Rabu, 30 Juli 2014

KonsultasiSyariah: Anak Manusia, Anak Iblis

KonsultasiSyariah: Anak Manusia, Anak Iblis


Anak Manusia, Anak Iblis

Posted: 29 Jul 2014 06:59 PM PDT

Anak Manusia, Anak Iblis

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du.

Sepenggal hikmah di surat al-Isra: 61 – 65

Ketika Iblis diusir dari surga karena membangkang perintah Allah, dia diberi kesempatan untuk menyesatkan manusia untuk menjadi temannya di neraka Jahanam.

Dia juga diberi kesempatan untuk memanfaatkan setiap harta dan anak yang dimiliki manusia agar menjadi propertinya.

Allah berfirman,

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

Bergabunglah dengan mereka (manusia) pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS. Al-Isra: 64)

Ulama berbeda pendapat tentang bentuk bergabungnya iblis bersama manusia dalam hal anak dan harta. Al-Hafidz Ibnu Katsir menyimpulkan perbedaan tafsir tersebut dengan menyebutkan keterangan Ibnu Jarir at-Thabari,

قال ابن جرير: وأولى الأقوال بالصواب أن يقال: كل مولود ولدته أنثى، عصى الله فيه، بتسميته ما يكرهه الله، أو بإدخاله في غير الدين الذي ارتضاه الله، أو بالزنا بأمه، أو بقتله ووأده، وغير ذلك من الأمور التي يعصي الله بفعله به أو فيه، فقد دخل في مشاركة إبليس فيه من ولد ذلك الولد له أو منه… فكل ما عصي الله فيه -أو به، وأطيع فيه الشيطان -أو به، فهو مشاركة

Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang paling mendekati kebenaran, bahwa setiap anak yang dilahirkan wanita, dan menjadi sebab seseorang bermaksiat kepada Allah,

baik dengan memberikan nama untuknya dengan nama yang Allah Allah benci,

atau dengan memasukkan anak ini ke dalam agama yang tidak Allah ridhai,

atau anak hasil zina dengan ibunya, atau anak yang dibunuh dan dikubur hidup-hidup,

atau perbuatan lainnya yang termasuk maksiat kepada Allah terhadap anak itu,

semua keadaan di atas termasuk dalam bentuk ikut campurnya Iblis terhadap anak

Oleh karena itu, semua anak dan harta yang menjadi sarana bermaksiat kepada Allah dan sebab mentaati setan maka Iblis ikut bergabung di dalamnya. (Tafsir Ibnu katsir, 5/94).

Ayat ini mengingatkan kita untuk lebih mawas diri dalam mendidik dan memperhatikan manfaat harta dan pendidik anak. Bisa jadi secara zahir itu harta dan anak kita, namun sejatinya telah dikendalikan iblis.

Perhatikan dengan baik, jangan beri kesempatan Iblis untuk bergabung mengendalikan harta dan anak kita.

Allahu a'lam.

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Selasa, 29 Juli 2014

KonsultasiSyariah: Seberapa Lama Amal Shaleh ini Bertahan?

KonsultasiSyariah: Seberapa Lama Amal Shaleh ini Bertahan?


Seberapa Lama Amal Shaleh ini Bertahan?

Posted: 28 Jul 2014 06:41 PM PDT

Lama Amal Shaleh ini Bertahan

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Ada banyak tradisi amal soleh yang kita kerjakan selama ramadhan,

  1. Puasa setiap hari
  2. Baca al-Qur'an setiap hari
  3. Shalat malam setiap hari
  4. Bangun sebelum subuh setiap hari
  5. Belajar agama (kultum) setiap hari
  6. Menjadi orang dermawan: zakat fitrah, parcel, sedekah takjil

Sangat disayangkan, jika sekian amal baik ini menjadi hilang sama sekali selepas kepergian ramadhan.

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده

"Membiasakan puasa sunah setelah puasa ramadhan adalah tanda diterimanya puasa ramadhan. Karena Allah ketika menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shaleh setelahnya. (Lathaif al-Ma'arif, hlm. 221)

 

Seorang ulama salaf mengatakan,

ثواب الحسنة الحسنة بعدها

Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah  untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. (Lathaif al-Ma'arif, hlm. 221)

 

Barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama. Sebaliknya barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan perbuatan buruk setelahnya, maka itu pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut" (Lathaif al-Ma'arif, hlm. 211)

 

Pembaca yang budiman,

Setiap amal soleh memiliki kekuatan untuk memberikan pengaruh baik bagi pelakunya. Hanya saja, kekuatan itu berbeda-beda. Ada yang lemah ada yang kuat, bahkan ada yang sangat kuat, sehingga menjadi sebab pelaku amal berubah jauh lebih baik dari pada sebelumnya.

Ada orang seusai haji dia menjadi sangat soleh dan rajin jamaah padahal sebelumnya dia jarang menyentuh masjid. Ada juga yang seusai ramadhan menjadi orang yang rajin jamaah namun hanya sebulan dua bulan.

Anda bisa mengukur, seberapa lama amal soleh anda memberikan pengaruh bagi anda setelahnya.

Minta Agar Selalu Termotivasi

Ketika ramadhan, salah satu motivasi orang yang rajin ibadah adalah banyaknya teman. Seusai ramadhan, semangat ini menurun bersamaan dengan menghilangnya banyak teman ketika beribadah.

Agar motivasi tetap terjaga, mintalah kepada Allah, Sang Pemberi hidayah, agar Dia menjaga motivasi kita dalam beribadah. Diantara doa yang bisa anda rutinkan,

رَبِّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah sebaik mungkin kepada-Mu (HR. Nasai 1303, Abu Daud 1522, dan yang lainnya)

Allahu a'lam.

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Minggu, 27 Juli 2014

KonsultasiSyariah: Dianjurkan Tidak Tidur di Malam Hari Raya?

KonsultasiSyariah: Dianjurkan Tidak Tidur di Malam Hari Raya?


Dianjurkan Tidak Tidur di Malam Hari Raya?

Posted: 26 Jul 2014 12:43 AM PDT

Dianjurkan Tidak Tidur di Malam Hari Raya?

Saya pernah mendengar bahwa siapa yang menghidupkan malam hari raya maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana semua hati akan mati. Benarkah demikian? Apa ada hadisnya?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Ada dua redaksi yang menyebutkan anjuran menghidupkan malam hari raya.

Redaksi pertama,

من أحيا ليلة الفطر وليلة الأضحى، لم يمت قلبه يوم تموت القلوب

Siapa yang menghidupkan malam idul fitri dan idul adha maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana semua hati akan mati.

Status Hadis

Dalam sanad hadis ini terdapat perawi bernama Umar bin Harun al-Bulkhi. Ibnu Main (guru Imam Bukhari) menilainya sebagai kadzab (pendusta). Demikian pula yang dinyatakan oleh Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu'at. (Silsilah ad-Dhaifah, 2/11)

Ibnul Jauzi juga mengatakan dalam al-Ilal al-Mutanahiyah,

عمر متروك تركه ابْن مهدي ، وأحمد

Umar al-Bulkhi perawi yang matruk (ditinggalkan). Tidak dipakai oleh Ibnu Mahdi dan Ahmad (al-Ilal al-Mutanahiyah, 3/691).

Mengingat perawi di atas, para ulama menggolongkan hadis ini sebagai hadis palsu.

Redaksi kedua,

من قام ليلتي العيدين محتسبا لله، لم يمت قلبه يوم تموت القلوب

Siapa yang beribadah di malam dua hari raya karena mengharap pahala Allah maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana semua hati akan mati.

Status Hadis

Hadis ini diriwayatkan Ibnu Majah dari jalur Baqiyah bin Walid dari Tsaur bin Yazid. Al-Iraqi dalam Takhrij Ihya mengatakan,

أخرجه بإسناد ضعيف

"Diriwayatkan dengan sanad dhaif." (Takhrij no. 1286)

Dalam Silsilah ad-Dhaifah dinyatakan,

بقية سيء التدليس، فإنه يروي عن الكذابين عن الثقات ثم يسقطهم من بينه وبين الثقات ويدلس عنهم! فلا يبعد أن يكون شيخه الذي أسقطه في هذا الحديث من أولئك الكذابين

Baqiyah pelaku tadlis yang buruk. Dia meriwayatkan dari para pendusta dari perawi tsiqah. Kemudian dia membuang perawi pendusta diantara perawi tsiqah dan ditutupi keberadaan perawi tsiqah. Tidak jauh jika dikatakan bahwa perawi yang dia tutupi dalam hadis ini adalah perawi pendusta itu. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 2/11)

Berdasarkan keterangan di atas, para ulama menggolongkan hadis ini sebagai hadis dhaif jiddan (dhaif sekali).

Mengingat hadis yang menganjurkan menghidupkan malam hari raya adalah hadis yang tidak bisa dipertanggung jawabkan maka tidak dibenarkan kita meyakini hal itu sebagai sunah dalam islam.

Sementara kaidah mengamalkan hadis dhaif dalam masalah fadhilah amal, tidak berlaku untuk hadis palsu dan hadis dhaif jiddan. Menurut ulama yang membolehkan mengamalkan hadis dhaif, diantara syaratnya adalah dhaifnya ringan.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Sabtu, 26 Juli 2014

KonsultasiSyariah: Malam Ganjil di Malam Jumat = Lailatul Qadar

KonsultasiSyariah: Malam Ganjil di Malam Jumat = Lailatul Qadar


Malam Ganjil di Malam Jumat = Lailatul Qadar

Posted: 24 Jul 2014 09:23 PM PDT

Malam Ganjil di Malam Jumat = Lailatul Qadar

Semalam ada broadcast message yang berbunyi

Berkata syeikhul islam ibn taimiyyah: Apabila bertepatannya antara malam jumat dg salah satu malam ganjil disepuluh terakhir ramadhan maka kemungkinan lailatur qadar.

Malam ini malam jumat dan bertepatan mlm 27 ramadhan…ini baru terjadi setelah 53 tahun baru terulang.
jumat + waktu mustajab diakhir jumat + doa menjelang berbuka puasa + lailatul qadar 27 ramadhan = masya Allah jgn sia2kan kesempatan ini.

: ‏يقول شيخ الاسلام ابن تيمية :
اذا وافقت ليلة الجمعة احدى ليالي الوتر من العشر الأواخر فهي أحرى ان تكون ليلة القدر
غداً ليلة ٢٧ وليلة جمعة ‏لاوال مره
٥٣ سنه
الجمعه + اخر ساعه استجابه + دعوة الفطور + ليلة ٢٧ رمضان = لا تضيع هذا اليوم ❤

benarkah ini dari ibnu taimiyah ustadz?

via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Pertama, syaikhul islam mengingkari sikap seseorang yang mengistimewakan malam jumat untuk ibadah dari pada malam-malam lainnya. Sebagaimana keterangan yang dicantumkan dalam Fatawa al-Mishriyah (1/78).

Dalil yang menunjukkan larangan mengkhususkan malam jumat untuk ibadah adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

"Janganlah mengkhususkan malam Jum'at dengan shalat tertentu dan janganlah mengkhususkan hari Jum'at dengan berpuasa kecuali jika berpapasan dengan puasa yang mesti dikerjakan ketika itu." (HR. Muslim no. 1144).

Kedua, beberapa ulama mengingkari adanya keterangan tersebut dari Syaikhul Islam. Tidak benar bahwa Syaikhul Islam pernah memberi pernyataan di atas.

Syaikh Sulaiman al-Majid – seorang Hakim di Riyadh dan anggota Majlis Syuro Arab Saudi – pernah ditanya,

"Apakah benar jika salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir ramadhan bertepatan dengan hari jumat maka besar kemungkinan itu lailatul qadar."

Jawaban berliau,

لا نعلم في الشريعة دليلاً على أنه إذا وافقت ليلة الجمعة ليلة وتر فإنها تكون ليلة القدر، وعليه: فلا يُجزم بذلك ولا يُعتقد صحته، والمشروع هو الاجتهاد في ليالي العشر كلها؛ فإن من فعل ذلك فقد أدرك ليلة القدر بيقين، والله أعلم

Kami tidak menjumpai adanya satupun dalil dalam syariat yang menyebutkan bahwa apabila malam jumat bertepatan dengan salah satu malam ganjil, maka itu lailatul qadar. Oleh karena itu, tidak boleh dipastikan dan diyakini kebenarannya. Yang dianjurkan adalah bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir semuanya. Orang yang melakukan hal ini, bisa dipastikan dia akan mendapatkan lailatul qadar.

Dalam fatwa yang lain, beliau juga menegasakan,

لم يصح عن ابن تيمية أنه قال: إذا وافقت ليلة الجمعة ليلة وتر فأحرى أن تكون ليلة القدر

Tidak benar ada keterangan dari Ibnu Taimiyah bahwa beliau mengatakan, 'Jika malam jumat bertepatan dengan malam ganjil maka kemungkinan besar lailatul qadar.'

Sumber: http://www.feqhweb.com/vb/t19393.html

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Jumat, 25 Juli 2014

KonsultasiSyariah: Wanita Boleh Shalat Tanpa Mukena?

KonsultasiSyariah: Wanita Boleh Shalat Tanpa Mukena?


Wanita Boleh Shalat Tanpa Mukena?

Posted: 24 Jul 2014 08:23 PM PDT

Hukum Wanita Boleh Shalat Tanpa Mukena

Bismillahirrahmanirrahim. Saya ingin bertanya mengenai dibolehkanya shalat tanpa menggunakan mukena, yang saya tahu mukena itu hanya budaya di Indonesia, dalam menutup aurat saat shalat yang penting syar’i. saya ingin minta keterangannya mengenai hadist yang membolehkan, sejarahnya mengapa ada kontrofersi antara memakai mukena dan tidak, dan keterangan2 lain yang bisa meyakinkan saya. jazakumullah khoiron katsir

Dari Rifa

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du.

Sebelumnya perlu kita bedakan antara memakai mukena dengan menutup aurat. Seorang wanita bisa menutup aurat dengan model pakaian apapun, meskipun wujudnya bukan berupa mukena. Misalnya dengan memakai jilbab besar, dengan bawahan jubah atau memakai pakaian semisalnya yang menutup semua aurat, dari ujung rambut hingga kaki, selain wajah dan telapak tangan.

Kemudian, termasuk syarat sah shalat bagi wanita adalah menutup seluruh auratnya. Tak terkecuali menutup kepalanya. Terdapat sebuah hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ امْرَأَةٍ قَدْ حَاضَتْ إِلَّا بِخِمَارٍ

"Allah tidak menerima shalat wanita yang telah baligh, kecuali dengan memakai jilbab." (HR. Ahmad 25167, Abu Daud 641, Ibnu Khuzaimah no. 775 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dari keterangan di atas, seorang wanita dibolehkan shalat tanpa memakai mukena, namun dia harus tetap menutup aurat, dengan model pakaian apapun.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Kamis, 24 Juli 2014

KonsultasiSyariah: Kapan Seseorang Dikatakan Mendapatkan Lailatul Qadar?

KonsultasiSyariah: Kapan Seseorang Dikatakan Mendapatkan Lailatul Qadar?


Kapan Seseorang Dikatakan Mendapatkan Lailatul Qadar?

Posted: 23 Jul 2014 07:59 PM PDT

Ciri Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar

Di masyarakat kami ada keyakinan, orang yang mendapat lailatul qadar, dia akan menjumpai atau melilhat kejadian yang luar biasa. Misal, melihat tulisan Allah di langit atau pohon bersujud, atau langit terbelah atau orang buta tiba-tiba bisa melihat, atau orang lumpuh bs jalan tiba-tiba, dan kejadian luar biasa lainnnya. Apakah ini benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Pertama, lailatul qadar terjadi sepanjang malam, sejak maghrib hingga subuh. Allah berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr: 3 – 5)

Karena lailatul qadar berada pada rentang dari maghrib sampai subuh, maka peristiwa apapun yang terjadi sepanjang rentang itu berarti terjadi pada lailatul qadar. Sehingga,

  • Orang yang shalat maghrib di malam itu berarti dia shalat maghrib ketika lailatul qadar
  • Orang yang shalat isya di malam itu berarti dia shalat isya ketika lailatul qadar
  • Orang yang shalat tarawih di malam itu berarti dia shalat tarawih ketika lailatul qadar
  • Orang yang sedekah di malam itu berarti dia sedekah ketika lailatul qadar

Kedua, semua orang yang melakukan ibadah ketika itu, berarti dia telah melakukan ibadah di lailatul qadar. Besar dan kecilnya pahala yang dia dapatkan, tergantung dari kualitas dan kuantitas ibadah yang dia kerjakan di malam itu.

Oleh karena itu, sekalipun dia hanya mengerjakan ibadah wajib saja, shalat maghrib dan isya di malam qadar, dia mendapatkan bagian pahala beribadah di lailatul qadar.

Imam Malik meriwayatkan secara balaghan (tanpa sanad), menukil keterangan Said bin Musayib (tabiin senior, menantu Abu Hurairah) tentang orang yang beribadah ketika lailatul qadar.

أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ كَانَ يَقُولُ: مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا

Bahwa Said bin Musayib pernah mengatakan, "Siapa yang ikut shalat isya berjamaah di lailatul qadar, berarti dia telah mengambil bagian lailatul qadar." (Muwatha' Malik, no. 1146).

Az-Zarqani menjelaskan,

فقد أخذ بحظه منها، أي: نصيبه من ثوابها

"dia telah mengambil bagian lailatul qadar" maknanya dia mendapat bagian dari pahala lailatul qadar. (Syarh az-Zarqani 'ala Muwatha, 3/463).

Ketiga, keterangan di atas bukan mengajak kita untuk bermalas-malasan dalam meraih kemuliaan lailatul qadar. Sebaliknya, dengan penjelasan ini diharapkan kaum muslimin semakin optimis dalam mengejar lailatul qadar, karena semua orang yang beribadah di dalamnya pasti mendapatkannya. Banyak dan sedikitnya, tergantung dari kesungguhan dirinya dalam mendekatkan diri kepada Allah. Mereka yang bersungguh-sungguh, akan mendapatkan petunjuk, sehigga dimudahkan Allah mendapatkan banyak kebaikan di malam itu.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69)

Keempat, keyakinan bahwa orang yang mendapat lailatul qadar akan mengalami kejadian luar biasa, adalah keyakinan yang tidak benar. Bukan syarat untuk mendapat lailatul qadar harus mengalami kejadian aneh atau kejadian luar biasa.

Bahkan karena keyakinan ini, banyak orang menjadi pesimis dan mutung untuk beribadah. Karena merasa sudah sering ibadah di malam-malam ganjil, namun ternyata selama dia beribadah tidak mendapatkan kejadian aneh apapun.

Untuk itu, keyakinan ini tidak selayaknya ditanamkan dalam diri kita dan masyarakat sekitar kita.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Rabu, 23 Juli 2014

KonsultasiSyariah: Siapapun Presidennya, Orang Islam Wajib Taat

KonsultasiSyariah: Siapapun Presidennya, Orang Islam Wajib Taat


Siapapun Presidennya, Orang Islam Wajib Taat

Posted: 22 Jul 2014 08:11 PM PDT

Siapapun Presidennya, Orang Islam Wajib Taat

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Alhamdulillah dipenghujung Ramadhan ini KPU telah memutuskan presiden periode kedepan. Betapapun banyak polemik berbagai pihak kita berharap keadaan tetap aman. Siapapun presidennya, orang Islam wajib taat.

Imam Ahmad menyatakan satu kaidah terkait penyelenggaran negara,

والسمع والطاعة للأئمة وأمير المؤمنين البر والفاجر ومن ولي الخلافة واجتمع الناس عليه ورضوا به ومن عليهم بالسيف حتى صار خليفة وسمي أمير المؤمنين

Wajib mendengar dan taat kepada pemimim kaum mukminin, dia orang baik maupun orang fasik, atau kepada orang yang memegang tampuk khilafah, disepakati masyarakat, dan mereka ridha kepadanya, atau kepada orang yang menguasai mereka dengan paksa, sehingga dia menjadi khalifah dan dinobatkan sebagai kaum muslimin. (Ushul Sunah, no. 15).

Dalam nukilan yang lain dari Imam Ahmad, dinyatakan,

ومن غلبَ عليهم، يعني: الولاة بالسيف حتى صار خليفة وَسُمِّي أمير المؤمنين، فلا يحل لأحدٍ يؤمن  بالله واليوم الآخر أن يبيت ولا يراه إماماً برَّاً كان أو فاجراً

(wajib taat kepada) orang yang menguasai mereka dengan pedang sehingga menjadi khalifah dan disebut amirul mukminin. Tidak halal bagi seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melewati waktu malamnya, sementara dia tidak mengetahui keberadaan pemimpin, baik dia pemimpin yang adil ataukah pemimpin yang zalim. (Thabaqat Hanabilah, Abu Ya'la, 1/241. Muamalah al-Hukkam, hlm. 25).

Pernyataan Imam Ahmad di atas berdalil dengan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengatakan,

وأصلي وراء من غَلَبَ

"Saya shalat di belakang pemimpin yang menang." (Disebutkan dalam al-Ahkam as-Sulthoniyah, hlm. 23 dari riwayat Abul Harits dari Ahmad)

Di zaman Ibnu Umar, ada dua khalifah yang berkuasa. Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma dan Abdul Malik bin Marwan. Hingga Abdul Malik mengirim pasukan untuk menyerang wilayah Abdullah bin Zubair. Ketika itu, Ibnu Umar tidak mengambil sikap dalam bentuk baiat kepada siapapun. Setelah Abdul Malik menang, beliau membaiat Abdul Malik.

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya dari Abdullah bin Dinar bahwa setelah Abdul Malik menang, beliau menulis surat kepada Abdul Malik,

إني أُقِرُّ بالسمع والطاعة لعبد الله؛ عبد الملك أمير المؤمنين، على سنة الله وسنة رسوله ما استطعتُ، وإنَّ بنيَّ قد أقرُّوا بمثل ذلك

Saya siap untuk mendengar dan taat kepada hamba Allah, Abdul Malik, Amirul Mukminin, sesuai sunah Allah dan sunah Rasul-Nya, semampuku. Dan keturunanku juga mengakui hal ini. (HR. Bukhari 7203).

Memahami keterangan di atas, siapapun yang terpilih sebagai pemimpin dari proses penentuan presiden Indonesia wajib untuk kita akui bersama, dan kita harus melaksanakan kewajiban kita sebagai rakyat, mendengar dan taat sebagaimana ajaran Al-Qur'an dan sunnah, selagi tidak memerintahkan kepada maksiat. Jika memerintahkan kemaksiatan maka tidak boleh untuk didengar dan ditaati namun tetap kita tidak boleh memberontak kepemimpinannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَ اْلسَّمْعِ وَ اْلطَّاعَةِ وَ إِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا

"Aku wasiatkan kepada kalian dengan taqwa kepada Allah  dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun dia adalah budak  Habsyi (orang hitam)" (HR. Ahmad 17144, Abu Dawud 4607, Turmudzi 2676 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Beliau juga mengingatkan,

عَلىَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

"Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat." (HR. Bukhari 7144 & Muslim 1839)

Siapapun pilihan anda, sesungguhnya presiden Indonesia telah ditulis dalam catatan taqdir, 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Karena itu, apapun hasilnya, hendaknya kita mengambil sikap yang tepat, sesuai panduan yang diberikan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jangan lupakan untuk mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dan negeri ini. Semoga Allah menjaga dan melindungi kita semua dari segala hal yang tidak diinginkan.

Allahu a'lam.

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Bolehkah Wanita I’tikaf di Rumahnya?

Posted: 21 Jul 2014 10:47 PM PDT

Wanita I'tikaf di Rumahnya

Bolehkah Wanita Itikaf di Mushola dalam Rumah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du,

Ulama berbeda pendapat, bolehkah wanita itikaf di musholah rumahnya.

Pertama, wanita dibolehkan i'tikaf di mushola rumahnya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, at-Tsauri, dan an-Nakha'i. Ibnu Rusyd mengatakan,

وإلا ما ذهب إليه أبو حنيفة من أن المرأة إنما تعتكف في مسجد بيتها

Abu Hanifah berpendapat bahwa wanita boleh beritikaf di mushola rumahnya. (Bidayah al-Mujtahid, hlm. 261).

Kedua, tempat itikaf bagi wanita sama dengan laki-laki, yaitu di masjid. Mereka tidak boleh itikaf di mushola dalam rumah. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Dan pendapat inilah yang lebih kuat, dengan pertimbangan,

1. Allah kaitkan syariat itikaf dengan masjid,

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

"Janganlah kalian menggauli mereka sementara kalian sedang itikaf di masjid."

Dan tidak ada pengecualian untuk ayat ini. Artinya berlaku umum, baik bagi lelaki maupun wanita.

2. Para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan itikaf di masjid. (HR. Muslim 1172)

Kegiatan wanita beritikaf di masjid merupakan hal yang biasa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal beliau menganjurkan agar wanita lebih memilih shalat di rumah dari pada di masjid. Andaikan itikaf di rumah itu lebih baik, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyarankan mereka untuk itikaf di rumah.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial