Jumat, 31 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Doa Ketika Ketakutan

KonsultasiSyariah: Doa Ketika Ketakutan


Doa Ketika Ketakutan

Posted: 30 Oct 2014 06:49 PM PDT

Doa Ketika Ketakutan

Assalam ustad….saya lizar di aceh saya mau bertanya bagaimana cara menghilangkan perasaan ketakutan yang berlebihan…..klo saya sekarang sprti ketakutan ja….wassalam….

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Dari Zainab bintu Jahsy Radhiyallahu ‘anha,

دَخَلَ عَلَيْهَا فَزِعًا يَقُولُ « لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ » . وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الإِبْهَامِ وَالَّتِى تَلِيهَا . قَالَتْ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ: نَعَمْ ، إِذَا كَثُرَ الْخُبْثُ

Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk ke dalam rumahnya dalam kondisi sangat ketakutan, beliau mengucapkan,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ

Laa ilaaha illaallah, waspadalah orang arab, akan datangnya bahaya yang dekat waktunya. Hari ini telah dibuka benteng Yakjuj dan Makjuj sebesar ini.

Kemudian beliau membuat lingkarang antara jempol dengan telunjuk.

Zainab bertanya, 'Ya Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan, sementara di tengah kita banyak orang shaleh?'

Jawab beliau,

نَعَمْ ، إِذَا كَثُرَ الْخُبْثُ

"Ya, jika maksiat meraja lela." (HR. Bukhari 3346 & Muslim 2880)

Keterangan:

1. Hadis ini dijadikan rujukan oleh para ulama tentang bacaan ketika seseorang mengalami ketakutan. Dalam kondisi ketakutan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca, 'Laa ilaaha illallah'.

Karena itu, Dr. Sa'd bin Wahf al-Qahthani dalam Hisnul Muslim – kumpulan doa dari al-Quran dan Hadis Shahih – memasukkan kalimat ini sebagai doa ketika ketakutan. Beliau mengatakan,

مَا يُقَالُ عِنْدَ الفَزَعِ

"Bacaan ketika sangat ketakutan" (Hisnul Muslim, hlm. 141)

2. Beliau menyebut orang arab 'Waspadalah orang arab', karena ketika itu mayoritas orang mukmin adalah orang arab.

3. Benteng Yakjuj dan Makjuj adalah benteng yang dibuat oleh raja Dzulqarnain beribu-ribu tahun yang lalu. Dan Yakjuj dan Makjuj berusaha melubanginya untuk membebaskan diri. Mereka sempat berhasil melubangi hingga terbuka selebar lingkaran jempol dengan telunjuk. Namun Allah kembalikan dan ditutup kembali. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, hingga mereka akan keluar di akhir zaman.

Kemudian kita menasehatkan bagi siapapun yang mengalami penyakit ketakutan akut, agar dia bertawakal kepada Allah dan pasrah terhadap semua ketetapan Allah. Dengan demikian, dia bisa lebih tenang dan hatinya tidak sibuk memikirkan apa yang belum jelas baginya.

Balasan bagi mereka yang bertawakkal, Allah akan memberikan jalan keluar terbaik.

Allah berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah yang akan mencukupinya. (QS. at-Thalaq: 3)

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Jika Puasa Daud, Jangan Mikir Puasa Sunah Lain

Posted: 30 Oct 2014 02:56 AM PDT

Jika Puasa Daud, Jangan Mikir Puasa Sunah Lain

Assalamu’@laikum ustad…,misalkan saya menjalankan ibadah puasa sunnah nabi daud sehari puasa sehari tidak,trus apabila hari ini saya puasa n besoknya saya puasa lagi disebabkan  karena puasa arafah…,itu boleh nggak ustad

Dari Abdul Ghafur

Jawab:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah, 

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Puasa Daud merupakan puasa sunah terbaik. Terdapat banyak hadis yang menyebutkan hal itu. Diantaranya hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

"Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Beliau sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa." (HR. Bukhari 3420, Muslim 1159, dan yang lainnya).

Sebagian ulama berpendapat, diantara aturan puasa Daud yang perlu diperhatikan, bahwa orang yang merutinkan puasa Daud maka dia tidak diperbolehkan melakukan puasa sunah yang lainnya. Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah riwayat yang menceritakan tentang rencana puasa sunah tiap hari yang hendak dilakukan Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma.

Berikut hadis selengkapnya,

Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu 'anhuma pernah menyampaikan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang rencananya untuk berpuasa setiap hari. Mendengar rencana ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarangnya dan menasehatkan agar puasa 3 hari tiap bulan. Namun Abdullah bin Amr tetap mendesak untuk melakukan lebih, "Aku mampu untuk mengerjakan yang lebih dari itu."

Hingga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menasehatkan puasa Daud,

صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا، وَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام، وَهُوَ أَعْدَلُ الصِّيَامِ

"Sehari puasa, sehari tidak puasa. Itulah puasa Daud 'alaihis salam dan itu puasa paling baik."

Abdullah bin Amr tetap mendesak untuk lebih, "Aku mampu untuk mengerjakan yang lebih dari itu."

Namun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarangnya, dan menegaskan,

لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

"Tidak ada yang lebih utama dari pada puasa Daud." (HR. Bukhari 3418, Muslim 1159).

Dalam riwayat lain, ketika Abdullah bin Amr meminta puasa sunah tambahan,

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarangnya, untuk melakukan lebih dari puasa Daud,

فَصُمْ صِيَامَ نَبِيِّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ،  وَلاَ تَزِدْ عَلَيْهِ

"Lakukan puasa Nabi Daud 'alaihis salam dan jangan kamu tambah melebihi hal itu." (HR. Ahmad 6867, Bukhari 1975, dan yang lainnya).

