat terheran dengan pernyataan ini. Ada dalil riwayat Bukhari & Muslim tentang mengadzani keberangkatan jamaah haji. Jika memang ada dalilnya riwayat Bukhari & Muslim, tentu praktek semacam ini akan menjadi tradisi yang makruf di masyarakat. Namun yang kita saksikan, tradisi semacam ini hanya ada di beberapa daerah di Indonesia dan sekitarnya. Saya sendiri baru menemukan tradisi ini di Jogja. Waktu di Lamongan Jawa timur, belum pernah melihatnya. Sementara pelepasan jamaah haji, diresmikan di Masjid pusat Kecamatan.

Kemudian, kami menemukan situs[1] yang menganjurkan adzan melepas kepergian haji. Ternyata benar, ada dalilnya. Hadis riwayat Bukhari & Muslim. Tapi tunggu dulu, pembahasan belum selasai. Jika anda perhatikan hadis tersebut, terlalu jauh jika dipahami sebagai dalil anjuran mengadzani jamaah haji. Sama sekali gak nyambung. Kecuali jika dipaksa-paksakan.

Dan seperti ini telah menjadi prinsip sebagian orang. Dia memiliki pendapat yang tidak sesuai syariah, selanjutnya dia cari-cari dalil yang bisa mendukung pendapatnya. Jika tidak mendukung, maka dipaksa mendukung. Sehingga urutannya, punya pendapat dulu, baru cari dalil. Allahu akbar, jelas ini pemerkosaan terhadap dalil. Seharusnya, berlajar dalil dulu, kemudian berpendapat sesuai dalil.

Dari situs itu, bisa kita simpulkan, ada dalil yang menganjurkan mengadzani jamaah haji,

Pertama, hadis dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan kisah perjalanannya bersama rekan sekampungnya, belajar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفَرٍ مِنْ قَوْمِي، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً، وَكَانَ رَحِيمًا رَفِيقًا، فَلَمَّا رَأَى شَوْقَنَا إِلَى أَهَالِينَا

Saya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama serombongan pemuda dari kaumku. Kami tinggal di kota beliau 20 hari. Beliau orang yang sangat kasih sayang, dan lembut. Ketika beliau melihat kami mulai kangen dengan keluarga, beliau berpesan,

ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ، فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ، وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي، وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ، فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ، ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

Kembalilah ke keluarga kalian, ajari mereka dan perintahkan mereka (untuk masuk islam). Lakukanlah shalat sebagaimana kalian melihatku shalat. Apabila datang waktu shalat, hendaknya salah satu diantara kalian melakukan adzan, kemudian yang paling tua menjadi imam. (HR. Bukhari 6008 & Muslim 674).

Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, "Kami para pemuda yang usianya sepantaran."

Anda bisa perhatikan, kira-kira, perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan adzan, itu perintah karena apa?

Jawabannya, karena tiba waktu shalat wajib. Dan ini sangat jelas dinyatakan dalam teks hadis: "Apabila datang waktu shalat, hendaknya salah satu diantara kalian melakukan adzan". Karena itu, ulama menganjurkan bahwa ketika datang waktu shalat wajib, hendaknya seseorang melakukan adzan, meskipun dia sedang musafir. Kemudian melakukan jamaah bersama rombongan, jika tidak mampir masjid. Karena perjalanan masa silam, melintasi padang pasir, sehingga mereka shalat berjamaah di tengah perjalanan yang jauh dari perkampungan. Karena itu, imam Bukhari membuat judul bab untuk hadis ini dengan pernyataan,

بَابُ مَنْ قَالَ: لِيُؤَذِّنْ فِي السَّفَرِ مُؤَذِّنٌ وَاحِدٌ

Bab, pendapat ulama: Dalam Safar, Hendaknya ada Orang yang Beradzan. (Sahih Bukhari)

Artinya, ketika rombongan musafir menjumpai waktu shalat, salah satu mereka melakukan adzan untuk shalat jamaah. Karena itu, tidak mungkin dipahami sebagai dalil anjuran untuk mengadzani jamaah haji. Terlalu dipaksakan.

Kedua, hadis dari A'isyah radhiyallahu ‘anha, yang menceritakan perjalanan haji wada' bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat berangkat haji, sebelum masuk kota Mekah, beliau singgah di Saraf. Di tempat ini, Aisyah menangis karena mengalami haid, sehingga beliau tidak bisa Umrah untuk tamattu'. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya, beliau bersabda,

فَلَا يَضُرُّكِ، فَكُونِي فِي حَجِّكِ، فَعَسَى اللهُ أَنْ يَرْزُقَكِيهَا

Tidak masalah, niatkan untuk haji. Semoga Allah memberimu kesempatan untuk Umrah.

Aisyahpun melaksanakan ibadah haji, hingga hari kegiatan di Mina. Ketika itu, Aisyah mendapatkan suci haid. Kemudian beliau melakukan Thawaf ifadhah. Selesai haji, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah di al-Muhashab, lalu beliau menyuruh Abdurrahman bin Abu Bakr untuk mengantarkanku ke Tan'im dalam rangka mengambil miqat untuk Umrah.

Seusai Umrah, saya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di kemahnya. Beliau bertanya,

«هَلْ فَرَغْتِ؟» قُلْتُ: نَعَمْ،

"Kamu sudah selesai?" tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

"Ya, jawabku."

Kata A'isyah,

فَآذَنَ فِي أَصْحَابِهِ بِالرَّحِيلِ، فَخَرَجَ فَمَرَّ بِالْبَيْتِ فَطَافَ بِهِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَدِينَةِ

Kemudian beliau mengadzankan kepada para sahabatnya untuk berangkat. Kemudian beliau keluar, lalu melewati Ka'bah dan beliau thawaf Wada' sebelum subuh. Kemudian beliau pulang ke Madinah. (HR. Muslim 1211).

Di situ ada lafadz,

فَآذَنَ فِي أَصْحَابِهِ بِالرَّحِيلِ

mengadzankan kepada para sahabatnya untk berangkat.

Kalimat ini dijadikan alasan, anjuran mengadzami jamaah haji. Dan jelas ini pemaksaan, karena:

  1. Kata aadzana di situ artinya adalah mengumumkan. Bukan adzan penanda datangnya shalat.
  2. Ini terjadi di ujung perjalanan haji, sebelum melakukan thawaf wada'. Sehingga tidak ada hubungannya dengan keberangkatan haji. Jika dianjurkan adzan untuk jamaah yang mau berangkat haji, seharusnya dilakukan di Madinah.

Karena semua alasan ini, para ulama menilai adzan untuk perpisahan dengan jamaah haji sebagai perbuatan yang menyimpang dari ajaran syariat. Dalam kitab Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, penulis menyebutkan daftar kesalahan yang banyak dilakukan masyarakat terkait ibadah haji. diantaranya

الأذان عند توديعهم

Adzan ketika perpisahan jamaah haji.

(Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 105)

Allahu a'lam

[1] Mohon maaf, alamat situs tidak kami sebutkan. Karena ada logo ormas.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Jumat, 12 September 2014

KonsultasiSyariah: Balita Perut Buncit

KonsultasiSyariah: Balita Perut Buncit


Balita Perut Buncit

Posted: 11 Sep 2014 09:00 PM PDT

Perut Anak Buncit

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Anak pertama saya perempuan, ketika umur 20 bulan terkena penyakit all.Setelah menjalani kemoterapi 2 tahun, alhamdulillah sekarang baik, dan kini telah berumur 7 tahun.Anak yang kedua juga perempuan berumur 15 bulan, 1 minggu yang lalu panas, batuk, pilek. Sudah periksa ke dokter spesialis anak, alhamdulillah batuknya sembuh.Oleh dokter diberi obat batuk pilek dan vitamin penambah nafsu makan.Namun makannya masih agak sulit, hanya pagi dan sore hari maunya, tapi susu formula 1 hari itu habis 6-7 botol, tiap botol 120 ml. Sekarang perutnya kelihatan buncit, tapi saya raba, tidak keras.saya takut punya penyakit seperti kakaknya, karena dulu kakaknya perutnya pun buncit, nafsu makan turun, pucat.Akan tetapi kalau adiknya tidak pucat .Pertanyaan

  • Apakah penyakit yang diderita anak kedua saya ? Berbahayakah tanda perut buncit itu ?
  • Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh.

Pada asalnya, anak balita memang cenderung memiliki perut yang buncit, karena otot dinding perut yang belum begitu kuat untuk menyangga organ-organ dalam perut sebagaimana pada dewasa. Terlebih jika si kecil baru saja makan atau banyak minum, dan belum mengeluarkannya dalam bentuk air seni atau feses. Jika si kecil baru saja banyak makan atau minum, kemudian perutnya membuncit, tanpa ada keluhan apapun seperti lemas, rewel, malas makan, atau sulit buang air besar, maka kemungkinan besar perut yang membuncit itu masih normal. Anak yang baru sembuh dari sakit, atau telah bisa bermain aktif dengan mengeksplorasi lingkungannya, cenderung terkadang memang sulit makan, namun perilakunya tetap ceria dan lincah, menunjukkan bahwa ia dalam kondisi kesehatan yang baik.

Meskipun demikian, mengingat riwayat pada si kakak, jika ibu mengamati perut buncitnya semakin membesar meskipun tanpa makan dan minum yang cukup, dan si kecil menunjukkan tanda-tanda penurunan kesehatan atau perubahan kebiasaan, seperti menjadi malas bermain, lemas, demam dalam jangka waktu panjang (kadang naik turun), pucat dan rewel, maka sebaiknya si kecil diperiksakan kembali ke dokter anak untuk mengecek kondisinya.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh: dr. Hafidz (Pengasuh rubrik kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Nikah Beda Agama, Mengapa Dilarang?

Posted: 11 Sep 2014 07:17 PM PDT

Haram Nikah Beda Agama?

Mengapa nikah beda agama dilarang? Agama kan hanya status seseorang, apa kaitannya dengan keberlangsungan rumah tangga?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Polemik nikah beda agama bukan polemik baru. Itu isu lama yang kembali mencuat. Memang benar apa kata orang, sejarah akan mengulang kejadian sebelumnya. Karena itu, kehadiran beberapa orang yang kembali meneriakkan masalah ini, hanya membeo para moyangnya yang memiliki pemikiran yang sama.

Terkait pertanyaan yang anda sampaikan, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan,

Pertama, nikah beda agama tidak dilarang secara mutlak. Karena islam membolehkan seorang lelaki muslim menikah dengan wanita ahli kitab – yahudi atau nasrani – yang menjaga kehormatan dan bukan wanita nakal. Allah berfirman,

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ

Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang yang diberi kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. (QS. Al-Maidah: 5)

Karena itu, mengatakan bahwa nikah beda agama dilarang dalam islam secara mutlak tanpa pengecualian, jelas kesalahan dan kedustaan atas nama syariat.

Kedua, bahwa agama tidak hanya status semata. Namun status yang sekaligus menjadi ideologi seseorang. Bagi sebagian orang yang kurang peduli dengan agama, menganggap bahwa agama hanya status. Tidak ada beda antara satu agama dengan lainnya. Karena semuanya agama. Anda bisa katakan, ini prinsip orang ateis atau agnotis, yang tidak memahami hakekat agama. Jelas prinsip yang sangat tidak relevan dengan realita di lapangan.

Setiap manusia memiliki status. Agama, kewarganegaraan, suku, bahasa, daerah, hingga usia. Sebagian dicantumkan di KTP, seperti agama, daerah, dan usia. Dan semua orang bisa membedakan antara status agama dengan status kewarganegaraan atau suku, bahasa, daerah atau usia. Semakin agung statusnya, semakin kuat usaha seseorang untuk membelanya.

Bagi orang yang menilai agama paling agung, pembelaan dia terhadap agama akan lebih besar dibandingkan pembelaan terhadap negara, suku, bahasa atau daerah. Demikian pula, bagi orang yang menilai status kewarganegaraan lebih penting, maka upaya pembelaannya akan banyak tercurah ke sana, dan begitu seterusnya.

Anda akan lebih marah ketika suku anda dihina dari pada tanggal kelahiran anda dihina. Karena anda menganggap, suku lebih mulia dari pada tanggal lahir. Padahal keduanya sama-sama status manusia. Namun status yang satu lebih mulia, dibanding status lainnya.

Sebagai bangsa bernegara, kita diarahkan agar tidak terlalu menonjolkan sentimen kesukuan. Karena ini bisa mengancam persatuan bangsa. Sebagai manusia beragama, islam juga menyuruh kita untuk tidak menonjolkan sentimen kesukuan, kebangsaan. Karena bisa mengancam persaudaraan sesama muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tindakan membangkan suku dengan seruan jahiliyah. Beliau bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ

Bukan termasuk golonganku, orang yang menampar pipi, atau merobek baju (ketika keluarganya meninggal), dan orang yang menghidupkan seruan jahiliyah. (HR. Bukhari 1298 dan Muslim 103)

Di sini kita hanya hendak menggaris bawahi, bahwa agama bukan semata status. Agama adalah ideologi. Manusia rela melakukan apapun demi ideologinya. Hingga ada orang yang rela memakan kotoran tokoh agamanya, tidak lain karena dorongan ideologi agama. Karena itu, jangan remehkan status agama. Agama tidak hanya status, tapi ideologi.

Ketiga, kita menyadari bahwa beragama bagian dari hak semua manusia. Bahkan ini diatur dalam undang-undang di tempat kita. Yang ini menunjukkan bahwa founding fathers bangsa kita menghormati entitas agama bagi masyarakatnya. Bagi orang yang memahami hakekat agama, dia akan berusaha menjaga dan menghormatinya. Tidak menjadikannya bahan permainan apalagi ditukar dengan dunia atau dengan cinta.

Anda bisa menilai, orang yang begitu mudah pindah agama, hanya untuk bisa mendapatkan kepuasan perut, atau keluar dari islam hanya untuk mendapatkan kepuasan di bawah perut, itu karena dia tidak memahami hakekat agama. Tidak sejalan dengan prinsip yang dibangun para pewaris negeri ini.

Islam selalu mengajarkan kepada umatnya untuk memuliakan agamanya. Memotivasi mereka untuk berusaha menjaganya agar tidak lepas darinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran: 102)

Keempat, karena alasan ini semua, islam memberikan penjagaan kepada umatnya, sehingga mereka tetap bisa mempertahankan agamanya. Atau mengajak orang lain untuk menjadi lebih teratur hidupnya dengan masuk islam. Diantara aturan itu, islam melarang wanita muslimah menikah dengan lelaki non muslim. Karena pernikahan ini sangat mengancam keselamatan agamanya. Terlebih di negara yang masih kental dengan pluralisme. Sangat rentan kelompok minoritas menindas mayoritas.

Dan seperti ini realitas yang terjadi. Betapa banyak wanita muslimah yang menjadi korban pemaksaan lelaki kafir untuk pindah agama. Sementara negara tidak menjamin hal ini. Suami bisa bebas mengintimidasi istri untuk keluar dan pindah agama. Terlebih umumnya wanita lemah mental. Dia bisa dengan mudah menyerah dengan keadaan.

Dan sekali lagi, agama adalah ideologi. Bagian dari doktrin ideologi, pemiliknya akan berusaha menyeret orang lain untuk memiliki ideologi yang sama. Tidak mungkin suami yang kafir akan membiarkan istrinya muslimah untuk beribadah dan melakukan ketaatan sesuai ajaran islam. Kecuali jika si suami termasuk orang yang tidak berideologi.

Allah menyebutkan, orang-orang kafir, akan mengajak orang lain untuk mengikuti kekafirannya,

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ

Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (QS. al-Baqarah: 221)

Memahami hal ini, mengajukan nikah beda agama tanpa batas, tidak berbeda dengan upaya merusak ideologi agama. Bertentangan dengan tatanan para leluhur bangsa yang menjunjung tinggi agama. Meskipun kehadiran mereka adalah hal yang lumrah. Mengingat mereka bukan orang yang terdidik untuk menghormati agama.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Kamis, 11 September 2014

KonsultasiSyariah: Calon Presiden Suka Berbohong

KonsultasiSyariah: Calon Presiden Suka Berbohong


Calon Presiden Suka Berbohong

Posted: 10 Sep 2014 07:10 PM PDT

Hukum Calon Presiden Suka Berbohong

Pak Ustat, apa hukumnya presiden yang suka berbohong. Karena ada calon presiden di salah satu negara berkembang, yang suka berbohong. Saya dengar, orang sperti ini tdk masuk surga.

Nuw Timur

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Diantara tipe manusia yang sangat dibenci oleh Allah, hingga Allah memberikan hukuman sangat keras adalah raja atau presiden atau kepala negara atau pejabat pemerintah yang suka membohongi rakyatnya.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak Allah sucikan, tidak Allah lihat, dan bagi mereka siksa yang menyakitkan: orang tua yang berzina, raja yang suka berdusta, dan orang miskin yang sombong. (HR. Ahmad 10227, Muslim 107, dan al-Baghawi 3591).

Kita berlindung kepada Allah dari karakter mereka.

Anda bisa perhatikan, bagaiamana kerasnya hukuman yang Allah berikan kepada mereka,

  • Tidak akan diajak bicara oleh Allah
  • Tidak Allah sucikan
  • Tidak Allah lihat
  • Baginya siksa yang menyakitkan

Anda bisa bayangkan ketika ada orang yang dihukum, dicampakkan ke dalam neraka, kemudian dia dilupakan dan tidak dipedulikan. Bagaimana dia bisa berharap untuk bisa selamat. Suatu hari, Hasan al-Bashri – ulama besar zaman tabi'in – menangis. Hingga para sahabatnya bertanya, "Apa yang menyebabkan anda menangis?" beliau mengatakan,

أخاف أن يطرحني غدا في النار و لا يبالي

Aku takut, besok Allah akan membuangku ke neraka, kemudian dia tidak mempedulikanku. (at-Takhwif min an-Nar, hlm. 34)

Mengapa Hukuman Mereka Sangat Berat?

Yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka diberi hukuman sangat berat ketika melakukan pelanggaran seperti itu? Padahal yang namanya berzina, berdusta, atau sombong, juga dilakukan oleh manusia lainnya.

Jika kita perhatikan, tiga karakter manusia di atas, keadaannya sangat kontra dengan kesalahan dan dosa yang dia kerjakan. Karena faktor dan dorongan untuk melakukan kemaksiatan itu sangat lemah dibanding umumnya manusia.

Seperti yang kita tahu, umumnya manusia melakukan maksiat karena adanya dorongan kebutuhan. Pemuda berzina, karena dia tidak sanggup menahan nafsu birahinya. Orang terdesak yang berbohong, karena dia ingin menyelamatkan diri. Orang kaya yang sombong, karena merasa bangga dengan harta yang dimiliki. Berbeda dengan ketiga orang di atas, faktor-faktor itu hampir tidak ada.

Al-Qodhi Iyadh menjelaskan sebab hal ini,

سببه أن كل واحد منهم التزم المعصية المذكورة مع بعدها منه وعدم ضرورته إليها وضعف دواعيها عنده وإن كان لا يعذر أحد بذنب لكن لما لم يكن إلى هذه المعاصي ضرورة مزعجة ولا دواعى متعادة أشبه إقدامهم عليها المعاندة والاستخفاف بحق الله تعالى وقصد معصيته لا لحاجة غيرها

Sebabnya, karena ketiga orang di atas, melakukan maksiat seperti yang disebutkan, sementara dia sangat tidak membutuhkan maksiat itu, dan lemahnya dorongan untuk melakukannya. Meskipun semua orang tidak boleh melakukan maksiat, namun ketika ada orang yang sama sekali tidak ada dorongan untuk melakukannya, maka ketika dia melakukannya sama seperti orang yang menentang Allah dan meremehkan hak Allah, serta melakukan maksiat, bukan karena dorongan kebutuhan.

Kemudian al-Qodhi Iyadh merinci masing-masing,

إن الشيخ لكمال عقله وتمام معرفته بطول ما مر عليه من الزمان وضعف أسباب الجماع والشهوة للنساء واختلال دواعيه لذلك عنده ما يريحه من دواعي الحلال في هذا ويخلي سره منه فكيف بالزنى الحرام وإنما دواعي ذلك الشباب والحرارة الغريزية وقلة المعرفة وغلبة الشهوة لضعف العقل وصغر السن

Orang tua, dengan kesempurnaan akalnya dan pengalamannya karena telah lama makan asam garam selama hidup, serta lemahnya kekuatan jima dan syahwat terhadap wanita, yang semua kondisi ini membuat dia malas melakukan hubungan badan yang halal, maka bagaimana lagi dengan zina yang haram? Namanya pendorong zina, masih muda, aktif, agresif, pengalaman kurang, dorongan syahwatnya besar karena lemah akal, dan usia yang masih remaja.

وكذلك الإمام لا يخشى من أحد من رعيته ولا يحتاج إلى مداهنته ومصانعته فإن الإنسان إنما يداهن ويصانع بالكذب وشبهه من يحذره ويخشى أذاه ومعاتبته أو يطلب عنده بذلك منزلة أو منفعة وهو غني عن الكذب مطلقا

Demikian pula imam, apa yang ditakutkan terhadap rakyatnya, sehingga dia tidak butuh basa-basi, pencitraan dibuat-buat. Karena umumnya manusia melakukan basa-basi dengan dusta dan mengelabuhi orang yang dia takuti akan mengancamnya, atau karena dia ingin mendapatkan posisi dan manfaat dengan mendekat ke penguasa. Sementara penguasa, dia sama sekali tidak butuh berdusta.

وكذلك العائل الفقير قد عدم المال وإنما سبب الفخر والخيلاء والتكبر والارتفاع على القرناء الثروة في الدنيا لكونه ظاهرا فيها وحاجات أهلها إليه فإذا لم يكن عنده أسبابها فلماذا يستكبر ويحتقر غيره

Demikian pula orang miskin yang tidak memiliki harta. Umumnya penyebab orang bertindak sombong, bangga, dan merasa lebih tinggi dari orang lain adalah kekayaan dunia. Karena ini bisa ditampak-tampakkan, dan pemiliknya butuh untuk itu. Karena itu, ketika orang miskin sama sekali tidak memiliki modal untuk sombong, lalu mengapa dia sombong, dan meremehkan orang lain.

Kemudian al-Qodhi Iyadh mengakhiri keterangan beliau dengan mengatakan,

فلم يبق فعله وفعل الشيخ الزاني والإمام الكاذب إلا لضرب من الاستخفاف بحق الله تعالى والله أعلم

Sehingga perbuatan orang miskin yang sombong, orang tua yang berzina, dan penguasa yang suka berdusta hanya karena mereka meremehkan hak Allah ta'ala. Allahu a'lam

(Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 2/117).

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Haid Sebelum Thawaf Ifadhah

Posted: 10 Sep 2014 06:41 PM PDT

Haid Sebelum Thawaf Ifadhah

Apa yang harus dilakukan, ketika seorang wanita mengalami haid, sementara dia belum thawaf ifadah?.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Dari A'isyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan bahwa ketika haji, A'isyah mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya ketika A'isyah sedang menangis,

"Kamu kenapa, apa kamu haid?" tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

"Ya." jawab A'isyah

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ ذَلِكِ شَيْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

Sesungguhnya haid adalah perkara yang telah Allah tetapkan untuk putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, hanya saja kamu tidak boleh thawaf di Ka'bah sampai kamu suci. (HR. Bukhari 294 dan Muslim 1211)

Dalam hadis yang lain juga dari A'isyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat laporan, bahwa Shafiyah radhiyallahu ‘anha mengalami haid. Kemudian beliau bersabda,

عَقْرَى أَوْ حَلْقَى، إِنَّكِ لَحَابِسَتُنَا، أَكُنْتِ أَفَضْتِ يَوْمَ النَّحْرِ؟

"Waduh! Kamu bakal jadi sebab kami menunnggu. Apakah kamu sudah thawaf ifadah di hari raya (10 Dzulhijjah)?

"Sudah." jawab Shafiyah.

"Silahkan pulang." (HR. Bukhari 5329 & Muslim 1211).

Hadis ini menunjukkan bahwa andai Shafiyah belum melakukan thawaf ifadhah sebelum mengalami haid, tentu ini menjadi sebab beliau tertahan untuk tinggal di Mekah hingga suci. Sehingga hadis ini menjadi dalil mayoritas ulama, diantaranya Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Ahmad dalam salah satu riwayat, bahwa suci dari hadats termasuk syarat sah thawaf. Karena itu, bagi wanita yang mengalami haid, dan memungkinkan baginya untuk menunggu hingga suci, misalnya karena haidnya sebentar atau dia tinggal di sekitar Mekah, atau kepulangan dia masih lama, maka dia harus menunnggu suci untuk melakukan thawaf ifadhah.

Bolehkah Thawaf dalam Kondisi Haid karena Terpaksa

Yang menjadi masalah adalah, bagaimana jika tidak memungkinkan baginya untuk menunggu? Bolehkah dia thawaf dalam keadaan haid?

Sebelumnya, di samping pendapat mayoritas ulama, di sana ada ulama yang berpendapat bahwa suci dari hadats, bukan syarat sah thawaf. Diantara yang menguatkan pendapat ini adalah Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat.

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang wanita yang mengalami haid sebelum thawaf ifadhah. Kemudian beliau menyebutkan perbedaan pendapat di atas, selanjutnya beliau mengatakan,

فعند هؤلاء لو طاف جنبا أو محدثا أو حاملا للنجاسة أجزأه الطواف وعليه دم؛ لكن اختلف أصحاب أحمد: هل هذا مطلق في حق المعذور الذي نسي الجنابة؟ وأبو حنيفة يجعل الدم بدنة إذا كانت حائضا أو جنبا: فهذه التي لم يمكنها أن تطوف إلا حائضا أولى بالعذر.

Menurut mereka – yang memilih pendapat kedua – mengatakan bahwa jika ada orang yang thawaf dalam keadaan junub, berhadats, atau membawa najis, maka thawafnya sah, namun dia wajib membayar dam (menyembelih). Hanya saja, para ulama madzhab hambali berbeda pendapat, apakah ini berlaku umum untuk semua orang yang memiliki udzur karena lupa sedang junub? Sementara itu, Abu Hanifah mewajibkan adanya dam berupa sapi, apabila thawaf dalam kondisi haid atau junub. Oleh karena itu, wanita yang tidak mungkin melakukan thawaf kecuali dalam keadaan haid, lebih layak untuk mendapatkan udzur (thawaf dengan haid). (Majmu' Fatawa, 26/242)

Kemudian beliau menyebutkan beberapa alasan, mengapa wanita boleh thawaf dalam keadaan haid karena terpaksa.

  1. Haji termasuk amal wajib, dan tidak ada satupun ulama yang mengatakan bahwa wanita haid tidak wajib haji. Dan bagian dari prinsip syariah, kewajiban tidak menjadi gugur disebabkan karena tidak mampu memenuhi salah satu syaratnya. Sebagaimana orang yang tidak mampu bersuci ketika hendak shalat, dia tetap wajib shalat meskipun dengan tayamum atau bahkan tanpa wudhu dan tayamum, seperti orang yang lumpuh dan tidak ada yang membantunya.
  2. Haid yang dialami para wanita, sama sekali bukan kesalahannya. Murni ketetapan dari Allah. Karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa dia harus kembali ke rumahnya dan melakukan qadha haji di tahun berikutnya adalah pendapat yang tidak benar. Karena berarti mewajibkan wanita ini dua kali safar haji disebabkan sesuatu yang itu bukan berasal dari kesalahannya. Dan ini tidak sejalan dengan prinsip syariah
  3. Wanita tidak mungkin berangkat haji kecuali bersama rombongan. Sementara rutinitas haid datang pada waktu yang dia terkadang tidak tahu. Sehingga bisa jadi, ketika dia berangkat di tahun berikutnya, dia juga mengalami haid. Sehingga sangat sulit baginya untuk bisa thawaf dalam kondisi suci.
  4. Bagian dari prinsip syariat bahwa orang yang tidak mampu memenuhi semua syarat ibadah, maka syarat itu menjadi gugur baginya. Sebagaimana ketika seseorang tidak bisa berjalan atau naik kendaraan, dia boleh ditandu untuk thawaf. Karena Allah berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

"Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian." (QS. at-Thaghabun: 16)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Apabila aku perintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka kerjakanlah semampu kalian. (HR. Bukhari 7288).

(Majmu’ Fatawa, 26/242)

Keterangan Imam Ibnu Utsaimin

Imam Ibnu Utsaimin menjadikan keterangan Syaikhul Islam di atas sebagai landasan fatwa beliau, bahwa diperbolehkan seorang wanita melakukan thawaf ifadhah dalam kondisi haid karena terpaksa. Hanya saja, beliau memberikan solusi sebelumnya, dengan menggunakan obat pencegah haid. Jika darah tetap keluar, dia bisa thawaf dalam keadaaan haid. Beliau mengatakan,

امرأة لم تطف طواف الإفاضة وحاضت ويتعذر أن تبقى في مكة أو أن ترجع إليها لو سافرت قبل أن تطوف، ففي هذه الحالة يجوز لها أن تستعمل واحداً من أمرين فإما أن تستعمل إبراً توقف هذا الدم وتطوف وإما أن تتلجم بلجام يمنع من سيلان الدم إلى المسجد وتطوف للضرورة وهذا القول الذي ذكرناه هو القول الراجح والذي اختاره شيخ الإسلام ابن تيمية

Seorang wanita belum thawaf ifadhah dan dia mengalami haid, sementara dia tidak mungkin menetap di Mekah atau tidak mungkin kembali ke Mekah jika dia pulang sebelum thawaf, maka dalam kondisi ini, dia boleh menggunakan solusi salah satu dari dua pilihan:

(1)   Dia menggunakan suntik untuk menghentikan haid, sehingga dia bisa thawaf

(2)   Dia menggunakan pembalut penyumbat untuk menghalangi tetesan darah menempel di masjid, dan dia boleh thawaf karena terpaksa

Dan pendapat ini adalah pendapat yang kuat dan yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Fatawa Islamiyah, 2/517)

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Rabu, 10 September 2014

KonsultasiSyariah: Obat Herbal Untuk Menyembuhkan TBC

KonsultasiSyariah: Obat Herbal Untuk Menyembuhkan TBC


Obat Herbal Untuk Menyembuhkan TBC

Posted: 09 Sep 2014 08:58 PM PDT

Herbal untuk TBC

Pertanyaan :

Saya susan umur 20,sya d.vonis dokter mengidap tbc laten,dan apa benar tbc laten itu tdk menular?apa obat herbal.a?mksh

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada kami.

TBC laten adalah kondisi dimana seseorang membawa bakteri penyebab penyakit TBC dalam tubuhnya, namun tidak menunjukkan gejala penyakit apapun, dan tidak menularkan bakteri tersebut pada orang lain. Kondisi ini adalah kebalikan dari penyakit TBC, dimana pengidapnya menunjukkan tanda-tanda sakit seperti demam, berkeringat malam, berat badan tidak naik bahkan turun, dan batuk kronis – juga berpeluang besar menularkan kuman ke orang lain. Diantara ciri penderita TBC laten adalah:

  • Tidak sakit maupun merasa sakit
  • Gambaran X-ray dan pemeriksaan dahak normal
  • Tes kulit maupun darah terhadap TBC positif

Penderita TBC laten, meskipun tidak tampak sakit maupun menularkan kuman, tetap perlu mendapatkan terapi preventif sebab mereka tetap berpeluang menderita penyakit TBC di masa depan. Sejauh ini, terapi yang kami ketahui cukup efektif untuk TBC laten adalah dengan regimen obat antibiotik yang telah distandardisasi oleh badan kesehatan dan pemerintah. Dengan menjalani program pengobatan dengan rutin dan teratur, biidznillaah, TBC laten dapat disembuhkan, dan efek samping, jika ada dapat diminimalisir. Adapun obat herbal, untuk saat ini, kami belum dapat menyarankannya sebagai obat utama disebabkan masih minimnya data efektifitas obat herbal untuk TBC, khususnya dalam hal dosis. Sebagian herbal memiliki efek antibiotik yang baik, seperti habbatussauda’, bawag putih, jahe, echinacea, dan kayu manis. Akan tetapi, klaim yang ada belum menunjukkan adanya dosis yang benar-benar efektif untuk mayoritas penderita penyakit untuk satu jenis penyakit yang sama, karena efeknya bisa berbeda-beda pada setiap orang. Khusus untuk TBC, dimana kuman berpotensi untuk mengalami mutasi genetik dengan cepat jika tidak ditangani dengan benar, pengobatan yang salah, kurang dosis, atau setengah-setengah justru berpeluang menyebabkan kuman kebal terhadap obat dan semakin sulit diobati nantinya. Oleh sebab itu, jika TBC ingin mengkonsumsi obat herbal untuk mengobati TBC nya, atau bersamaan dengan obat medis, maka sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter yang merawat.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh: dr. Hafidz (Pengasuh rubrik kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Catatan tentang Tempat Sai Baru

Posted: 09 Sep 2014 07:05 PM PDT

Tempat Sai Baru

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Pelebaran wilayah sa'i, menjadi polemik di masyarakat. Tidak hanya tokoh yang memberikan komentar, termasuk para awak media yang memanfaatkan suasana untuk mendapatkan wacana kontroversial.

Sebagai muslim yang baik, tidak selayaknya kita menjadi manusia yang mudah terombang-ambing media dan komentar masyarakat. Didik diri kita menjadi muslim yang memiliki jati diri. Memandang kebenaran sebagai kebenaran, dan memandang kebatilan sebagai kebatilan.

Agar kita memiliki pegangan dalam menilai masalah kontroversial yang baru ini, berikut kami paparkan beberapa catatan sederhana yang disimpulkan dari beberapa fatwa dan keterangan para ulama.

Pertama, ulama sepakat bahwa lebar tempat sai sepanjang diameter bukit shafa dan marwah. Dr. Sa'd al-khatslan mengatakan,

لم يختلف العلماء في أن الواجب في السعي هو مابين جبلي الصفا والمروة

Ulama sepakat bahwa yang wajib ketika sai adalah wiilayah antara dua gunung shafa dan marwah. (Fawata Sa'd al-Khatslan, no. 175)

Ini berdasarkan firman Allah di surat al-Baqarah,

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا

Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-’umrah, maka tidak ada dosa baginya untuk mengerjakan sa’i antara keduanya. (QS. al-Baqarah: 158)

Selama seseorang melakukan sai di wilayah antara bukit Shafa dan Marwah, maka ibadah sa'inya sah.

Kedua, tempat sai baru adalah bagian perluasan wilayah sa'i yang tepat berada di sebelah timur tempat sa'i lama. Dan keberasaan tempat sa'i yang baru, termasuk masalah yang diperselisihkan ulama kontemporer. Ada dua masalah yang menjadi titik perbedaan pendapat ulama,

  1. Apakah tempat baru ini masih masuk dalam rentang diameter shafa dan marwah, ataukah keluar dari wilayah itu?.
  2. Bolehkah melakukan sai di daerah keluar sadikit dari rentang diameter bukit shafa atau marwah.

Mengacu pada titik masalah di atas, ada tiga pendapat ulama tentang kasus perluasan tepat sa'i.

Pendapat pertama, boleh melakukan sa'i sedikit di luar rentang diameter bukit shafa dan marwah.

Pendapat kedua, sa'i hanya boleh dilakukan di rentang diameter kedua bukit shafa dan marwah, dan wilayah sa'i yang baru hasil pelebaran, masih termasuk dalam batas rentang diameter bukit shafa dan marwah.

Pendapat ketiga, sa'i hanya boleh dilakukan di rentang diameter kedua bukit shafa dan marwah, dan wilayah sa'i yang baru hasil pelebaran, TIDAK termasuk dalam batas rentang diameter bukit shafa dan marwah.

(Waqafat ma'a Maudhu' al-Mas'a al-Jadid, Syaikh Alwi as-Saqqaf).

Ketiga, kebanyakan anggota Haiah Kibar Ulama di Saudi (Majlis Ulama Besar Saudi) berada pada kelompok ketiga, yang berpendapat bahwa wilayah sa'i baru, berada di luar rentang diameter kedua bukit itu, sehingga sa'i di tempat yang baru, tidak diperbolehkan secara syar'i. Diantaranya Syaikh Dr. Sholeh al-Fauzan, Syaikh Abdullah al-Ghadiyan, Syaikh Sholeh al-Luhaidan, Syaikh Abdurrahman al-Barrak, dan Syaikh Abdul Karim al-Khudair.

Mereka berdalil bahwa dengan catatan sejarah, bahwa lebar tempat sa'i sekitar 36 hasta, atau sekitar 20 meter. Dan itu adalah lebar tempat sa'i saat ini (tempat sa'i lama), setelah mengalami pelebaran yang dilakukan tahun 1375 H. Dan tembok yang membatasi tempat sa'i, ditetapkan berdasarkan fatwa Mufti besar kerajaan Saudi, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, setelah pembentukan panitia yang bertugas menetapkan batas tempat sa'i. Berdasarkan fatwa ini, maka pelebaran tempat sa'i telah maksimal.

gambar tempat sai baru

Keempat, sebagian anggota kibar ulama, dan beberapa ulama kontemporer lainnya berpendapat bolehnya melakukan sa'i di tempat yang baru. Diantaranya Samahah Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Dr. Abdullah al-Jibrin, Syaikh Abdullah bin Mani', Syaikh Dr. Khalid al-Muslih, Syaikh Dr. Khalid al-Musyaiqih, Syaikh Dr. Sa'd al-Khatslan, dan lembaga fatwa Dal-Ifta di Mesir.

Dalil yang mereka sampaikan, bahwa tempat ini masih termasuk dalam batas rentang diameter bukit shafa dan marwah, sebelum mengalami pemugaran di kaki bukit bagian timur. Hal ini ditetapkan berdasarkan penelitian ahli sejarah, ahli geografi, ahli geologi, serta para enjiner mengenai batas wilayah kedua bukit itu.

Juga berdasarkan persaksian sejumlah orang tua asli penduduk Mekah di depan Mahkamah, – sekitar 30 orang saksi – yang mereka menyatakan bahwa lebar wilayah sa'i mencakup tempat sa'i yang baru.

[al-Mas'a al-Jadid wa Tahmisy al-Kibar, hlm. 2]

Kelima, masalah ini adalah masalah besar. Tidak sembarang orang berhak berbicara dan memberikan komentar. Hanya ulama yang berhak untuk dikedepankan. Karena itu, tidak selayaknya masyarakat mengikuti komentar wartawan meja atau media sekuler, yang sama sekali bukan sumber ilmu.

Kajian masalah tempat sa'i yang baru adalah kajian fiqhiyah ilmiyah. Sementara situs berita, media liberal, tidak memiliki kapasitas dalam masalah ini.

Kita bisa mengambil pelajaran dari kasus-kasus sebelumnya. Mereka memanfaatkan suasana untuk menyebarkan isu dan berita dusta, demi memecah belah umat dan kaum muslimin.

Keenam, masalah keberadaan tempat sa'i baru hasil perluasan termasuk masalah khilafiyah fiqhiyah (perbedaan pendapat dalam masalah fikih). Sikap yang harus kita kedepankan adalah saling toleransi dan menghormati pendapat yang lain, tanpa diiringi dengan celaan dan menjelekkan yang tidak sependapat. Terlebih dikait-kaitkan dengan nama kelompok atau komunitas tertentu.

Di beberapa situs yang kurang bertanggung jawab, memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang orang lain dan memberikan tuduhan yang buruk kepada orang lain yang tidak sependapat dengannya. Jelas ini sikap kurang dewasa dalam masalash khilafiyah.

Beberapa situs berita dan media liberal menuding 'wahabi' hendak menyebarkan aqidah sesat di tengah umat dengan membangun tempat sa'i yang baru. Mereka maksudkan dengan gelar wahabi adalah para ulama rabbaniyin, baik yang tinggal di Saudi maupun luar Saudi.

Anda bisa menilai, bagaimana upaya mereka memancing di air keruh. Memanfaatkan suasana perbedaan pendapat ulama, untuk menghina ulama lainnya. Ini perbedaan ranah ijtihad. Masing-masing memiliki bukti dan dalil yang mendukung pendapatnya.

Semoga Allah membimbing kita untuk selalu meniti jalan kebenaran dan keadilan.

Allahu a'lam

Sumber:

  • Dar Ifta' Mesir: http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=3022
  • Keterangan Syaikh Abdullah bin Mani': http://majles.alukah.net/t15001/
  • Fatwa Dr. Sa'd al-Khatslan: http://www.saad-alkthlan.com/text-175
  • Keterangan Syaikh Alwi as-Saqqaf: http://www.dorar.net/art/101
  • Fatwa Dr. Khalid al-Musyaiqih: http://ar.islamway.net/fatwa/35908/ ما-حكم-السعي-في-المسعى-الجديد
  • Keterangan Dr. Ibrahim al-Fauzan: http://www.almoslim.net/node/92583

Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Selasa, 09 September 2014

KonsultasiSyariah: Hukum Hutang Uang, Bayar Emas

KonsultasiSyariah: Hukum Hutang Uang, Bayar Emas


Hukum Hutang Uang, Bayar Emas

Posted: 08 Sep 2014 07:36 PM PDT

Hutang Uang Dibayar Emas

Assalamuallaikim, Ustadz.
pada sekira bulan oktober tahun 2011, teman saya meminjam uang sebesar Rp.12.500.000,- dengan alasan untuk tambahan modal usahanya, dengan maksud membantu teman dalam usahanya,
setelah beberapa bulan dari peminjaman modal tersebut karena kesalahan administrasi usahanya bangkrut.
sejak saat itu saya sudah coba beberapa kali menagih namun dengan berbagai alasan belum dapat melunasi, sampai dengan saat ini, tahun 2014.
karena melihat keadaan usahanya, saya meminta pembayaran hutang dibayarkan dengan cara diangsur sesuai kesanggupannya perbulan, namun sampai saat ini hanya janji2, besok, besok dan besok.

 saya bermaksud merenegosiasi perjanjian hutang tersebut, yakni :
1. hutang uang Rp. 12.500.000,- dikonversikan kedalam bentuk emas (acuan harga jual emas Antam tahun 2011 atau saat renegosiasi perjanjian hutang dibuat).
2. membebaskan dalam hal pembayaran hutang sesuai kesanggupan / diangsur selama seumur hidup (lebih cepat lebih baik).
3. pembayaran angsuran didasarkan pada harga emas pada saat hari pembayaran angsuran.

Bagaimana solusinya, Ustadz  ?
kalau bulan oktober tahun 2011 harga emas Rp 547.000 per gram. dengan uang Rp. 12.500.000,- hanya bisa dibelikan 22,85 gram emas.
sedangkan bulan september tahun 2014 harga emas Rp 531.000 per gram. dengan uang Rp. 12.500.000,- bisa dibelikan 23,54 gram emas.
sedangkan pembayaran dilakukan seumur hidup.
bukankah uang merupakan investasi, dan emas juga merupakan investasi jangka panjang.
dan bukankah hutang harus dibayar ?

Mohon solusinya Ustadz.

Wassalamuallaikum.

Dari Teguh

JAWABAN:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Dalam hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menjual onta di Baqi' dengan dinar, dan mengambil pembayarannya dengan dirham. Kemudian beliau mengatakan,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: إِنِّي أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ، قَالَ: «لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَ بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا، وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ»

Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kusampaikan, "Saya menjual onta di Baqi' dengan dinar secara kredit dan aku menerima pembayarannya dengan dirham. Beliau bersabda,

"Tidak masalah kamu mengambil dengan harga hari pembayaran, selama kalian tidak berpisah, sementara masih ada urusan jual beli yang belum selesai." (HR. Ahmad 5555, Nasai 4582, Abu Daud 3354, dan yang lainnya).

Hadis ini menunjukkan, bahwa dalam utang dan pelunasan, dibolehkan dengan jenis mata uang yang berbeda atau dengan komoditas berbeda. Dinar, mata uang dari bahan emas. Sedangkan dirham, mata uang dari bahan perak. Sementara mata uang lainnya, dianalogikan dengan dinar dan dirham, selama keduanya digunakan sebagai alat tukar.

Karena itu, utang uang boleh dibayar dengan emas, atau utang rupiah dibayar dengan dollar, dengan syarat,

  1. Kesepakatan beda jenis pembayaran ini tidak dilakukan pada saat utang, namun baru disepakati pada saat pelunasan.
  2. Menggunakan standar harga waktu pelunasan, dan bukan harga waktu utang.

Dalam fatwa Dar Ifta Yordan dinyatakan,

يجوز للمقترض وفاء قرضه بغير الجنس أو النوع الذي اقترض به، كالذهب بدلاً من الأوراق النقدية، ولكن بشرطين:
الأول: أن لا يكون قد سبق الاتفاق على هذا الأمر (عند الاتحاد في علة الربا)، بل عرض عند الوفاء، فإن الاتفاق على الوفاء بالذهب بدلاً عن الأوراق من غير تنفيذ ذلك عاجلاً يوقع في ربا النسيئة.
الثاني: أن يعتمد سعر الذهب يوم الوفاء، وليس يوم القرض.

Boleh bagi orang yang berutang untuk melunasi utangnya dengan selain mata uang yang dia terima ketika utang, seperti emas sebagai ganti mata uang. Hanya saja dengan dua syarat,

Pertama, tidak didahului dengan kesepakatan sebelumnya untuk bentuk pelunasan ini (memiliki kesamaan adanya celah riba). Namun baru disepakati ketika pellunasan. Karena kesepakatan untuk pelunasan dengan emas sebagai ganti uang tanpa diserahkan langsung, termasuk riba nasiah.

Kedua, harus mengacu pada harga emas pada waktu pelunasan, dan bukan waktu utang.

http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2032#.VAfLYdeSz6d

Keterangan di atas, berdasarkan keputusan Majma' al-Fiqhi al-Islami no. 75 (6/7), yang menyatakan,

يجوز أن يتفق الدائن والمدين يوم السداد – لا قبله – على أداء الدين بعملة مغايرة لعملة الدين، إذا كان ذلك بسعر صرفها يوم السداد

Boleh dilakukan kesepakatan antara kreditur dan debitur pada waktu pelunasan – bukan pada waktu sebelumnya – untuk pelunasan utang dengan mata uang yang berbeda dengan mata uang ketika utang. Jika estándar harga sesuai harga tukar uang itu, waktu pelunasan.

Berdasarkan penjelasan di atas, pada hakekatnya nilai uatng itu sama sekali tidak berubah. Hanya saja, alat pembayarannnya yang berbeda. Jika tahun 1990 Si A menghutangi si B senilai 1 jt, tahun 2014, si A hanya berhak menerima pelunasan senilai 1 jt rupiah, baik dalam bentuk uang, atau emas, atau dollar, atau barang, dst.

Kembali pada kasus yang anda sampaikan, tahun 2011 anda mengutangi si A Rp.12.500.000. dan akan dilunasi tahun 2014. Ada beberapa kasus:

  1. Anda menuntut si A membayar 12,5 jt tanpa ada perubahan, baik dibayar sekarang atau besok.
  2. Anda menuntut si A membayar 12,5 jt dalam bentuk emas dan dibayar sekarang jika memungkinkan.
  3. Anda membuat kesepakatan dengan si A, utang 12,5 jt dikonversi menjadi emas pada 2014 (senilai 23,5 gr), dan ini menjadi untuk pelunasan utang berikutnya.

Untuk kasus poin a dan poin b, dibenarkan. Sesuai fatwa yang disebutkan di atas. Sementara untuk kasus poin c, ini termasuk dalam pelanggaran riba nasiah. Riba karena penundaan. Karena dengan cara ini, nilai 12,5 jt yang anda berikan, akan terus berubah-ubah, mengikuti perubahan harga emas.

Dan di sini ada dua kemungkinan, bisa jadi anda untung, jika harga emas terus naik. Atau anda rugi, jika ternyata harga emas terus mengalami penurunan.

Memberi Utang itu Sedekah

Memberi utang orang lain memang berat. Terlebih jika yang kita utang model manusia muka tembok, kayak belut yang suka berkelit. Atau dia mengalami kegagalan ekonomi, yang menuntut kita untuk bersabar. Karena itu, islam memberikan janji baik bagi orang yang mengutangi orang lain.

Dalam hadis, dari Ibn Mas'ud, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

كل قرض صدقة

"Setiap menghutangi orang lain adalah sedekah." (HR. Thabrani dengan sanad hasan, al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albani)

Kemudian, hadis dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ada seseorang yang masuk surga, kemudian dia melihat ada tulisan di pintunya,

الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمانية عشر

"Sedekah itu nilainya sepuluh kalinya dan hutang nilainya 18 kali." (HR. Thabrani, al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib)

Untuk itu, islam memberikan aturan dalam masalah utang-piutang, agar orang yang memberikan utang (kreditur) tidak terjebak dalam kesalahan dan dosa besar, seperti kedzaliman atau riba, yang semua itu akan membuat amalnya sia-sia. Bersabar dan doakan agar teman anda bisa segera melunasi utangnya.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Anak Telat Bicara dan Sulit Konsentrasi

Posted: 08 Sep 2014 06:42 PM PDT

Usia Hampir 3 Tahun, Anak Telat Bicara

Anak saya 2 tahun 10 bulan jenis kelamin wanita saya dah check semua normal tht tapi tidak konsen apakah yang harus saya lakukan..biar
normal sepertianak yang lain

Dari Bpk. Sugiarto

Jawaban:

Anak usia 2 tahun 10 bulan, dalam sektor perkembangan bahasa umumnya telah memiliki puluhan kosa kata, mengkombinasikan kata dan berbicara dalam kalimat pendek yang dapat dimengerti. Perhatian yang konstan ketika mendengarkan pembicaraan di sekitarnya dan saat diajak bicara memang sangat vital dalam perkembangan bahasa ini. Jika anak kesulitan untuk berkonsentrasi, maka “tabungan kosakata” nya akan sulit bertambah. Sebagian anak memiliki karakter aktif dan susah diam, sehingga terkesan sulit berkonsentrasi saat diajarkan. Namun dengan sedikit trik, seperti menciptakan suasana tenang untuknya belajar dan menjauhkan objek yang dapat menganggu, atau terus menerus mengajaknya berbicara dan bertanya kepadanya untuk memancing responnya (sambil bermain atau mengerjakan kegiatan sehari-hari di rumah), anak seperti ini akan lebih mudah membangun kemampuan bicaranya. Atau anak memang “telat bicara” karena tipenya pemalu, meski sebenarnya ia telah paham dan memiliki kosakata yang banyak dalam benaknya. Orang tua perlu lebih aktif mengajaknya bicara, jika perlu dengan cara mengajaknya tempat yang ia sukai seperti pantai atau kebun binatang sebagai pancingan agar ia mau berbicara dan bercerita.

Gangguan konsentrasi yang lebih serius adalah tipe gangguan perkembangan yang disebut dengan ADHD, Attention Deficit Hyperactive Disorder, dimana diantara cirinya antara lain adalah:

  • Inatensi. Tidak mampu memusatkan perhatian pada satu objek dalam waktu lama. Anak sangat cepat bosan dan beralih ke benda-benda atau kegiatan lain dengan cepat.
  • Hiperaktif. Anak sangat aktif sepanjang harinya, tidak betah diam dalam satu ruangan, bahkan sering mencoba kegiatan yang dapat membahayakan dirinya tanpa rasa takut.
  • Impulsif.

Gangguan ini dapat dideteksi dengan membawa anak ke klinik tumbuh kembang atau dokter spesialis anak, lebih spesifik lagi yang memiliki keterampilan khusus dalam menangani gangguan tumbuh kembang pada anak. Saran kami, sebaiknya Bapak membawa anak untuk diperiksakan ke klinik tersebut. Jika diagnosisnya benar ADHD, maka dokter akan memberitahukan langkah-langkah terapi selanjutnya yang diperlukan. Tidak lupa kami sampaikan agar Bapak dan keluarga bersabar merawat dan mendidik si kecil dengan mengharap ridha Allaah Ta’ala semata, dan terus berdo’a kepadaNya untuk kebaikan si kecil.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh dr Hafidz (Pengasuh Rubrik Kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Lama Imam Mahdi Memimpin di Bumi

Posted: 07 Sep 2014 09:55 PM PDT

Berapa Lama Imam Mahdi Memimpin di Bumi

Tanya:

Apakah ada hadits yang menyebutkan berapa lama Imam Mahdi imenjalankan kekuasaan?

Trima kasih

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Dinyatakan dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، أَقْنَى الْأَنْفِ، يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا، كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا، يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِينَ

Al-Mahdi itu keturunanku, dahinya lebar, hidungnya mancung. Dia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kebijaksanaan, sebagaimana sebelumnya penuh dengan kedzaliman dan kecurangan. Dia memimpin selama 7 tahun. (HR. Abu Daud 4285 dan dihasankan al-Albani).

Keterangan:

Beliau memimpin selama 7 tahun, diberi catatan oleh al-Munawi,

(يملك سبع سنين) زاد في رواية أو ثمان أو تسع

"Beliau memimpin selama 7 tahun. Dalam satu riwayat ada tambahan, 8 tahun atau 9 tahun." (Faidhul Qodir, 6/278).

Diantara riwayat yang menyebutkan 8 tahun adalah hadis Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu secara marfu',

يَخْرُجُ فِي آخِرِ أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ يَسْقِيهِ اللَّهُ الْغَيْثَ، وَتُخْرِجُ الْأَرْضُ نَبَاتَهَا، وَيُعْطِي الْمَالَ صِحَاحًا، وَتَكْثُرُ الْمَاشِيَةُ وَتَعْظُمُ الْأُمَّةُ، يَعِيشُ سَبْعًا أَوْ ثَمَانِيًا، يَعْنِي حِجَجًا

Al-Mahdi akan keluar di penghujung ganarasi umatku. Allah berikan hujan untuknya, tanah menumbuhkan tanamannya, Dia berikan harta dengan cara baik, banyak binatang ternak dan umat menjadi kuat. Dia hidup selama tujuh atau delapan tahun. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak 8673 dan dishahihkan ad-Dzahabi).

Makna teks dari hadis di atas menunjukkan rentang masa kepemimpinan al-Mahdi, sejak beliau dibaiat, hingga beliau diwafatkan oleh Allah.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial