Selasa, 27 Januari 2015

KonsultasiSyariah: Orang Pingsan Harus Qadha Shalat?

KonsultasiSyariah: Orang Pingsan Harus Qadha Shalat?


Orang Pingsan Harus Qadha Shalat?

Posted: 26 Jan 2015 06:27 PM PST

Orang Pingsan Harus Qadha Shalat?

Apakah orang yang pingsan wajib mengqadha shalatnya? trim's

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Mari kita perhatikan dua hadis berikut,

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يَفِيقَ

Ada 3 orang yang pena catatan amalnya diangkat (tidak ditulis): Orang yang tidur sampai dia bangun, anak kecil samai dia baligh, dan orang gila sampai dia sadar. (HR. Ahmad 1195, Nasai 3445, Turmudzi 1488 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Hadis kedua, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى

Apabila kalian ketiduran atau kelupaan hingga tidak shalat, hendaknya dia kerjakan shalat itu ketika dia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya), 'Tegakkanlah shalat ketika mengingat-Ku.' (HR. Ahmad 13247, Muslim 1601, dan yang lainnya).

Selanjutnya, ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum bagi orang yang pingsan, berkaitan dengan kewajiban mengqadha shalatnya,

Pertama, Hanafiyah menyatakan, jika pingsannya melebihi sehari semalam, tidak wajib qadha. Sebaliknya, jika kurang dari sehari semalam, wajib qadha. Orang yang pingsan kurang dari sehari semalam, disamakan dengan orang yang tidur. Dia tidak berdosa meninggalkan shalat selama pingsan, namun wajib qadha.

Dalam  kitab Multaqa al-Abhur dinyatakan,

ومن أغميَّ عليه أو جن يوماً وليلة قضى ما فات وإن زاد ساعة لا يقضي وعند محمد يقضي ما لم يدخل وقت سادسة

Orang yang pingsan atau tidak sadar sehari semalam, wajib mengqadha shalat yang dia tinggalkan. Jika pingsannya lebih dari itu, sekalipun hanya lebih 1 jam, tidak wajib mengqadha shalat. Namun menurut Muhammad bin Hasan (murid senior Abu Hanifah), orang pingsan wajib qadha shalat, selama belum masuk waktu shalat keenam. (Multaqa al-Abhur, 1/231).

Yang dimaksud sebelum waktu shalat keenam adalah pingsan selama lebih dari 24 jam, sehingga meninggalkan 5 waktu shalat, namun dia sadar sebelum masuk waktu shalat berikutnya.

Kedua, Malikiyah berpendapat, orang yang pingsan sama sekali tidak wajib mengqadha shalatnya, berapapun jeda waktunnya. Orang yang pingsan disamakan dengan orang yang hilang akal. Sementara orang yang hilang akal, tidak terkena kewajiban syariat. Dalilnya adalah hadis A'isyah di atas.

Ibnu Abdil Bar (w. 463 H) mengatakan,

ولا يقضي المغمى شيئا من الصلوات لأنه ذاهب العقل ومن ذهب عقله عليه في وقت صلاة يدرك منها ركعة لزمه فليس بمخاطب فإن افاق المغمى عليه في وقت صلاة يدرك منها ركعه لزمه قضاءها

Orang yang pingsan, tidak wajib mengqadha shalatnya. karena dia hilang akal. Orang yang hilang akal, selama rentang waktu shalat, berarti dia tidak terkena kewajiban shalat. Jika orang yang pingsan sadar, bisa menyusul satu rakaat sebelum waktu shalat berakhir, dia wajib mengqadhanya. (al-Kafi fi Fiqh Ahli al-Madinah, 1/237).

Ketiga, Syafiiyah sependapat dengan Malikiyah, orang yang pingsan tidak wajib qadha shalat, seberapapun lama dia pingsan.

An-Nawawi mengatakan,

من زال عقله بسبب غير محرم كمن جن أو أغمى عليه أو زال عقله بمرض أو بشرب دواء لحاجة أو اكره علي شرب مسكر فزال عقله فلا صلاة عليه وإذا أفاق فلا قضاء عليه بلا خلاف للحديث سواء قل زمن الجنون والاغماء ام كثر هذا مذهبنا

Orang yang kehilangan akal dengan sebab yang tidak terlarang, seperti orang yang pingsan atau tidak sadar, baik disebabkan sakit atau karena minum obat yang dibutuhkan, atau dipaksa minum khamr, hingga mabuk, maka tidak ada kewajiban shalat baginya. Jika dia sadar, tidak ada kewajiban qadha tanpa ada perbedaan pendapat – di kalangan ulama madzhab – berdasarkan hadis (Aisyah) di atas. Baik pingsannya itu sebentar maupun lama. Inilah madzhab kami (Syafiiyah). (al-Majmu', 3/6).

Keempat, dalam madzhab hambali, orang yang pingsan wajib qadha, seberapapun lama pingsannya. Analogi orang yang pingsan itu lebih dekat kepada orang tidur dari pada orang gila. Sehingga orang pingsan dihukumi sebagaimana orang tidur. Sementara ditegaskan dalam hadis Anas bin Malik, orang yang tidur wajib mengqadha shalatnya,

Dalam kitab al-Inshaf dinyatakan,

وأما المغمى عليه فالصحيح من المذهب: وجوبها عليه مطلقا نص عليه في رواية صالح وبن منصور وأبي طالب وبكر بن محمد كالنائم وعليه جماهير الأصحاب

Orang yang pingsan, pendapat yang kuat dalam madzhab hambali, wajib mengqadhanya secara mutlak. Ditegaskan Imam Ahmad menurut riwayat Sholeh, Ibnu Manshur, Abu Thalib, dan Bakr bin Muhammad, sebagaimana orang tidur. Ini merupakan pendapat mayoritas madzhab hambali.

Lebih lanjut, dalam itu dinyatakan,

وأما إذا زال عقله بشرب دواء يعني مباحا فالصحيح من المذهب: وجوب الصلاة عليه وعليه جماهير الأصحاب

Ketika orang tidak sadar, karena minum obat yang hukumnya mubah, pendapat yang kuat dalam madzhab hambali, wajibnya qadha shalat. Dan ini pendapat mayoritas ulama hambali. (al-Inshaf, 1/277).

Pemilihan Pendapat yang Lebih Kuat

Dari keterangan di atas, ada 3 keadaan manusia,

  1. Gila: tidak ada beban syariat (bukan mukallaf) dan tidak memiliki niat. Sehingga amalnya tidak sah dan jika sadar tidak ada kewajiban qadha.
  2. Tidur: ada beban syariat, karena masih mukallaf. Hanya saja, selama tidur, tidak ada kewajiban baginya. Ketika bangun, dia wajib mengganti ibadah wajib yang dia tinggalkan.
  3. Pingsan: kondisi ketiga ini tidak disebutkan dalam dalil. Sehingga ulama mengqiyaskan kepada dua kondisi di atas. Antara gila yang hilang akal dan tidur yang belum hilang akal. Dan pendapat yang mendekati, pingsan lebih dekat dengan kondisi tidur. Karena orang yang pingsan, tidak kita sebut hilang akal. Sehingga tidak bisa dianalogikan dengan orang gila. Sehingga dia lebih tepat digolongkan dengan orang tidur.

Karena itulah, orang yang pingsan, berkewajiban mengqadha' semua shalat yang dia tinggalkan, setelah dia sadar.

Demikian, Allahu a'lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Menari Untuk Suami

Posted: 25 Jan 2015 08:29 PM PST

Menari Untuk Suami

Apa hukum menari secara umum? Bolehkah wanita menari d depan suaminya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Pertama, menari bagi lelaki, dinilai para ulama sebagai perbuatan tercela. Sekalipun itu dipentaskan hanya di depan lelaki. Mereka berdalil dengan firman Allah,

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا

"Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong." (QS. al-Isra: 37).

Al-Qurthubi mengatakan,

استدل العلماء بهذه الآية على ذم الرقص وتعاطيه

"Ulama berdalil dengan ayat ini untuk mencela kegiatan menari dan menekuni tari."

Selanjutnya al-Qurthubi menyebutkan,

قَالَ الْإِمَامُ أَبُو الْوَفَاءِ ابْنُ عَقِيلٍ: قَدْ نَصَّ الْقُرْآنُ عَلَى النَّهْيِ عَنِ الرَّقْصِ فَقَالَ:” وَلا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحاً” وَذَمَّ الْمُخْتَالَ وَالرَّقْصُ أَشَدُّ الـمَرَح وَالبَطَر…

Imam Abul Wafa' Ibnu Aqil rahimahullah mengatakan,

"Al-Quran telah menegaskan larangan menari. Allah berfirman, (yang artinya): "Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong.' Allah mencela berjalan dengan sombong. Dan menari itu lebih buruk dari pada itu." (Tafsir al-Qurthubi, 10/263).

Kedua, dibolehkan bagi wanita untuk menari, dengan syarat hanya di hadapan sesama wanita atau suaminya.

Syaikh Mayhur Hasan Salman mengutip keterangan an-Nawawi dalam kitab al-Minhaj,

ويباح رقص ما لم يكن بتكسر وتثن كهيئة مخنث”، فرقص النساء في الأعراس إذا كان فيه تثن وتكسر وفيه هز أرداف كما تفعل الفاجرات فهو حرام، وأما الرقص الذي فيه ذهاب ومجيء للتعبير عن الفرح كما تفعل الجدات فهذا لا حرج فيه

Dibolehkan menari selama tidak berlenggak-lenggok seperti yang dilakukan banci. Tarian para wanita di acara walimah, jika berlenggak-lenggok atau goyang-goyang pinggul sebagaimana yang dilakukan wanita nakal, maka hukumnya haram. Adapun tarian maju mundur, untuk menunjukkan kegembiraan, sebagaimana yang dilakukan ibu-ibu, ini tidak masalah.

(http://ar.islamway.net/fatwa/30497/ما-حكم-الرقص-للنساء)

Ketiga, termasuk yang dibolehkan, wanita menari di depan suaminya

Islam sangat menganjurkan terwujudkan kasih sayang dalam sebuah keluarga. Suami mencintai istri dan istri mencintai suami. Dan semacam ini hanya akan bisa terwujud, ketika satu sama lain saling berusaha untuk memberikan kebaikan.

Karena itulah, islam membolehkan pergaulan yang baik tanpa batas antara suami dan istri. Jika menampakkan seujung rambut di luar rumah dilarang dalam islam, di hadapan suaminya, wanita tidak ada batasan aurat.

Berangkat dari sini, ulama membolehkan seorang istri menari di hadapan suaminya. Syaikh Masyhur Hasan Salman mengatakan,

وهذا الرقص حيث لا يراها الرجال فهذا أمر جائز. وأما رقص الزوجة لزوجها فهو حلال على كل حال، والله أعلم

Tarian wanita yang tidak dilihat lelaki, itu dibolehkan. Adapun tarian seorang istri di hadapan suaminya, hukumnya halal apapun keadaannya.

Allahu a'lam

(http://ar.islamway.net/fatwa/30497/ما-حكم-الرقص-للنساء)

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Senin, 26 Januari 2015

KonsultasiSyariah: 5 Penyakit Yang Sering Muncul Saat Musim Hujan

KonsultasiSyariah: 5 Penyakit Yang Sering Muncul Saat Musim Hujan


5 Penyakit Yang Sering Muncul Saat Musim Hujan

Posted: 25 Jan 2015 06:16 PM PST

5 Penyakit Yang Sering Muncul Saat Musim Hujan

Musim hujan harus kita waspadai dengan munculnya beberapa penyakit yang sering muncul. Musim hujan yang dingin, banjir, kehujanan dan berbagai macam faktor bisa menyebabkan munculnya berbagai penyakit. Berikut beberapa penyakit yang mungkin sering muncul ketika musim hujan

1.Batuk-Pilek dan influenza

Tidak sedikit yang terkena penyakit ini ketika musim hujan. Bahkan rata-rata sudah pernah terkena penyakit ini ketika musim hujan baik sebentar atau kambuh-kambuhan dalam waktu yang lama. Jika terkena gunakan masker dan banyak minum air putih serta tetap jaga tubuh agar tetap hangat

Segera periksakan: jika demam tubuh sudah sangat tinggi dan batuk-pilek tidak sembuh-sembuh dalam waktu tiga hari lebih walaupun sudah mendapat obat simptomatik seperti paracetamol untuk meredakan demam

2.Penyakit Kulit (herpes, kutu dan jamur)

Penyakit kulit herpes simpleks cukup banyak terjadi ketika musim hujan. Gejalanya lebih ke arah nyeri daripada gatal dan muncul seperti printil-printil dalam ruam kemerahan dalam tubuh. Sedangkan ktut umumnya kutu air pada sela-sela jari tangan atau kaki. Bisa terasa gatal, nyeri dan terkadang berbau serta cukup menganggu. Sedangkan infeksi jamur kulit umumnya terjadi pada lipatan-lipatan tubuh semisal selangkangan dan payudara.

Segera periksakan: semakin awal anda periksakan dan mendapat terapi, semakin baik. Karena perlu didiagnosa dengan tepat apa penyebabnya. Salah memberi terapi salep malah membuat penyakit semakin parah, misalnya memberikan salep antiradang pada penyakit infeksi kulit karena jamur.

3.Diare

Cukup banyak juga yang terkena diare. Karena memang sanitasi ketika musim hujan kurang baik. Patogen penyebab diare mudah menyebar serta disertai penurunan daya tahan tubuh akibat musim hujan.

Segera periksakan: jika diare hebat dan disertai mual-muntah yang sering sehingga mengalami dehidrasi.

4.Demam Berdarah dan Chikungunya

Dua penyakit ini adalah "saudara sepupu" hanya saja demam berdarah lebih bisa menyebabkan kematian. Keduanya disebarkan oleh nyamuk yang memang berkembang biak pedat di saat musim hujan.

Segera periksakan: jika demam tinggi lebih dari tiga hari, muncul bintik-bintik merah serta sendi-sendi sakit.

5.Leptospirosis

Terkenal juga dengan penyakit kencing tikus, karena memang disebabkan oleh bakteri leptospira dengan media penularan melalui tikus. Bakteri mudah berkembang di lingkungan yang kotor dan berlumpur. Bisa jadi air kencing tikus terbawa oleh aliran air ketika musim hujan.

Segera periksakan: jika terasa nyeri hebat di tenggorokan, batuk, nyeri kepala, nyeri pada otot dan mukosa kulit berwarna kuning.

Demikian semoga bermanfaat

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen (Pengasuh Kesehatan www.konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Minggu, 25 Januari 2015

KonsultasiSyariah: Hukum Selfie

KonsultasiSyariah: Hukum Selfie


Hukum Selfie

Posted: 23 Jan 2015 07:49 PM PST

Hukum Selfie

Banyak banget sekarang hobby selfy, mohon dijelaskan apa hukum selfie? Thank's

Jawaban: 

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras seseorang ujub terhadap dirinya. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai dosa besar yang membinasakan pelakunya.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Tiga dosa pembinasa: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub seseorang terhadap dirinya. (HR. Thabrani dalam al-Ausath 5452 dan dishaihkan al-Albani)

Di saat yang sama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi kita untuk menjadi hamba yang berusaha merahasiakan diri kebalikan dari menonjolkan diri. Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, yang berkecukupan, dan yang tidak menonjolkan diri. (HR. Muslim 7621).

Selfie, jeprat-jepret diri sendiri, sangat tidak sejalan dengan prinsip di atas. Terlebih umumnya orang yang melakukan selfie, tidak lepas dari perasaan ujub. Meskipun tidak semua orang yang selfie itu ujub, namun terkadang perasaan lebih sulit dikendalikan.

Karena itu, sebagai mukmin yang menyadari bahaya ujub, tidak selayaknya semacam ini dilakukan.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Sabtu, 24 Januari 2015

KonsultasiSyariah: Meninggal Malam Jumat, Jaminan Aman dari Siksa Kubur?

KonsultasiSyariah: Meninggal Malam Jumat, Jaminan Aman dari Siksa Kubur?


Meninggal Malam Jumat, Jaminan Aman dari Siksa Kubur?

Posted: 23 Jan 2015 01:17 AM PST

Meninggal Malam Jumat, Jaminan Aman dari Siksa Kubur

Benarkah orang yang meninggal di malam jumat tidak mendapat pertanyaan kubur? Karena Raja Saudi, Raja Abdullah meninggalnya malam jumat. Apakah ini keistimewaan bagi beliau? Karena ada beberapa orang yang begitu bahagia dengan kematian beliau. Seperti ISIS.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Kita perhatikan beberapa hadis berikut,

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Setiap muslim yang meninggal di hari jumat atau malam jumat, maka Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur. (HR. Ahmad 6739, Turmudzi 1074 dan dihasankan al-Albani).

Makna: 'Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur' dijelaskan al-Mubarokfury dalam Syarh Sunan Turmudzi,

أي حفظه الله من فتنة القبر أي عذابه وسؤاله، وهو يحتمل الإطلاق والتقييد، والأول هو الأولى بالنسبة إلى فضل المولى

Artinya, Allah jaga dia dari fitnah kubur, yaitu pertanyaan dan adzab kubur. Dan hadis ini bisa dimaknai mutlak (tanpa batas) atau terbatas. Namun makna pertama (mutlak) lebih tepat, mengingat karunia Allah yang sangat luas. (Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi, 4/160).

Cara Agar Bisa Meninggal Hari Jumat

Semua aktivitas kita diliputi ruang dan waktu. Dan dari dua ini, manakah yang lebih memungkinkan direncanakan? Kita sepakat, ruang (tempat) lebih memungkinkan. Karena lebih permanen. Berbeda dengan waktu yang terus berjalan secara dinamis.

Kita tarik untuk kasus kematian…

Ada orang merencanakan,

Saya ingin mati di usia 63 tahun

Saya ingin mati di jogja

Dari kedua pernyataan ini, mana yang lebih memungkinkan untuk direncanakan?

Jawabannya, yang kedua. Ketika ada orang yang bertekad ingin mati di jogja, dia bisa berusaha untuk selalu menetap di jogja apapun kondisinya. Meskipun bisa jadi, Allah menghendakinya meninggal di kota lain. Dengan Allah ciptakan sebab yang menggiring orang ini untuk meniggal di kota lain.

Dalam al-Quran, Allah menegaskan bahwa manusia tidak ada yang tahu DI MANA dia akan meninggal. Allah tidak berfirman, manusia tidak ada yang tahu KAPAN dia akan meninggal.

Allah berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

Tidak ada satupun jiwa yang mengetahui di belahan bumi mana dia akan meninggal. (QS. Luqman: 34).

Artinya, jika tempat saja manusia tidak tahu, apalagi waktu. Sementara merencanakan tempat meninggal, itu lebih memungkinkan dari merencanakan waktu meninggal.

Karena itu, untuk bisa meninggal hari jumat atau malam jumat, manusia sama sekali tidak memiliki peran di atas. Semua itu murni kehendak Allah. Allah pilih siapa diantara hamba-Nya yang berhak mendapatkan keutamaan itu. Sementara manusia hanya bisa berdoa dan berharap.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menuliskan,

قال الزين ابن المنيِّر: تعيين وقت الموت ليس لأحد فيه اختيار، لكن في التسبب في حصوله مدخل؛ كالرغبة إلى الله لقصد التبرك، فمن لم تحصل له الإجابة أثيب على اعتقاده

Az-Zain Ibnul Munayir menjelaskan: 'Tidak ada seorangpun yang memiliki pilihan untuk menentukan waktu kematian. Hanya saja dia punya kesempatan untuk mengambil sebab agar bisa mendapatkannya. Seperti banyak berharap kepada Allah untuk tujuan mengambil berkah. Ketika harapannya tidak terwujud, dia mendapatkan pahala atas keyakinannya.' (Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari, 3/253).

Bahagia dengan Kematian Mukmin

Menampakkan kebahagiaan ketika ada sesama saudara muslim yang tertimpa musibah, disebut as-Syamatah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras tindakan ini.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ

Janganlah kalian menampakkan syamatah di hadapan saudaramu. Bisa jadi Allah merahmati saudaramu, kemudian Allah membalik keadaan dengan memberikan ujian untukmu. (HR. Turmudzi 2694 dan dinilai al-Albani sebagai hadis Hasan Gharib).

Kita tidak tahu, apa kaitan mereka dengan raja Abdullah? Sehingga mereka begitu senang dan gembira dengan kematian beliau. Apakah raja Abdullah pernah mendzalimi mereka? Mereka bukan rakyat Saudi, bagaimana raja Saudi bisa mendzalimi mereka yang bukan rakyatnya.

Namanya manusia, pasti ada kesalahan dan kekurangan. Dan kita diperintahkan untuk tutup mulut, tidak memberikan komentar miring kepada orang yang melakukan kesalahan, ketika yang bersangkutan telah meninggal.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

Janganlah kalian mencela orang yang telah mati, karena mereka telah medapat balasan dari amal mereka. (HR. Ahmad 26212, Bukhati 1393, dan yang lainnya)

Semoga kita bisa memahaminnya.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Jumat, 23 Januari 2015

KonsultasiSyariah: Dilarang Memakai Cincin dari Besi?

KonsultasiSyariah: Dilarang Memakai Cincin dari Besi?


Dilarang Memakai Cincin dari Besi?

Posted: 22 Jan 2015 06:31 PM PST

Hukum Memakai Cincin dari Besi

Tanya ustadz, banyak nih orang yg hobby pakai cincin, pertanyaannya, bolehkah memakai cincin dari besi? Mohon penjelasnnya..

Jawaban: 

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Sahabat Buraidah bin Hashib Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Ada seseorang yang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara dia memakai cincin dari tembaga. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ الأَصْنَامِ

"Saya tidak ingin melihat benda berbau berhala."

Kemudian orang inipun membuangnya.

Kemudian dia datang lagi dengan memakai cincin besi. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

مَا لِى أَرَى عَلَيْكَ حِلْيَةَ أَهْلِ النَّارِ

"Saya tidak ingin melihat perhiasan penduduk neraka."

Orang inipun melemparkannya. Lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, bahan apa yang saya jadikan cincin?"

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اتَّخِذْهُ مِنْ وَرِقٍ وَلاَ تُتِمَّهُ مِثْقَالاً

"Gunakanlah bahan perak untuk cincin, namun jangan sampai satu mitsqal."

(HR. Abu Daud (4225), Turmudzi (1897), dan Nasai (5212). Dan hadis ini dinilai dhaif oleh al-Albani).

Kemudian disebutkan dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada sebagian sahabat yang memakai cincin emas, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajaknya bicara, hingga orang ini melepaskan cincinnya. Kemudian orang ini memakai cincin besi, lalu beliau bersabda,

هَذَا شَرٌّ، هَذَا حِلْيَةُ أَهْلِ النَّارِ

Ini lebih buruk, ini perhiasan penduduk neraka.

Kemudian orang ini memakai cincin perak, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkomentar. (HR. Ahmad 6518 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauhth).

Sementara itu, terdapat hadis lain dari Sahl bin Sa'd Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang wanita yang menghibahkan dirinya untuk dinikahi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun beliau tidak menghendakinya. Hingga ada salah satu sahabat yang mengajukan diri untuk menikahinya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya untuk mencari mahar, namun dia tidak memiliki satu harta yang berharga di rumahnya. Hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya,

الْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدِ

Cari mahar, meskipun hanya cincin besi. (HR. Bukhari 5135, Nasai 3372 dan yang lainnya).

Kemudian disebutkan pula dalam hadis dari al-Muaqib Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan cincin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كَانَ خَاتَمُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ حَدِيدٍ مَلْوِىٌّ عَلَيْهِ فِضَّةٌ

Cincin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dari besi yang disepuh dengan perak. (HR. Abu Daud 4226, Nasai 5222, dan didhaifkan al-Albani)

Ulama Berbeda Pendapat

Berangkat dari beberapa riwayat yang secara tekstual bertentangan maknanya, ulama berbeda pendapat dalam menghukumi cincin besi.

Imam an-Nawawi menyebutkan perselisihan ini dalam kitabnya al-Majmu'. An-Nawawi menuliskan,

قال صاحب ” الإبانة ” : يكره الخاتم من حديد أو شَبَه وهو نوع من النحاس , وتابعه صاحب ” البيان ” فقال : يكره الخاتم من حديد أو رصاص أو نحاس لحديث بريدة رضي الله عنه

Pengarang kitab al-Ibanah mengatakan, makruh memakai cincin besi atau berbahan tembaga. Pendapat ini juga diikuti oleh penulis kitab al-Bayan. Beliau mengatakan, 'Makruh memakai cincin besi, atau timbal, atau tembaga. Berdasarkan hadis dari Buraidah.'

Kemudian beliau mencantumkan hadis dari Buraidah Radhiyallahu ‘anhu di atas.

Selanjutnya, an-Nawawi menyebutkan pendapat kedua,

وقال صاحب ” التتمة ” : لا يكره الخاتم من حديد أو رصاص ؛ للحديث في الصحيحين أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال للذي خطب الواهبة نفسها ” اطلب ولو خاتما من حديد ” قال : ولو كان فيه كراهة لم يأذن فيه به

Penulis kitab al-Tatimmah mengatakan: 'Tidak makruh menggunakan cincin bersi atau timbal. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Bukhari Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh orang yang melamar wanita untuk mencari cincin besi.' Andai cincin besi hukumnya makruh, tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan meyuruhnya .

(al-Majmu', 4/465)

Sementara itu, Lajnah Daimah lebih memilih bahwa cincin besi hukumnya boleh dan tidak makruh. Dalam salah satu fatwanya volume 24, no. 64, dinyatakan,

وبذلك يتضح أن الراجح عدم كراهة لبس الخاتم من الحديد ، ولكن لبس الخاتم من الفضة أفضل ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان خاتمه من فضة كما ثبت في الصحيحين.

Berdasarkan hal ini, bahwa yang lebih kuat memakai cincin besi tidak makruh. Hanya saja, yang lebih afdhal, memakai cincin dari perak. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam cincinnya dari perak. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari & Muslim.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Kamis, 22 Januari 2015

KonsultasiSyariah: Apa itu Islam?

KonsultasiSyariah: Apa itu Islam?


Apa itu Islam?

Posted: 21 Jan 2015 07:45 PM PST

Apa itu Islam?

Mohon jelaskan, apa itu islam? Kita muslim, namun banyak diantara kita yg mungkin tdk paham hakekat agamanya. Sebelumnya trima kasih..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Jika kita perhatikan dalam kamus, arti kata islam tidak keluar dari makna inqiyad (tunduk) dan istislam (pasrah). (al-Mu'jam al-Wasith, 1/446).

Diantara penggunaan makna bahasa ini, Allah sebutkan dalam al-Quran ketika menceritakan penyembelihan Ismail yang dilakukan Nabi Ibrahim,

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ . وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ . قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا

Ketika keduanya telah pasrah dan dia meletakkan pelipisnya. Kami panggil dia, 'Hai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi wahyu itu…(QS. as-Shaffat: 103)

Makna islam secara istilah tidak jauh dari makna bahasanya.

Imam Muhamad bin Sulaiman at-Tamimi mengatakan,

الإسلام هو الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة ، والبراءة من الشرك وأَهله

Islam adalah pasrah kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya, dan berlepas diri dari semua kesyirikan dan pelakunya. (Tsalatsah al-Ushul, 1/189)

Mengapa harus berlepas diri dari syirik?

Jelas, karena tidak ada manfaatnya orang yang mengaku islam, namun dirinya masih berbuat kesyirikan atau kekufuran. Sementara keduanya adalah lawan bagi ajaran islam.

Nama dari al-Quran

Allah ta'ala sendiri memberi nama agama ini dengan islam. Allah berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama yang diterima Allah, hanyalah islam. (QS. Ali Imran: 19)

Dalil tentang nama ini juga disebutkan dalam ayat yang lain.

Allah juga memberi nama pengikut islam dengan kaum muslimin. Allah berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. Ikutilah agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah)telah menamai kamu sekalian dengan kaum muslimin dari dahulu, dan (begitu pula) dalam al-Quran ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.. (QS. al-Hajj: 78)

Di Balik Nama Islam

Semua aliran dan semua agama punya nama. Dan jika kita perhatikan, hampir semua nama agama dan aliran itu kembali kepada sosok tertentu atau kelompok tertentu. Seperti nasrani, diambil dari nama bangsa Nashara, Yahudi diambil dari nama kabilah Yahudza, Budha diambil dari kata Budhis, dst.

Berbeda dengan islam. Nama ini tidak dikembalikan pada nama sosok atau tokoh tertentu atau suku tertentu. Karena nama ini menunjukkan isi ajarannya. Karena itulah, dalam sejarah agama, tidak dikenal istilah pencetus islam, atau pendiri islam. Disamping ajarannya lebih menyeluruh, bisa diikuti semua kelompok masyarakat.

(al-Islam: Ushul wa Mabadi, 2/105).

Islam Ada Dua

Dengan melihat definisi islam, yang intinya adalah pasrah dan tunduk pada semua aturan Allah, para ulama membagi islam menjadi dua,

Pertama, islam dalam arti umum

Yang dimaksud islam dalam arti umum adalah semua ajaran para nabi, yang intinya mentauhidkan Allah dan mengikuti aturan syariat yang berlaku ketika itu.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

الإسلام بالمعنى العام: هو التعبد لله بما شرع منذ أن أرسل الله الرسل إلى أن تقوم الساعة

Islam dalam arti umum adalah menyembah Allah sesuai dengan syariat yang Dia turunkan, sejak Allah mengutus para rasul, hingga kiamat. (Syarh Ushul at-Tsalatsah, hlm. 20)

Berdasarkan pengertian ini, berarti agama seluruh Nabi dan Rasul beserta pengikutnya adalah islam. Meskipun rincian aturan syariat antara satu dengan lainnya berbeda.

Diantara dalil mengenai islam dalam makna umum, dalam al-Quran, Allah menyebut Ibrahim dan anak keturunannya, orang-orang islam.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." (QS. al-Baqarah: 132).

Allah juga mengingkari klaim sebagian orang bahwa Ibrahim penganut yahudi dan nasrani,

أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ

Kalian (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" (QS. al-Baqarah: 140).

Kedua, islam dalam arti khusus

Islam dalam arti khusus adalah ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syariat beliau menghapus syariat sebelumnya yang bertentangan dengannya .

Imam Ibnu Utsaimin menyebutkan,

والإسلام بالمعنى الخاص بعد بعثة النبي صلى الله عليه وسلم يختص بما بعث به محمد صلى الله عليه وسلم لأن ما بعث به النبي صلى الله عليه وسلم نسخ جميع الأديان السابقة فصار من أتبعه مسلماً ومن خالفه ليس بمسلم

Islam dengan makna khusus adalah islam setelah diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khusus dengan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Syariat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus semua agama sebelumnya. Sehingga pengikutnya adalah orang islam, sementara yang menyimpang dari ajaran beliau, bukan orang islam. (Syarh Ushul at-Tsalatsah, hlm. 20)

Pengikut para nabi terdahulu, mereka muslim ketika syariat nabi mereka masih berlaku. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, syariat mereka tidak berlaku, sehingga mereka bisa disebut muslim jika mengikuti syariat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai permisalan, ketika ada orang nasrani yang mengikuti ajaran Isa lahir batin. Dia komitmen dengan ajaran paling otentik yang disampaikan Isa, kecuali satu masalah, yaitu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, dia tidak mau mengikuti beliau, maka orang ini bukan muslim.

Andai orang ini hidup di zaman Isa, dia bisa jadi seorang muslim.

Demikian,

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Sejarah Kesyirikan di Dunia

Posted: 20 Jan 2015 10:31 PM PST

Sejarah Kesyirikan di Dunia

Bagaimana kesyirikan pertama terjadi? Kapan itu terjadi?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Pertama, kita perlu meyakini bahwa rasul yang pertama kali Allah utus adalah Nabi Nuh 'alaihis salam.

Dalam hadis yang sangat panjang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kejadian yang dialami manusia ketika di padang mahsyar. Dalam penggalan cerita itu, manusia berbondong-bondong mendatangi Nuh agar beliau berdoa kepada Allah. Mereka mengatakan,

يَا نُوحُ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ وَقَدْ سَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ

Wahai Nuh, anda rasul pertama di muka bumi. Allah menggelari anda dengan hamba yang pandai bersyukur, berikanlah syafaat untuk kami di hadapan Rabmu…

Namun Nabi Nuh kala itu tidak bersedia, karena alasan tertentu. Kemudian beliau mengarahkan agar mendatangi Nabi Ibrahim. (HR. Ahmad 9873, Bukhari 3340, Muslim 501 dan yang lainnya).

Kedua, mengapa Nuh sebagai rasul pertama?

Jika Nuh rasul pertama, bagaimana dengan Adam?

Adam manusia pertama sekaligus nabi, namun beliau bukan rasul. Beliau menerima wahyu dari Allah, untuk diri beliau dan semua orang yang ada di sekitar beliau. Dan mereka semua dalam kondisi beriman, sekalipun ada diantara mereka yang melakukan dosa.

Sementara diantara ciri rasul, mereka Allah utus untuk menghadapi kaum yang menyimpang dan keluar dari islam karena pelanggaran kesyirikan. Seperti yang dialami kaum nabi Nuh 'alaihis salam.

Ketiga, antara Adam dan Nuh, belum ada kesyirikan

Jarak antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Sebelum Nabi Nuh diutus, tidak ada satupun manusia yang berbuat syirik dan kufur kepada Allah.

Keterangan ini disampaikan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,

كان بين نوح وآدم عشرة قرون، كلهم على شريعة من الحق. فاختلفوا، فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين.

Antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Mereka semua berada di atas syariat yang benar. Kemudian mereka saling berselisih. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi gambar gembira dan kabar peringatan. (HR. At-Thabari dalam Tafsirnya no. 4048).

Allah mengutus Nuh ketika ada sebagian manusia yang berbuat kesyirikan, karena itulah, beliau menjadi rosul pertama.

Keempat, berhala di masa Nuh, mewakili orang soleh yang diagungkan kaum mereka

Allah menceritakan upaya pembelaan kaum Nuh terhadap berhala mereka,

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا . وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا. وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, (21) dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. (22) Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan)wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 21 – 23).

Siapakah berhala-berhala ini?

Ibnu Abbas menjelaskan,

أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِى كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا ، وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

Mereka adalah nama-nama orang soleh di kalangan kaumnya Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kaumnya untuk membuat prasasti di tempat-tempat peribadatan orang soleh itu. Dan memberi nama prasasti itu sesuai nama orang soleh tersebut. Merekapun melakukannya. Namun prasasti itu tidak disembah. Ketika generasi (pembuat prasasti) ini meninggal, dan pengetahuan tentang prasasti ini mulai kabur, akhirnya prasasti ini disembah. (HR. Bukhari 4920).

Dari pemaparan di atas bisa kita simpulkan,

  1. Kesyirikan pertama terjadi di zaman Nabi Nuh 'alahis shalatu was salam
  2. Karena adanya kesyirikan ini, Allah mengutus Nabi Nuh sebagai rasul pertama
  3. Sebab terjadi kesyirikan pertama di bumi adalah karena mengagungkan orang soleh yang telah meninggal.

Ini menunjukkan betapa bahayanya mengkultuskan orang soleh. Berawal dari kultus, kemudian orang menyembah orang soleh itu. Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang semua sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Karena sikap ghuluw, sumber bencana umat manusia dari zaman ke zaman.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ

Hindari sikap ghuluw dalam masalah agama. Karena yang membinasakan umat sebelum kalian adalah ghuluw dalam masalah agama. (HR. Nasai 3070, Ibnu Majah 3144, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Rabu, 21 Januari 2015

r bars or Ame

To pay for labor and purchase the productions of the valleys, a community could be established in the country independent of foreign resources. The result will show the success or failure of this Utopian scheme. The usual routine at Tubac, in addition to the regular business of distributing sup