Bahkan Ibnu Hazm berpendapat bahwa orang yang melaksanakan puasa sunah lebih dari rutinitas puasa Daudnya maka dia tidak mendapat pahala untuk puasa tambahan yang dia lakukan. Dalam karyanya Al-Muhalla, Ibn Hazm menegaskan,

وإذا أخبَر عليه السلام أنه لا أفضل من ذلك فقد صح أن من صام أكثر من ذلك فقد انحطَّ فضلُه ، وإذا انحطَّ فضلُه فقد حبطت تلك الزيادة بلا شك ، وصار عملاً لا أجر له فيه ، بل هو ناقص من أجره ، فصح أنه لا يحلُّ أصلاً

Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa tidak ada yang lebih afdhal dibandingkan puasa Daud, maka kesimpulan yang benar bahwa orang yang berpuasa lebih dari puasa Daud, telah menggugurkan nilai afdhalnya. Dan jika menggugurkan nilai afdhalnya, berarti tambahan puasa yang dia lakukan menjadi gugur tanpa ragu lagi. Sehingga menjadi amal yang tidak berpahala. Bahkan ini mengurangi pahalanya. Sehingga puasa semacam ini sama sekali tidak halal. (Al-Muhalla, 4/432).

Berdasarkan keterangan di atas, bagi anda yang sedang menjalani puasa Daud, rutinkan puasa terbaik ini secara istiqamah, dan anda tidak perlu mikir puasa sunah yang lainnya. Sekalipun tidak mendapatkan kesempatan puasa arafah atau puasa Asyura. Karena jika orang yang menjalankan puasa Daud masih memikirkan puasa lainnya, akan mengganggu rutinitas puasa Daudnya.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Keguguran, Harus Kuret atau Bisa Pakai Obat?

Posted: 30 Oct 2014 12:16 AM PDT

Keguguran, Pakai Kuret atau Obat?

Pertanyaan:

Pada tanggal 19 september saat saya BAK di pagi hari keluar gumpalan daging dan maaf CD juga penuh darah tapi setalah jam10 pagi sudah tidak keluar lagi. dan pada tanggal 3 oktober saya periksa ke bidan setelah di USG ternyata janinnya tidak berkembang dan disuruh balik lagi 2 minggu dan dikasih resep obat. setelah 2 minggu saya USG lagi ternyata masih tidak berkembang dan saya disuruh ke RS untuk konsultasi lebih lanjut antara dikuret atau pakai obat. sejujur nya saya sangat takut di kuret apakah ada cara lain selain di kuret dan biaya kuret pun sangat mahal.

Jawab:

Sebelumnya anda perlu mengetahui ada dua jenis abortus/keguguran:

  1. Abortus komplet. Yaitu hampir semua sisa jaringan keluar dari rahim, umumnya jenis abortus ini tidak perlu dilakukan kuret.
  2. Abortus inkomplet. Yaitu masih ada sisa jaringan yang tertinggal sehingga membutuhkan kuret untuk membersihkannya.

Kuret juga tidak mesti karena keguguran, bisa juga untuk membersihkan rahim dari jaringan-jaringan yang mati dan tidak berfungsi, jika dibiarkan maka akan berbahaya bagi kondisi rahim. Misalnya endometriosis, membersihkan sisa plasenta setelah melahirkan atau digunakan untum mengambil sedikit contoh jaringan dalam rahim untum diperiksa.

Untuk kasus anda, yaitu janin mati dalam kandungan memang disarankan untuk melakukan kuretase. Karena jika dibiarkan lama bisa jadi kondisi janin yang mati didalam akan menganggu rahim dan tubuh secara umum. Memang ada mekanisme tubuh mengeluarkannya secara perlahan, tetapi hal ini lama dan belum tentu menjamin. Kemudian jika keluar juga nantinya, belum bisa menjamin apakah ada sisa jaringan yang tertinggal di dalam.

Obat digunakan pada abortus jenis imminens yaitu terancam keguguran. Terapinya adalah tirah baring, istirahat total dan mengurangi aktifitas. Diberikan obat penguat rahim dan menghilangkan kontraksi. Untuk tipe lainnya seperti abortus inkomplit membtuhkan kuret untuk membersihkannya.

Kami sarankan anda jika memang benar janin sudah tidak berkambang dengan diagnosa pasti, segera periksa kembali ke dokter. Minta pertimbangan dan jika akan kuret , maka semakin cepat semakin baik. Untuk masalah dana, biaya kuret tidak terlalu mahal, ada beberapa paket dan program dari rumah sakit untuk memudahkan bagi mereka yang tidak mampu. Apalagi sekarang ada program BPJS, silahkan anda mengikutinya jika anda berpegang dengan pendapat ulama atau ustadz yang memperbolehkannya.

Dijawab oleh dr. Raehanul Bahraen (pengasuh kesehatan www.konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Kamis, 30 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Ngobrol dengan Istri, Berpahala!

KonsultasiSyariah: Ngobrol dengan Istri, Berpahala!


Ngobrol dengan Istri, Berpahala!

Posted: 29 Oct 2014 07:10 PM PDT

Ngobrol dengan Istri, Berpahala!

Assalammualaikum wr.wb ..

pak ustad yg sya hormati .. ada seorang ibu rumah tngga berumur 22 tahun. Suaminya berumur 36 tahun.  Suaminya sering keluar malam, pulang subuh hanya karena bertemu teman2nya dan mengobrol yang tidak jelas. bagaimana pendapat islam tentang hal tersebut .. Terima kasih.

Mentari 

Jawab:

Wa’alaikumus salam Wa Rahmatullah wa Barakatuh,

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Sebelumnya, kita akan mengkaji hukum melakukan kegiatan mubah di waktu setelah isya. Bagian dari sunatullah, Allah jadikan waktu malam penuh ketenangan waktu siang untuk bekerja,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ ، وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ، إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar. (QS. Yunus: 67)

Artinya waktu malam adalah waktu untuk istirahat di rumah, tidak menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan, apalagi untuk kegiatan yang tidak ada manfaatnya. Dan itulah kodrat manusia.

Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang obrolan yang dilakukan setelah isya. Terdapat hadis dari Abu Barzah Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat isya dan ngobrol setelah isya. (HR. Bukhari 568, Muslim 1496, dan yang lainnya).

Kita akan simak beberapa keterangan ulama mengenai hadis di atas.

An-Nawawi mengatakan,

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى كَرَاهَة الْحَدِيث بَعْدهَا إِلَّا مَا كَانَ فِي خَيْر

Para ulama sepakat, makruh ngobrol setelah isya, kecuali yang di dalamnya ada kebaikan. (Syarh Shahih Muslim, 5/146).

Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan,

وَالسَّمَر بَعْدَهَا قَدْ يُؤَدِّي إِلَى النَّوْم عَنْ الصُّبْح ، أَوْ عَنْ وَقْتهَا الْمُخْتَار ، أَوْ عَنْ قِيَام اللَّيْل. وَكَانَ عُمَر بْن الْخَطَّابِ يَضْرِب النَّاس عَلَى ذَلِكَ وَيَقُول : أَسَمَرًا أَوَّلَ اللَّيْل وَنَوْمًا آخِرَهُ ؟

Bergadang setelah isya bisa menyebabkan ketiduran sehingga tidak shalat subuh, atau kesiangan ketika shalat subuh, atau tidak melakukan shalat malam. Bahkan Umar bin Khatab memukul orang-orang yang bergadang (ngobrol), sambil mengatakan, 'Apakah mereka bergadanng di awal malam dan tidur di akhir malam?.' (Fathul Bari, 2/73)

Makruh untuk Obrolan dalam Perkara Mubah

Hukum makruh di atas, berlaku untuk obrolan perkara mubah. Jika kegiatan yang asalnya mubah menjadi dibenci karena dilakukan setelah isya, maka kegiatan yang asalnya haram, hukumnya lebih terlarang jika dilakukan setelah isya.

An-Nawawi menyebutkan rincian hukum kegiatan setelah isya,

ويُكره لمن صلى العشاء الآخرة أن يتحدَّثَ بالحديث المباح في غير هذا الوقت وأعني بالمُباح الذي استوى فعله وتركه‏.‏ فأما الحديث المحرّم في غير هذا الوقت أو المكروه فهو في هذا الوقت أشدّ تحريماً وكراهة‏.

Setelah shalat isya, dimakruhkan untuk melakukan obrolan yang hukum asalnya mubah. Yang saya maksud dengan mubah, obrolan yang jika dilakukan maupun ditinggalkan statusnya sama saja. Adapun obrolan yang hukum asalnya haram atau makruh, jika dilakukan setelah isya hukumnya lebih teralarang.

Yang dikecualikan dari hukum di atas adalah kegiatan yang hukum asalnya dianjurkan atau kegiatan yang sifatnya ibadah, seperti belajar agama, menjamu tamu, berdzikir dan semacamnya. An-Nawawi melanjutkan keterangannya,

‏ وأما الحديثُ في الخير كمذاكرة العلم وحكايات الصالحين ومكارم الأخلاق والحديث مع الضيف فلا كراهةَ فيه، بل هو مستحبّ

Adapun obrolan dalam kebaikan, seperti belajar, membaca sirah orang shaleh, melakukan akhlak mulia, melayani tamu, hukumnya tidak makruh, bahkan anjuran. (al-Adzkar, hlm. 372).

Imam Bukhari juga menyampaikan keterangan yang sama. Dalam shahihnya, beliau menyebutkan judul bab:

باب السَّمَرِ فِى الْفِقْهِ وَالْخَيْرِ بَعْدَ الْعِشَاءِ

Bab bolehnya bergadang untuk belajar agama atau kebaikan setelah isya.

Selanjutnya, beliau menyebutkan hadis yang bercerita, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda shalat isya hingga tengah malam, agar para sahabat mendapat kesempatan pahala menunggu shalat isya dalam rentang yang lama.

Obrolan dengan Istri Berpahala?

Yang menarik di sini, para ulama memasukkan kegiatan obrolan dengan istri dan keluarga, statusnya sebagaimana belajar ilmu agama atau melayani tamu. Kerena itu, mereka menggolongkan obrolan dengan istri dan keluarga termasuk kegiatan yang boleh dilakukan setelah isya.

Setelah menyebutkan bab tentang bolehnya bergadang untuk belajar agama, imam Bukhari menyebutkan kegiatan lain yang hukumnya sama,

باب السَّمَرِ مَعَ الضَّيْفِ وَالأَهْلِ

Bab bolehnya bergadang dalam rangka melayani tamu dan ngobrol bersama istri. (Shahih Bukhari, bab no. 41).

Dan semacam ini dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para istri beliau. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, menceritakan pengalamannya dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menginap di rumah bibinya, Maimunah, yang merupakan salah satu istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seusai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat isya, beliau pulang ke rumahnya Maimunah, lalu shalat 4 rakaat. Kemudian beliau berbincang-bincang dengan istrinya.

Karena itu, para ulama menilai obrolan dengan istri dan anak, termasuk kegiatan yang ada maslahatnya. An-Nawawi menyebutkan jenis-jenis kegiatan setelah isya yang diperbolehkan,

قَالَ الْعُلَمَاء : وَالْمَكْرُوه مِنْ الْحَدِيث بَعْد الْعِشَاء هُوَ مَا كَانَ فِي الْأُمُور الَّتِي لَا مَصْلَحَة فِيهَا. أَمَّا مَا فِيهِ مَصْلَحَة وَخَيْر فَلَا كَرَاهَة فِيهِ , وَذَلِكَ كَمُدَارَسَةِ الْعِلْم , وَحِكَايَات الصَّالِحِينَ , وَمُحَادَثَة الضَّيْف ، وَالْعَرُوس لِلتَّأْنِيسِ , وَمُحَادَثَة الرَّجُل أَهْله وَأَوْلَاده لِلْمُلَاطَفَةِ وَالْحَاجَة

Para ulama mengatakan, obrolan yang makruh setelah isya adalah obrolan yang tidak ada maslahatnya. Adapaun kegiatan yang ada maslahatnya dan ada kebaikannya, tidak makruh. Seperti belajar ilmu agama, membaca cerita orang soleh, ngobrol melayani tamu, atau penantin baru untuk keakraban, atau suami ngobrol dengan istrinya dan anaknya, mewujudkan kesih sayang dan hajat keluarga. (Syarh Shahih Muslim, 5/146).

Ini semua menunjukkan bahwa obrolan dengan istri dan anak, termasuk bentuk ibadah. Sayangnya, suami yang kurang cerdas, lebih memilih ngobrol dengan teman dari pada ngobrol dengan istri.

Allahu a'lam..

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Hukum Obat Oles Agar Tidak Ejakulasi Dini

Posted: 29 Oct 2014 12:26 AM PDT

Menggunakan Obat Oles Agar Tidak Ejakulasi Dini

Assalamualaikum..ustad menurut syariat bolehkah kita menggunakan obat minyak oles agar tidak ejakulasi dini pada saat berhubungan dengan istri, mohon petunjuk dan nasihatnya.syukron

via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa alaikumus salam Wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Allah memerintahkan kepada para suami untuk bersikap sebaik mungkin terhadap istrinya (husnul mu'asyarah), Allah berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Bersikaplah yang baik kepada istri-istri kalian. Apabila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. an-Nisa: 19).

Jika kita perhatikan, berbagai ayat dan hadis yang berbicara tentang masalah keluarga, kita bisa menyimpulkan bahwa syariat sangat menganjurkan terwujudnya keluarga sakinah. Karena lahirnya masyarakat yang baik, berawal dari keluarga yang baik. Allah perintahkan para istri untuk taat dan berkhidmat kepada suami, sebaliknya, Allah perintahkan suami untuk memberikan husnul mu'asyarah (sikap terbaik bagi istrinya). Termasuk di dalamnya, memenuhi nafkah lahir batin semampunya.

Terdapat sebuah hadis dari Anas bin Malik secara marfu',

إذا غشي الرجل أهله فليصدقها، فإن قضى حاجته ولم تقض حاجتها فلا يعجلها

Apabila suami menggauli istrinya, hendaknya dia membenarkan istrinya. Jika suami telah 'keluar' sementara istri belum 'keluar', maka janganlah suami terburu-buru. (HR. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf, no. 10468).

Hadis ini dinilai lemah, karena sanadnya terputus lebih dari satu. Hadis ini diriwayatkan Abdurazaq dari Ibnu Juraij, dari Anas bin Malik. Padahal Abdurrazaq tidak meriwayatkan dari Ibnu Juarij, dan Ibnu Juraij tidak meriwayatkan dari satupun sahabat.

Akan tetapi, hadis di atas, meskipun sangat dhaif (lemah), hanya saja maknanya sesuai dengan prinsip umum dalam berumah tangga, memberikan hak yang sama kepada istri sebagaimana hak yang dimiliki suami.

Al-Mardawi mengatakan,

ولا ينزع إذا فرغ قبلها حتى تفرغ، يعني أنه يستحب ذلك فلو خالف كره له

Suami tidak boleh langsung melepas setelah dia ejakulasi sebellum istrinya, sampai istrinya juga ejakulasi. Atrinya dianjurkan bagi suami untuk melakukannya (menunggu istri 'keluar'). Jika suami sengaja tidak melakukannya, maka itu makruh. (al-Inshaf, 8/265)

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, dijelaskan makna hadis dhaif ini,

فالمقصود أن على الرجل إعفاف زوجته والحرص على أن تستمتع بالجماع كما يستمتع هو به، ويتخذ الأسباب المؤدية إلى ذلك كأن يعرض نفسه على طبيب، أو يستعمل علاجاً ونحو ذلك

Maksudnya, bahwa seorang suami harus memenuhi kebutuhan biologis istri dan mengupayakan agar istri turut menikmati hubungan badan itu, sebagaimana dia menikmatinya. Dia bisa melakukan beberapa tindakan untuk mewujudkan hal itu, misalnya diperiksakan ke dokter atau menggunakan obat atau semacamnya. (Fatawa Syabakah Islamiyah, 25893)

Berdasarkan pertimbangan di atas, Lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah menganjurkan agar suami yang mengalami ejakulasi dini untuk menggunakan obat atau cara lainnya dalam rangka mengobati kekurangannya. Salah satu penanya mengutarakan, bolehkah menggunakan obat untuk mengatasi ejakulasi dini.

Jawab Lajnah,

فلا حرج في استعمال الدواء المذكور إذا كان – كما قال السائل- لا يترتب على استعماله ضرر ، ولم يكن في تركيبته شيء محرم؛ لأن سرعة القذف تعتبر مرضا يفوت حسن معاشرة الزوجة المأمور به شرعا، لذلك ينبغي علاجها والتداوي

Tidak masalah menggunakan obat tersebut, selama tidak ada efek samping yang membahayakan dan tidak ada unsur yang haram. Karena ejakulasi dini termasuk penyakit yang mengurangi kemampuan suami dalam husnul mu'asyarah (sikap terbaik) kepada istrinya, yang itu diperintahkan oleh syariat. Karena itu, selayaknya diobati dan disembuhkan. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 183499).

Diantara tips untuk mengatasi ED, anda bisa pelajari:

Untuk obat olesnya: Herbal Hajar Jahanam Obat Kuat Alami untuk Pasutri

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.

Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Rabu, 29 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Tanda-tanda Stroke

KonsultasiSyariah: Tanda-tanda Stroke


Tanda-tanda Stroke

Posted: 28 Oct 2014 08:33 PM PDT

Tanda-tanda Stroke

Pertanyaan:

Bagaimana mengetahui seseorang terkena stroke? Keluarga kami ada riwayat darah tinggi dan penyakit jantung, jadi khawatir kalau mudah terserang stroke. Terima kasih atas jawabannya.

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada kami.

Kejadian stroke dapat berlangsung dengan cepat dan fatal, jika tidak segera ditangani. Beberapa tanda seseorang kemungkinan mengalami stroke adalah:

  • Perasaan baal, kram, lemah yang mendadak, atau kehilangan kemampuan gerak mendadak di wajah, lengan atau kaki, khususnya di separuh bagian tubuh.
  • Perubahan penglihatan mendadak, seperti mendadak kabur atau bahkan gelap sama sekali.
  • Mendadak sulit berbicara (“pelo”).
  • Mendadak mengalami kebingungan atau sulit memahami kalimat sederhana..
  • Mendadak sulit berjalan atau menjaga keseimbangan.
  • Mengalami nyeri kepala yang sangat berat dan memuncak dengan tiba-tiba, yang berbeda dari sakit kepala sebelumnya.

Mereka yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, dan hiperkolesterolemia memang memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena stroke, oleh karena itu, kami sarankan untuk rutin memeriksakan diri ke dokter untuk mengecek kesehatan, jalani gaya hidup sehat, dan perhatikan benar tanda-tanda awal stroke seperti diatas. Jika mengalami satu atau lebih tanda tersebut, segera ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh dr Hafidz (Pengasuh Rubrik Kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Makna “Anak Tergadaikan dengan Aqiqahnya”

Posted: 28 Oct 2014 06:52 PM PDT

Anak Tergadaikan dengan Aqiqahnya

Apa makna hadis, setiap anak tergadai dengan aqiqahnya? Dan apakah hadisini shahih? Terima kasih.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Hadis yang anda sebutkan statusnya shahih, dari sahabat Samurah bin Jundub radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى

"Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama." (HR. Ahmad 20722, at-Turmudzi 1605, dan dishahihkan al-Albani).

Ulama berbeda pendapat tentang makna kalimat 'Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya'.

Berikut rincian perbedaan keterangan ulama tentang makna hadis,

Pendapat Pertama, syafaat yang diberikan anak kepada orang tua tergadaikan dengan aqiqahnya. Artinya, jika anak tersebut meninggal sebelum baligh dan belum diaqiqahi maka orang tua tidak mendapatkan syafaat anaknya di hari kiamat.

Pendapat ini diriwayatkan dari Atha al-Khurasani – ulama tabi'in – dan Imam Ahmad. Al-Khithabi menyebutkan keterangan Imam Ahmad.

قال أحمد : هذا في الشفاعة يريد أنه إن لم يعق عنه فمات طفلاً لم يُشفع في والديه

Menurut Imam Ahmad, hadis ini berbicara mengenai syafaat. Yang beliau maksudkan, bahwa ketika anak tidak diaqiqahi, kemudian dia meninggal masih bayi, tidak bisa memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya. (Ma'alim as-Sunan, 4/285)

Semetara keterangan dari Atha' al-Khurasani diriwayatkan al-Baihaqi dari jalur Yahya bin Hamzah, bahwa beliau pernah bertanya kepada Atha', tentang makna 'Anak tergadaikan dengan aqiqahnya.' Jawab Atha',

يحرم شفاعة ولده

"Dia (ortu) tidak bisa mendapatkan syafaat anaknya." (Sunan al-Kubro, al-Baihaqi, 9/299)

Pendapat Kedua, keselamatan anak dari setiap bahaya itu tergadaikan dengan aqiqahnya. Jika diberi aqiqah maka diharapkan anak akan mendapatkan keselamatan dari mara bahaya kehidupan. Atau orang tua tidak bisa secera sempurna mendapatkan kenikmatan dari keberadaan anaknya. Ini merupakan keterangan Mula Ali Qori (ulama madzhab hanafi). Beliau mengatakan,

مرهون بعقيقته يعني أنه محبوس سلامته عن الآفات بها أو أنه كالشيء المرهون لا يتم الاستمتاع به دون أن يقابل بها لأنه نعمة من الله على والديه فلا بد لهما من الشكر عليه

Tergadaikan dengan aqiqahnya, artinya jaminan keselamatan untuknya dari segala bahaya, tertahan dengan aqiqahnya. Atau si anak seperti sesuatu yang tergadai, tidak bisa dinikmati secara sempurna, tanpa ditebus dengan aqiqah. Karena anak merupakan nikmat dari Allah bagi orang tuanya, sehingga keduanya harus bersyukur. (Mirqah al-Mafatih, 12/412)

Pendapat  Ketiga, Allah jadikan aqiqah bagi bayi sebagai sarana untuk membebaskan bayi dari kekangan setan. Karena setiap bayi yang lahir akan diikuti setan dan dihalangi untuk melakukan usaha kebaikan bagi akhiratnya. Dengannya, aqiqah menjadi sebab yang membebaskan bayi dari kekangan setan dan bala tentaranya. Ini merupakan pendapat Ibnul Qoyim. Beliau juga membantah pendapat yang mengatakan bahwa aqiqah menjadi syarat adanya syafaat anak bagi orang tuanya.

Beliau mengatakan,

كونه والداً له ليس للشفاعة فيه. وكذا سائر القرابات والأرحام وقد قال تعالى : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا

Status seseorang sebagai orang tua bagi si anak, bukan sebab dia mendapatkan syafaat. Demikian pula hubungan kerabat dan keluarga (tidak bisa saling memberi syafaat). Allah telah menegaskan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun (QS. Luqman: 33)

Kemudian, Ibnul Qoyim melanjutkan,

فلا يشفع أحد لأحد يوم القيامة إلا من بعد أن يأذن الله لمن يشاء ويرضى ، فإذنه سبحانه وتعالى في الشفاعة موقوف على عمل المشفوع له من توحيده وإخلاصه

Karena itu, seseorang tidak bisa memberikan syafaat kepada orang lain pada hari kiamat, kecuali setelah Allah izinkan, untuk diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia ridhai. Sementara izin Allah dalam syafaat, tergantung dari tauhid dan kekuatan ikhlas dari orang yang mendapat syafaat itu. (Tuhfah al-Maudud, hlm. 73).

Kemudian Ibnul Qoyim menyebutkan tafsir hadis di atas,

المرتهن هو المحبوس إما بفعل منه أو فعل من غيره … وقد جعل الله سبحانه النسيكة عن الولد سببا لفك رهانه من الشيطان الذي يعلق به من حين خروجه إلى الدنيا وطعن في خاصرته فكانت العقيقة فداء وتخليصا له من حبس الشيطان له وسجنه في أسره ومنعه له من سعيه في مصالح آخرته التي إليها معاده

Tergadai artinya tertahan, baik karena perbuatannya sendiri atau perbuatan orang lain… dan Allah jadikan aqiqah untuk anak sebagai sebab untuk melepaskan kekangan dari setan, yang dia selalu mengiringi bayi sejak lahir ke dunia, dan menusuk bagian pinggang dengan jarinya. Sehingga aqiqah menjadi tebusan untuk membebaskan bayi dari jerat setan, yang menghalanginya untuk melakukan kebaikan bai akhiratnya yang merupakan tempat kembalinya. (Tuhfah al-Maudud, hlm. 74)

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Selasa, 28 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Sejarah Puasa Asyura

KonsultasiSyariah: Sejarah Puasa Asyura


Sejarah Puasa Asyura

Posted: 27 Oct 2014 07:13 PM PDT

Puasa Asyura

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Hari Asyura, hari yang sangat istimewa. Hingga Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan banyak perhatian pada hari itu untuk berpuasa. Dari Ibnu Abbbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

مَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ، إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ. يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ

Saya belum pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap  puasa di satu hari yang beliau istimewakan, melebihi hari asyura, dan puasa di bulan ini, yaitu Ramadhan. (HR. Ahmad 3539 & Bukhari 2006)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjanjikan, puasa di hari Asyura, bisa menjadi kaffarah (penebus dosa) setahun yang lalu. Dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa di hari Asyura. Jawab beliau,

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Bisa menjadi kaffarah setahun yang lalu. (HR. Ahmad 23200 dan Muslim 2804)

Berdasarkan beberapa hadis di atas, ulama sepakat bahwa puasa pada hari Asyura tidak wajib, dan mayoritas ulama mengatakan hukumnya anjuran.

Tahapan Puasa Asyura

al-Hafidz Ibn Rajab menyebutkan tahapan perjalanan puasa Asyura,

Tahapan pertama, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan puasa Asyura bersama orang musyrikin Mekah.

A’isyah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Hari Asyura adalah hari puasanya orang quraisy di masa Jahiliyah. Dan dulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpuasa Asyura. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau melakukan puasa itu, dan menyuruh para sahabat untuk melakukan puasa Asyura. (HR. Bukhari 2002 dan Muslim 2693)

Tahapan kedua, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang yahudi melakukan puasa Asyura, akhirnya beliaupun berpuasa dan menyuruh para sahabat untuk berpuasa.

Dari Ibn Abbas radliallahu 'anhuma, beliau mengatakan:

قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لأَصْحَابِهِ «أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ ، فَصُومُوا».

Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura'. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir'aun. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: "Kalian lebih berhak untuk bangga terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah." (HR. Bukhari 4680).

Dan ketika itu, puasa Asyura menjadi puasa wajib bagi kaum muslimin.

Dari Rubayyi' binti Mu'awwidz radliallahu 'anha, beliau mengatakan:

أرسل النبي صلى الله عليه وسلم غداة عاشوراء إلى قرى الأنصار : ((من أصبح مفطراً فليتم بقية يومه ، ومن أصبح صائماً فليصم)) قالت: فكنا نصومه بعد ونصوّم صبياننا ونجعل لهم اللعبة من العهن، فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناه ذاك حتى يكون عند الإفطار

Suatu ketika, di pagi hari Asyura', Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: "Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya." Rubayyi' mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka. (HR. Bukhari 1960)

Tahapan ketiga, ketika ramadhan diwajibkan, hukum puasa Asyura menjadi anjuran dan tidak wajib. A’isyah mengatakan,

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

Dulu hari Asyura' dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakn puasa Asyura' dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, beliau tinggalkan hari Asyura'. Siapa yang ingin puasa Asyura' boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura' boleh tidak puasa. (HR. Bukhari2002 dan Muslim 2693)

Tahapan Keempat, di akhir hayat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memerintahkan sahabat untuk melakukan puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharam, untuk membedakan dengan orang yahudi.

Dari Ibn Abbas radliallahu 'anhuma, beliau menceritakan:

حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه ، قالوا : يا رسول الله ! إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((فإذا كان العام المقبل ، إن شاء الله ، صمنا اليوم التاسع )) . قال : فلم يأت العام المقبل حتى تُوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura' dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan." Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallamsudah diwafatkan. (HR. Muslim 2722)

Demikian, Allahu a'lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Mengobati Luka Sengatan Listrik

Posted: 27 Oct 2014 06:53 PM PDT

Luka Sengatan Listrik

Pertanyaan:

Bagaimana mengobati luka akibat kesetrum listrik? Terima kasih.

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada kami.

Luka akibat tersetrum listrik dapat dibagi menjadi dua, yakni luka luar dan luka dalam. Beratnya luka tersebut dipengaruhi beberapa faktor, yakni:

  • Tipe arus listrik (DC atau AC)
  • Voltase dan amper (kekuatan arus listrik)
  • Durasi terpapar
  • Resistensi tubuh
  • Jalur yang dilalui arus listrik dalam tubuh (yang menentukan kerusakan jaringan spesifik)
  • Kekuatan medan listrik

Listrik berkekuatan rendah biasanya tidak menimbulkan luka, hanya perasaan tidak enak ketika tersetrum. Pada luka akibat listrik berkekuatan besar, luka dalam biasanya lebih serius dibanding luka luar, seperti aritmia jantung, kerusakan jaringan otot, dll, sehingga meskipun luka luar tampak ringan atau kecil, pasien harus selalu dibawa ke RS atau fasilitas kesehatan terdekat terlebih dahulu untuk menjalani pemeriksaan dan mendapat perawatan. Untuk luka luar, biasanya tampak seperti luka bakar, jika kecil saja, maka yang dibutuhkan adalah membersihkan luka, di awal dapat dilakukan menggunakan air mengalir, menjaga agar tidak ada gelembung air yang pecah, dan selanjutnya dapat diberikan salep seperti salep sulfadiazine. Jika luas, maka sebaiknya pasien segera dibawa ke RS.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh dr Hafids (Pengasuh rubrik kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Tidak Tahu Kapan Tanggl 1 Muharram, Bagaimana Puasanya?

Posted: 27 Oct 2014 02:19 AM PDT

Tidak Tahu Kapan Tanggl 1 Muharram, Bagaimana Puasanya?

Saya tidak tahu, kapan masuknya tanggal 1 Muharram, krn tidak ada pengumuman sidang itsbat yg biasanya dilakukan pemerintah saat Ramadhan dan Dzulhijjah. Lalu bagaimana saya puasa asyuranya? Trim's

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Ketika kita tidak tahu kapan tanggal 1 Muharram, kondisi yang terjadi adalah ketidak jelasan antara tanggal di satu hari, dengan tanggal sebelumnya. Artinya, kita ragu apakah sudah masuk tanggal 1 Muharram ataukah masih tanggal 30 Dzulhijjah. Demikian pula ketika di tanggal 9, kita ragu, sudah tanggal 9 Muharram ataukah masih tanggal 8 Muharram. Sudah tanggal 10, ataukah baru tanggal 9 Muharram, dan demikian seterusnya.

Dalam kondisi semacam ini, para ulama menganjurkan agar kita berpuasa selama 3 hari: 9, 10, dan 11 Muharram. Sehingga kita bisa dengan yakin telah melakukan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan puasa Asyura’ (tanggal 10).

Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah riwayat dari Ibnu Abbas. Syu'bah menceritakan,

عن ابن عبّاس؛ أَنَّهُ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي السَّفَرِ ، وَيُوَالِي بَيْنَ الْيَوْمَيْنِ مَخَافَةَ أَنْ يَفُوتَهُ

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berpuasa di hari asyura ketika safar, dan beliau mengiringi dengan puasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, karena khawatir tidak tepat harinya. (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 9480)

Demikian pula terdapat riwayat dari Ibnu Sirin bahwa beliau menghilangkan keraguan dengan melakukan puasa sebanyak 3 hari. Dan ini merupakan pendapat Imam Ahmad, as-Syafii, dan Ishaq bin Rahuyah.

(Ahkam Yaum Asyura, Dr. ar-Rais, hlm. 9)

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Senin, 27 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: 2 Cara, Ketika Imam Batal di Tengah Shalat

KonsultasiSyariah: 2 Cara, Ketika Imam Batal di Tengah Shalat


2 Cara, Ketika Imam Batal di Tengah Shalat

Posted: 26 Oct 2014 06:25 PM PDT

Ketika Imam Batal di Tengah Shalat

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Ada dua cara yang bisa dilakukan makmum, jika imam batal di tengah shalat,

Pertama, dia membatalkan shalat, keluar dari jamaah, dan menunjuk salah seorang di belakangnya untuk menggantikan posisinya sebagai imam hingga shalat selesai.

Dalil masalah ini adalah peristiwa yang dialami Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau ditusuk oleh orang Iran, Abu Lukluk al-Majusi.

Amr bin Maimun menceritakan,

إني لقائم ما بيني وبين عمر – غداة أصيب – إلا عبد الله بن عباس، فما هو إلا أن كبر فسمعته يقول: قتلني أو أكلني الكلب حين طعنه، وتناول عمر عبد الرحمن بن عوف فقدمه فصلى بهم صلاة خفيفة

Di pagi peristiwa penusukan itu, aku berdiri (di shaf kedua, pen.), dan tidak ada orang antara aku dengan Umar, selain Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau bertakbir memulai shalat, kemudian saya mendengar beliau mengatakan, 'Ada anjing yang menggigitku.' ketika beliau ditusuk. Lalu Umar menarik Abdurrahman bin Auf untuk maju, dan beliau mengimami para sahabat dengan shalat yang ringan. (HR. Bukhari 3700, dan Ibn Hibban 6917)

Tindakan Umar ini dilakukan di depan para sahabat dan tidak ada satupun yang mengingkarinya, sehingga dihukumi sebagai kesepakatan mereka. As-Syaukani menjelaskan hadis Umar,

وفيه جواز الاستخلاف للإمام عند عروض عذر يقتضي ذلك، لتقرير الصحابة لعمر على ذلك، وعدم الإنكار من أحد منهم فكان إجماعاً، وكذلك فعل علي وتقريرهم له على ذلك

Hadis ini menjadi dalil  bahwa imam boleh menunjuk penggantinya, ketika dia mengalami udzur yang mengharuskan dia meninggalkan shalat. Karena sikap para sahabat yang menyetujui praktek Umar ketika itu, tanpa ada penginngkaran seorangpun dari mereka, sehingga statusnnya ijma'. Demikian pula yang dilakukan Ali dan persetujuan (Nailul Authar, 3/215).

Dalil yang lain adalah peristiwa yang dialami Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau ditusuk seorang teroris (khawarij), Abdurrahman bin Muljim al-Maradi. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ditusuk ketika menjadi imam shalat subuh pada saat berdiri dari sujud.

Kata Abu Razin,

صلى علي رضي الله تعالى عنه ذات يوم فرعف ، فأخذ بيد رجل فقدمه ثم انصرف

Pada suatu hari, Ali Radhiyallahu ‘anhu shalat mengimami jamaah, lalu beliau mengeluarkan darah. Beliau langsung menarik tangan seseorang agar dia maju, kemudian Ali mundur. (HR. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf 3670)

Kedua, imam membatalkan shalat dan tidak menunjuk pengganti. Kemudian masing-masing makmum shalat sendiri-sendiri. Ini adalah pendapat Imam as-Syafi'i dan Imam Ahmad.

Keterangan Imam Ahmad yangmenjelaskan dua cara ketika imam batal,

إن استخلف الإمام فقد استخلف عمر وعليّ، وإن صلوا وحداناً فقط طُعن معاوية وصلى الناس وحداناً من حيث طعن أتموا صلاتهم

Jika imam menunjuk ganti, ini pernah dilakukan oleh Umar dan Ali Radhiyallahu ‘anhuma. Dan jika makmum menyelesaikan shalat sendiri-sendiri, ini pernah terjadi pada Muawiyah ketika (beliau jadi imam shaat subuh), beliau ditusuk, lalu para makmum shalat sendiri-sendiri, hingga mereka menyelesaikan shalatnya. (Muntaqa al-Akhbar, Abul Barakat, setelah hadis no. 1455)

Allahu a'lam..

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Minggu, 26 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Toilet Training untuk Anak Balita

KonsultasiSyariah: Toilet Training untuk Anak Balita


Toilet Training untuk Anak Balita

Posted: 25 Oct 2014 03:38 PM PDT

Toilet Training untuk Anak

Pertanyaan:

Apakah boleh melatih anak 1,5 tahun buang air sendiri di WC? Kapan sebaiknya anak mulai dilatih untuk buang air mandiri? Terima kasih.

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada kami.

Melatih anak buang air kecil atau besar di WC secara mandiri (toilet training) adalah tahapan yang esensial untuk kemandirian anak. Namun sebaiknya tidak dipaksakan, melainkan dengan mengamati tanda-tanda kesiapan anak untuk itu. Tidak ada patokan umur yang pasti, namun biasanya anak berusia 18 bulan ke atas sudah mulai memiliki kemampuan yang cukup untuk memulai toilet training. Sebagian anak bisa mulai lebih dini, atau lebih lambat dibanding teman sebayanya. Namun selama anak menunjukkan perkembangan, meskipun perlahan, sebaiknya orang tua tidak berkecil hati, membanding-bandingkan anak, atau menyurutkan semangatnya dengan kata-kata maupun perbuatan yang negatif.

Diantara tanda anak mulai siap untuk toilet training adalah:

Secara fisik:

  • Memiliki waktu buang air besar yang rutin dan relatif dapat diprediksi, dengan konsistensi feses padat dan lembut.
  • Tidak BAB di malam hari.
  • Memiliki periode “kering” (tidak kencing) selama minimal 1-2 jam, atau bangun setelah tidur siang atau bahkan malam dengan popok yang masih kering. Hal ini menunjukkan bahwa otot-otot kandung kemih anak sudah cukup berkembang untuk menahan kencing.
  • Dapat memasang atau menurunkan celananya secara mandiri, atau hanya dengan sedikit bantuan.
  • Menunjukkan ketertarikan bila melihat orang tua atau kerabatnya ke toilet.

Secara perilaku:

  • Menunjukkan tanda-tanda ingin menyenangkan orang lain, dan senang jika dipuji.
  • Menampakkan keinginan untuk lebih mandiri.
  • Menunjukkan tanda tidak nyaman jika popoknya basah atau kotor.

Secara kognitif:

  • Dapat memahami dan mengikuti pertanyaan, instruksi dan permintaan sederhana, seperti, “Adik ingin pipis?”.
  • Memiliki kata untuk menggambarkan BAK dan BAB
  • Menunjukkan kesadaran bahwa dirinya akan kencing atau buang air besar; sebagian anak ada yang menghentikan kegiatannya sebentar, beranjak ke sudut ruangan, diam dengan wajah berkerut, atau mengatakan pada orang tuanya bahwa ia kencing atau buang air.
  • Mengatakan pada orang tuanya bahwa ia akan kecing atau buang air sebelum melakukannya.

Toilet training dapat dilakukan dengan menggunakan pispot khusus anak di awal, atau langsung ke WC, namun sebaiknya tetap dampingi dan awasi anak dengan seksama jika menggunakan WC untuk mencegah anak terpeleset atau tercebur.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh dr Hafidz (Pengasuh rubrik kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Sabtu, 25 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Apa Makna Membaca al-Quran dengan Tartil?

KonsultasiSyariah: Apa Makna Membaca al-Quran dengan Tartil?


Apa Makna Membaca al-Quran dengan Tartil?

Posted: 24 Oct 2014 03:58 PM PDT

Membaca al-Quran dengan Tartil

Ustadz, saya sering mendengar istilah tartil. mohon dijelaskan apa yang dimaksud makna membaca alquran dengan tartir?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Allah memrintahkan kita agar kita membaca al-Quran dengan tartil,

وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلا

Dan bacalah al-Qur’an itu dengan tartil. (Al-Muzammil: 4)

Berikut beberapa keterangan sahabat tentang makna tartil,

Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna tartil dalam ayat,

"Mentajwidkan huruf-hurufnya dengan mengetahui tempat-tempat berhentinya". (Syarh Mandhumah Al-Jazariyah, hlm. 13)

Ibnu Abbas mengataan,

بينه تبييناً

Dibaca dengan jelas setiap hurufnya.

Abu Ishaq mengatakan,

والتبيين لا يتم بأن يعجل في القرآة، وإنما يتم التبيين بأن يُبيِّن جميع الحروف ويوفيها حقها من الإشباع

Membaca dengan jelas tidak mungkin bisa dilakukan jika membacanya terburu-buru. Membaca dengan jelas hanya bisa dilakukan jika dia menyebut semua huruf, dan memenuhi cara pembacaan huruf dengan benar. (Lisan al-Arab, 11/265).

Inti tartil dalam membaca adalah membacanya pelan-pelan, jelas setiap hurufnya, tanpa berlebihan. (Kitab al-Adab, as-Syalhub, hlm. 12)

Cara Ibnu Mas'ud Membaca al-Quran

Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah menyampaikan kabar gembira kepada Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضاًّ كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأَهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

Siapa yang ingin membaca al-Quran dengan pelan sebagaimana ketika dia diturunkan, hendaknya dia membacanya sebagaimana cara membacanya Ibnu Mas'ud. (HR. Ahmad 36, dan Ibnu Hibban 7066).

Hadis ini menunjukkan keistimewaan bacaan al-Quran Ibnu Mas'ud Radhiyallahu ‘anhu. Karena bacaannya sama dengan ketika al-Quran di turunkan. Beliau membacanya dengan cara 'ghaddan' artinya segar yang belum berubah. Maksudnya suaranya menyentuh (as-Shaut an-Nafidz) dan memenuhi semua hak hurufnya.

Untuk itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendengar bacaan Ibnu Mas'ud, dan bahkan hingga beliau menangis.

Ibnu Mas'ud Radhiyallahu ‘anhu bercerita, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruhnya untuk membaca al-Quran,

"Bacakan al-Quran!" Pinta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

"Ya Rasulullah, apakah akan membacakan al-Quran di hadapan anda padahal al-Quran turun kepada anda?" tanya Ibnu Mas'ud.

"Ya, bacakan."

Kemudian Ibnu Mas'ud membaca surat an-Nisa, hingga ketika sampai di ayat,

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا

Bagaimanakah jika Aku datangkan saksi untuk setiap umat, Aku datangkan kamu sebagai saksi bagi mereka semua.

Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam minta agar bacaan dihentikan.

Ibnu Mas'ud melihat ke arahnya, ternyata air mata beliau berlinangan. (HR. Bukhari 5050 & Muslim 1905).

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial