Rabu, 26 November 2014

KonsultasiSyariah: Dilarang Memegang Kemaluan dengan Tangan Kanan!

KonsultasiSyariah: Dilarang Memegang Kemaluan dengan Tangan Kanan!


Dilarang Memegang Kemaluan dengan Tangan Kanan!

Posted: 25 Nov 2014 07:05 PM PST

Dilarang Memegang Kemaluan dengan Tangan Kanan!

Assalamu’alaikum. Ust. Bolehkah memyentuh atau memegang kemaluan sendiri dgn tangan kanan ?

Dari Helmy via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa alaikumus salam Wa rahmatullah,

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا أَتَى الْخَلَاءَ فَلَا يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَلَا يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِه

"Apabila kalian masuk toilet, janganlah menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya, dan jangan cebok dengan tangan kanannya." (HR. Bukhari 194 dan Muslim 393).

Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ

"Janganlah kalian menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya, ketika dia sedang kencing." (HR. Muslim 392).

Syaikh Abdullah al-Fauzan mengatakan,

الحديث دليل على نهي البائل أن يمسك ذكره بيمينه حال البول ؛ لأن هذا ينافي تكريم اليمين .وقد حمل جمهور العلماء هذا النهي على الكراهة ـ كما ذكر النووي وغيره ـ ؛ لأنه من باب الآداب والتوجيه والإرشاد ، ولأنه من باب تنزيه اليمين وذلك لا يصل النهي فيه إلى التحريم

Hadis di atas merupakan dalil larangan memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing. Karena perbuatan ini tidak memuliakan tangan kanan. Mayoritas ulama memahami larangan dalam hadis ini sebagai larangan makruh, sebagaimana ditegaskan an-Nawawi dan yang lainnya. Karena hadis ini berbicara masalah adab, dan arahan. Disamping itu, larangan ini terait sikap memuliakan tangan kanan, dan sifat larangan itu tidak sampai pada hukum haram.

Syaikh melanjutkan,

وذهب داود الظاهري وكذا ابن حزم إلى أنه نهي تحريم ، بناءً على أن الأصل في النهي التحريم .وقول الجمهور أرجح ، وهو أنه نهيُ تأديب وإرشاد ، ومما يؤيده قوله صلّى الله عليه وسلّم في الذَّكَرِ: “هل هو إلا بضعة منك….”

Sementara Daud az-Zhahiri, demikian pula Ibnu Hazm, menilai larangan ini sebagai larangan yang statusnya haram. Berdasarkan prinsip, hukum asal larangan adalah haram. Namun pendapat mayoritas ulama lebih kuat, bahwa larangan ini sifatnya adalah arahan terkait masalah adab. Dan diantara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang hukum memegang kemaluan, "Bukankah itu bagian dari anggota badamu?.." (Minhah al-Allam, Syarh Bulugh Maram, 1/312).

Al-Khithabi mengatakan,

إنما كره مس الذكر باليمين تنزيها لها عن مباشرة العضو الذي يكون منه الأذى والحدث ، وكان صلى الله عليه وسلم يجعل يمناه لطعامه وشرابه ولباسه ويسراه لما عداها من مهنة البدن…

Menyentuh kemaluan dengan tangan kanan hukumnya makruh, untuk melindungi tangan kanan agar tidak menyentuh anggota badan yang menjadi saluran kotoran dan najis. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tangan kanan beliau untuk makanan, minuman, didahulukan ketika memakai baju. Sementara beliau gunakan tangan kirinya untuk hal-hal yang kurang terhormat. (Ma'alim as-Sunan, 1/23)

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Tidak Keluar Sperma Saat Berhubungan Badan

Posted: 24 Nov 2014 10:41 PM PST

Tidak Bisa Keluar Spema Ketika Berhubungan

Pertanyaan:

Permisi dok, saya numpang tanya ? kok waktu saya ML gak bisa keluar sperma ya?Terus waktu masturbasi kok malah bisa keluar dok? Bagaimana cara mengatasi supaya sperma saya bisa keluar waktu ML dokter? Apa saya harus minum obat herbal dok?

Jawaban:

Sebelumnya mohon maaf, kami sebagai saudara anda se-Islam, memberikan masukan kepada anda agar tidak melakukan masturbasi lagi. Karena hal ini dilarang oleh agama kita. Begitu juga dengan ML, jika anda melakukannya dengan istri yang sah tidak mengapa. Sebaiknya segera menikah untuk menjaga kehormatan diri dan menjaga dari maksiat yang dapat membuat hati keras sehingga tidak bisa bahagia dunia dan akhirat.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan sperma tidak keluar ketika berhubungan. Jika hanya sekali saja, mungkin ada faktor yang mempengaruhi ketika berhubungan tersebut. Apalagi sperma, keluar ketika masturbasi. Jadi dapat kita simpulkan kalau permasalahannya BUKAN pada:

  1. Anatomi saluran reproduksi. Misalnya ada sumbatan pada saluran sperma dari tempat produksi di skrotum sampai keluar.
  2. Masalah produksi sperma. Artinya tidak ada masalah pada produksi sperma, semisal produksi sperma sangat sedikit sekali atau tidak ada
  3. Ada penyakit yang bisa membuat produksi sperma menurun.

Kemungkinan yang yang terjadi pada anda, tidak bisa keluar sperma ketika berhubungan:

  1. Faktor psikologis anda, suasana ketika berhubungan tidak tenang, mungkin anda sedang takut atau khawatir atau terlalu terburu-buru
    2.Faktor psikologis si wanita.
  2. Suasana tidak tenang dan khawatir membuat lubrikasi kurang bahkan bisa tegang sehingga anda tidak lancar
  3. Sebelum berhubungan, Anda baru saja meminum obat atau makanan yang bisa membuat pengeluaran sperma menjadi lama atau tertunda, misalnya obat antidepresi

Sekali lagi kami sarankanagar anda tidak mengulangi lagi perbuatan anda. Semoga ini menjadi peringatan awal dari Allah yang menghendaki kebaikan yang banyak kepada anda.

Dijawab oleh dr. Raehanul Bahraen (pengasuh kesehatan www.konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Selasa, 25 November 2014

KonsultasiSyariah: Menceraikan Istri Karena Kondisi Miskin

KonsultasiSyariah: Menceraikan Istri Karena Kondisi Miskin


Menceraikan Istri Karena Kondisi Miskin

Posted: 24 Nov 2014 05:32 PM PST

Menceraikan Istri Karena Kondisi Miskin

Assalamualaikum,

Bila seorang suami merasa sudah tidak bisa lagi memenuhi kewajibannya terhadap isterinya terutama materi bolehkah si suami mentalaq isterinya tersebut dan sebelum mentalaq isterinya si suami menyuruh kepada isterinya untuk mencari calon suaminya yang baru yang dipastikan bisa memenuhi kebutuhan materinya atau bahkan suaminya tersebut mencarikan calon suami untuk isterinya tersebut , terima kasih.

Dari Abu N

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah.

Jawaban yang diberikan tim fatwa,

فتطليقك زوجتك لأجل الفقر لا ننصحك بالمصير إليه، وخاصة إن كانت زوجتك راضية بالبقاء معك على هذا الحال، وعليك بالصبر عسى الله تعالى أن يأتي بالفرج، ويبدل حالك إلى غنى وما ذلك على الله بعزيز

Seorang suami mentalak istrinya karena keadaannya yang miskin, tidak kami sarankan. Terlebih jika sang istri ridha untuk selalu bersama suami dengan kondisi keterbatasan ini. Dan Anda harus bersabar, semoga Allah memberikan jalan keluar, menggantikan keadaan anda saat ini menjadi lebih mampu ekonomi, dan itu tidak sulit bagi Allah. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 125262)

Sebenarnya kita bisa mengaca pada kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Belliau adalah panutan orang miskin yang bersabar, berikut panutan orang kaya yang bersyukur. Namun para keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan bahwa mereka hidup dalam keterbatasan.

A’isyah radhiyallahu anha menceritakan,

ما شبع آل محمد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  منذ قدم المدينة من طعام البر ثلاث ليال تباعاً حتى قبض

"Tidak pernah keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kenyang makan roti dari gandum selama tiga hari berturut-turut semenjak beliau datang ke Madinah hingga beliau wafat". (HR. Bukhari 5416 dan Muslim 2970)

Padahal istri beliau ada sembilan. Tanggungan beliau sangat banyak. Meskipun demikian, beliau tidak menceraikan para istrinya, hanya karena masalah ekonomi.

Terkadang ada wanita yang dia merasa lebih bahagia ketika dia bersama suami pertamanya. Meskipun dia hidup dalam keadaan serba kekurangan. Lebih dari itu, tidak ada jaminan baginya untuk bisa berbahagia ketika dia bersama lelaki yang lain. Karena kebahagiaan tidak hanya berdasarkan ukuran materi.

Semoga Allah membuka keberkahan bagi keluarga anda dan kaum muslimin.

Allahu a'lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Tidak Memiliki Bayangan?

Posted: 23 Nov 2014 11:57 PM PST

Benarkah Nabi Tidak Memiliki Bayangan?

Benarkah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki bayangan? Krn jasad beliau adalah cahaya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Keterangan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki bayangan, disampaikan oleh Muhammad as-Sholihi (w. 942 H) dalam kitabnya Subul al-Huda wa ar-Rasyad. Beliau menukil beberapa riwayat dari ulama, diantaranya Ibnu Sab' dalam Khasais Nabi dan ad-Dzakwan.

Ibnu Sab' mengatakan,

إن ظله صلى الله عليه وسلم كان لا يقع على الأرض وأنه كان نوراً، وكان إذا مشى في الشمس أو القمر لا يظهر له ظل

"Bayangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menempel di tanah. Karena beliau adalah cahaya. Apabila beliau berjalan di bawah terik atau di malam purnama, tidak nampak bayangannya."

Kemudian keterangan lain dari seorang tabiin bernama ad-Dzakwan, beliau mengatakan,

لم ير لرسول الله صلى الله عليه وسلم ظل في شمس ولا قمر.

Tidak terlihat bayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah matahari maupun purnama.

Ada sebgian yang memberi alasan, agar bayangan beliau tidak diinjak oleh orang kafir, sehingga mereka bisa merendahkan beliau. (Subul al-Huda wa ar-Rasyad, 2/90)

Hanya saja keterangan ini dinilai lemah oleh para ulama karena beberapa alasan berikut,

Pertama, Allah menegaskan dalam banyak ayat, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara fisik adalah manusia biasa seperti umumnya manusia. Hanya saja beliau diberi wahyu dan mendapat penjagaan dari Allah.

Allah berfirman,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

"Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." (QS. al-Kahfi: 110)

Allah juga berfirman menjelaskan semua karakter nabi,

وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَداً لا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ

"Tidaklah Kami jadikan untuk mereka (para nabi) tubuh-tubuh yang tidak makan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal." (QS. al-Anbiya: 8).

Allah juga mengingkari keheranan orang kafir terhadap status nabi sebagai manunsia biasa,

وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأَسْوَاقِ

Mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?" (QS. al-Furqan: 8)

Semua ayat di atas menunjukkan bahwa karakter fisik para nabi, tidak berbeda dengan umatnya. Artinya, mereka sama-sama manusia.

Kedua, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk bani Adam yang diciptakan dari tanah. Sementara yang diciptaan dari cahaya hanyalah malaikat. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan golongan Malaikat.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خُلِقَت المَلائِكَةُ مِن نُورٍ ، وَخُلِقَ إِبلِيسُ مِن نَارِ السَّمومِ ، وَخُلِقَ آدَمُ عَلَيهِ السَّلامُ مِمَّا وُصِفَ لَكُم

"Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari nyala api. Adam diciptakan dari apa yang telah ada pada kalian." (HR. Muslim 2996).

Andai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu cahaya, tentu beliau akan dikelompokkan dalam kategori malaikat dan dikecualikan dari hadis ini.

Ketika menjelaskan hadis ini, penulis as-Silsilah as-Shahihah mengatakan,

وفيه إشارة إلى بطلان الحديث المشهور على ألسنة الناس : ( أول ما خلق الله نور نبيك يا جابر ) ! ونحوه من الأحاديث التي تقول بأنه صلى الله عليه وسلم خلق من نور ، فإن هذا الحديث دليل واضح على أن الملائكة فقط هم الذين خلقوا من نور ، دون آدم وبنيه ، فتـنبّه ولا تكن من الغافلين

Hadis ini mengisyaratkan kesalahan ungkapan yang masyhur di masyarakat, bahwa yang pertama kali diciptakan adalah cahaya nabimu. Atau hadis-hadis yang semisalnya, yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diciptakan dari cahaya. Karena hadis ini merupakan dalil tegas bahwa hanya malaikat yang diciptakan dari cahaya, bukann Adam dan keturunannya. Perhatikan ini, dan jangan ikutan menjadi orang lalai. (as-Silsilah as-Shahihah, keterangan no. 458).

Ketiga, kehadiran beliau merupakan cahaya bagi umat. Karena beliau menjadi sumber yang menyampaikan petunjuk dari Allah. Konsekuensi hal ini, fisik beliau harus bisa dilihat dengan sempurna, sehingga para sahabat bisa meniru perbuatan beliau.

Untuk itu, jika fisik beliau berupa cahaya, justru ini menghalanngi kesempurnaan beliau untuk menjadi pelita bagi umat. Karena masyarakat akan kesulitan untuk untuk menyaksikan aktivitas beliau, melihat gerakan beliau ketika ibadah, dst.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas mimbar, dan beliau turun untuk sujud di tanah. Alasannya, agar para sahabat bisa melihat bagaimana cara shalat beliau.

Sahl bin Sa'd as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu menceritakan,

وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ، ثُمَّ عَادَ، حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي، وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي»

Saya pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami di atas mimbar. Beliau takbiratul ihram dan jamaahpun ikut takbir di belakang beliau, sementara beliau di atas mimbar. Kemudian, ketika beliau i'tidal, beliau mundur ke belakang untuk turun, sehingga beliau sujud di tanah. Lalu beliau kembali lagi ke atas mimbar, hingga beliau menyelesaikan shalatnya. Kemudian beliau menghadap kepada para sahabat, dan bersabda,

"Wahai para sahabat, aku lakukan ini agar kalian bisa mengikutiku dan mempelajari shalatku." (HR. Bukhari 377, Muslim 544, Nasai 739, dan yang lainnya).

Keempat, orang kafir kehilangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika perang.

Orang kafir sangat antusias untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terutama ketika perang berkecamuk. Meskipun demikian, ada beberapa pasukan kafir yang kesulitan mengenali beliau di tengah  hiruk pikuk perang. Andai tubuh beliau berupa cahaya, mereka akan dengan lebih mudah menjadikan beliau sebagai sasaran utama.

Ketika perang Uhud, Kesedihan menyelimuti kaum muslimin atas musibah ini. Allah menguji mereka dengan wafatnya puluhan saudara mereka. Namun ada musibah yang lebih besar dari itu semua. Di tengah mereka kerepotan menghadapi musuh dari depan dan belakang, tiba-tiba Ibnu Qamiah, salah satu pasukan musyrik berteriak, "Aku telah membunuh Muhammad…" "Aku telah membunuh Muhammad…".

Seketika hiruk pikuk perang yang sedang berkecamuk langsung berhenti. Kesedihan makin mendalam dialami para sahabat. Membuat mereka lupa akan kesedihan yang pertama. Sementara orang musyrik begitu bangga karena sasaran utama mereka telah terbunuh.

Abu Sufyan yang kala itu memimpin pasukan musyrikin Quraisy, naik ke atas bukit dan meneriakkan,

"Apakah Muhammad masih hidup?"

"Apakah Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakr) masih hidup?"

"Apakah Umar bin Khatab masih hidup?"

Namun Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meminta para sahabat untuk diam. Akan tetapi, Umar tidak bisa menahan emosinya dan meneriakkan,

يا عدو الله، إن الذين ذكرتهم أحياء، وقد أبقي الله ما يسوءك

"Wahai musuh Allah, orang-orang yang kau sebutkan semua masih hidup. Allah akan tetap membuatmu sedih."

Kemudian Abu Sufyan memanggil Umar untuk menemuinya, Nabi-pun menyuruhnya untuk menghadap.

"Jawab dengan jujur wahai Umar, apakah kami telah berhasil membunuh Muhammad?" tanya Abu Sufyan.

"Demi Allah, tidak. Beliau juga mendengarkan ucapanmu saat ini."

Komentar Abu Sufyan,

أنت أصدق عندي من ابن قَمِئَة

"Bagiku Kamu lebih jujur dari pada Ibnu Qamiah."

Seketika, wajah kegembiraan menghiasi para sahabat. Melupakan semua musibah yang mereka alami dengan 'kekalahan' mereka di perang Uhud. (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 250).

Andai tubuh beliau berupa cahaya, tentu Abu Sufyan tidak akan bertanya-tanya hal itu, karena beliau badannya berbeda dengan manusia umumnya. Namun kenyataanya, mereka tidak bisa mengenali Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah hiruk pikuk peperangan.

Untuk itu, tidak benar jika dinyatakan bahwa jasad Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah cahaya, sehingga belia tidak memiliki bayangan.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Senin, 24 November 2014

KonsultasiSyariah: Adakah Puasa Sunah Sebelum Akad Nikah?

KonsultasiSyariah: Adakah Puasa Sunah Sebelum Akad Nikah?


Adakah Puasa Sunah Sebelum Akad Nikah?

Posted: 23 Nov 2014 06:45 PM PST

Puasa Sunah Sebelum Akad Nikah

Assalamualaikum Wr.Wb

Saya mau tanya adakah kewajiban berpuasa bagi kedua mempelai pengantin sebelum dilangsungkan akad nikah??karena banyak orang bilang kalau berpuasa sebelum akad nikah akan membuat rumah tangga akan menjadi langgeng selamanya ??

Terima Kasih,
Wassalam.

Dari Rindit Hapsari 

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Kami tidak menjumpai adanya dalil yang menganjurkan puasa sebelum akad nikah. Terlebih jika tujuannya dalam rangka mencari berkah agar keluarga bisa lebih langgeng. Karena itu, tidak selayaknya amalan ini diyakini sebagai bagian dari ajaran islam, sebelum dicocokkan dengan sunah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau para sahabat.

Agar Pernikahan Diberkahi

Sebenarnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat telah mengajarkan amalan bagi pengantin baru, untuk kelanggengan keluarga. Ada dua amalan yang bisa dikerjakan,

Pertama, doa pasca-akad nikah

Ketika bertemu pertama kali setelah akad nikah, dianjurkan bagi suami untuk mendoakan istrinya. Caranya: suami meletakkan tangan kanannya di ubun-ubun istrinya –pastikan tidak ada orang ketiga– kemudian membaca tiga hal:

1. Basmalah

2. Mendoakan keberkahan untuk berdua, misalnya:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْها، وَبَارِكْ لَهَا فِيَّ

Allahumma barik laha fiyya wa barik lii fiiha

"Ya Allah jadikanlah dia berkah untukku, dan jadikanlah aku berkah untuknya."

3. Membaca doa berikut,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha 'alaihi wa a-'udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha 'alaihi

"Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa."

Keterangan di atas berdasarkan hadis dari Abdullah bin Amr bin 'Ash, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إذا تزوج أحدكم امرأة أو اشترى خادما فليأخذ بناصيتها وليسم الله عز وجل وليدع بالبركة وليقل: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا…

"Apabila kalian menikahi seorang wanita, maka peganglah ubun-ubunnya, sebutlah nama Allah, dan doakanlah memohon keberkahan, serta ucapkan: Allahumma inni as-aluka…. dst." (HR. Bukhari dalam Af'al al-Ibad hlm. 77, Abu Daud 1/336, Ibn Majah 1/592, Hakim 1/185, dan dihasankan al-Albani)

Kedua, shalat malam pertama

Shalat malam pertama dikerjakan secara berjamaah, suami mengimami istri.

Seorang tabiin yang bernama Abu Said pernah menceritakan pengalamannya,

Saya menikahi seorang wanita, sementara saya masih seorang budak. Kemudian saya mengundang beberapa sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Diantara mereka ada Ibnu Mas'ud, Abu Dzar, dan Hudzifah radhiallahu'anhum.

Lalu tibalah waktu salat, Abu Dzar bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka mengatakan 'Kamulah (Abu Sa'id) yang berhak!' Karena tuan rumah lebih berhak untuk mengimami tamunya. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Ketika itu aku masih seorang budak.

Selanjutnya mereka mengajariku,

إذا دخل عليك أهلك فصل ركعتين ثم سل الله من خير ما دخل عليك وتعوذ به من شره ثم شأنك وشأن أهلك

"Jika isterimu datang menemuimu, hendaklah kalian berdua salat dua rakaat. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kalian berdua." (HR. Ibnu Abi Syaibah Al-Mushannaf no. 29733 dan dishahihkan al-Albani)

Dalil yang lain adalah riwayat dari Syaqiq, beliau mengatakan,

Ada seseorang yang bernama Abu Hariz. Beliau menceritakan,

"Saya menikahi seorang perawan yang masih muda, dan saya khawatir dia akan membenciku. Kemudian Ibnu Mas'ud memberi nasihat,

إن الإلف من الله والفرك من الشيطان يريد أن يكره إليكم ما أحل الله لكم فإذا أتتك فأمرها أن تصلي وراءك ركعتين

"Sesungguhnya kasih sayang itu dari Allah dan kebencian itu dari setan untuk membenci sesuatu yang dihalalkan Allah kepadamu. Jika isterimu datang kepadamu, perintahkanlah istrimu untuk melaksanakan salat dua rakaat di belakangmu. Lalu ucapkanlah,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِي وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ بِخَيْرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ

"Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan."(Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 17156 dan dishahihkan Al-Albani).

Mengenai tata cara shalat malam pertama, bisa anda pelajari di: Sebelum Malam Pertama

Demikian, Allahu a'lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Sabtu, 22 November 2014

KonsultasiSyariah: Makna Kalimat: Zina tidak Mengharamkan yang Halal

KonsultasiSyariah: Makna Kalimat: Zina tidak Mengharamkan yang Halal


Makna Kalimat: Zina tidak Mengharamkan yang Halal

Posted: 21 Nov 2014 05:19 PM PST

Makna Kalimat: Zina tidak Mengharamkan yang Halal

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Ustadz, bgmn derajat hadis berikut:”Haramnya (pernikahan) tidak mengharamkan yang halal (pernikahan).” (HR Ibn Majah dan al-Bayhaqi). Apa maksud isi hadits tsb?

Mr. Tom

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Redaksi kalimat yang kami jumpai,

لاَ يُحَرِّمُ الْحَرَامُ الْحَلاَلَ

"Sesuatu yang haram tidaklah mengharamkan yang halal.

Kalimat ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya dari Ibnu Umar, dan ad-Daruquthni dari Aisyah, keduanya secara marfu' dan dinilai dhaif oleh al-Albani. Karena dalam sanadnya terdapat perawi Abdullah al-Umari al-Mukabbar dan dia dhaif.  (Silsilah ad-Dhaifah, no. 385).

Kemudian disebutkan dalam riwayat lain dari A'isyah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لا يحرم الحرام، إنما يحرم ما كان بنكاح حلال

Sesuatu yang haram tidak menyebabkan yang lain jadi haram. Yang bisa menjadikan mahram adalah yang dilakukan dengan nikah yang halal.

Hanya saja, hadis ini termasuk hadis batil, karena ada perawi bernama Utsman bin Abdurrahman al-Waqqasi yang dinilai kadzab (pendusta). (As-Silsilah ad-Dhaifah, no. 388).

Kaidah Sahabat & Jumhur Ulama

Al-Jasshas menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa beliau ditanya tentang seorang lelaki yang berzina dengan ibu mertuanya. Jawab Ibnu Abbas,

تخطى حرمتين ولم تحرم عليه امرأته

"Dia melakukan dua larangan, meskipun tidak menyebabkan istrinya menjadi mahram baginya."

Dalam riwayat lain, beliau mengatakan,

لا يحرم الحرام الحلال

"Yang haram tidaklah mengharamkan yang halal."

Maksudnya, zina adalah sesuatu yang haram. Namun bukan berarti, ketika seseorang berzina dengan ibu mertua, menyebabkan istrinya menjadi anak tirinya, sehingga istrinya menjadi haram baginya.

Keterangan Ibnu Abbas ini menjadi pendapat a-Zuhri, Rabi'ah ar-Ra’yi, Imam Malik, dan Imam as-Syafii. Al-Jasshas melanjutkan,

وقال الزهري وربيعة ومالك والليث والشافعي: “لا تحرم أمها ولا بنتها بالزنا”

Az-Zuhri, Rabi'ah, Malik, dan as-Syafii berpendapat, 'Ibu tidak pula anak menjadi mahram gara-gara berzina.' (Ahkam al-Quran, al-Jasshas, 2/162 – 163)

Maksudnya:

Zina seorang lelaki dengan wanita x, tidaklah menyebabkan ibunya menjadi mertuanya atau mennjadikan anak wanita itu menjadi anak tirinya, yang itu statusnya mahram baginya.

Demikian pula sebaliknya, ketika suami berzina dengan ibu mertuanya, tidaklah menyebabkan istrinya menjadi anak tirinya, yang statusnya mahram baginya.

Pendapat Lain

Al-Jasshas juga menyebutkan adanya pendapat lain. Bahwa zina bisa menjadikan ibu dan anak si wanita, menjadi mahram baginya. Al-Jasshas mengatakan,

روى سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن الحسن عن عمران بن حصين في رجل زنى بأم امرأته: “حرمت عليه امرأته”, وهو قول الحسن وقتادة; وكذلك قول سعيد بن المسيب وسليمان بن يسار وسالم بن عبد الله ومجاهد وعطاء وإبراهيم وعامر وحماد وأبي حنيفة وأبي يوسف

Said bin Abi Arubah meriwayatkan dari Qatadah dari Hasan dari sahabat Imran bin Hushain. Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang berzina dengan ibu mertuanya. Jawaban beliau, 'Istrinya menjadi mahram baginya.'

Dan ini merupakan pendapat Hasan al-Bashri, Qatadah, demikian pula Said bin Musayib, Sulaiman bin Yasar, Salim bin Abdillah, Mujahid, Atha, Ibrahim, Amir, Hammad, Imam Abu Hanifah, dan Abu Yusuf. (Ahkam al-Quran, al-Jasshas, 2/162 – 163)

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Bayi Mengisap Jempol Memacu Pertumbuhan Gigi?

Posted: 21 Nov 2014 01:27 AM PST

Kebiasaan Bayi Mengisap Jempol Memacu Pertumbuhan Gigi?

Pertanyaan:

Apa benar kebiasaan mengisap jempol atau dot (ada isinya atau yang kosong) bisa merusak pertumbuhan gigi anak? Kalau iya, bagaimana solusinya, padahal anak suka sekali isap jempol atau jari tangan yang lain. Terima kasih.

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada kami.

Kebiasaan mengisap jempol, dot (berisi), atau dot kosong (pacifier/kempong) merupakan jenis non nutritive sucking. Refleks sucking atau mengisap merupakan refleks normal pada bayi, dan membuat bayi (juga batita) merasa tenang, senang, dan membantunya belajar mengenai dunia di sekelilingnya. Sebagian besar anak dapat menghentikan kebiasaan mengisap ini pada usia 2-4 tahun. Meskipun begitu, kebiasaan ini memang ditengarai dapat mengganggu pertumbuhan gigi susu yang normal, karena dapat mengubah susunan gigi depan, pertumbuhan tulang rahang atas dan dengan demikian, bentuk mulut. Hal ini khususnya terjadi jika kebiasaan anak berlanjut hingga gigi permanennya tumbuh. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua membantu dan mendorong anak untuk menghentikan kebiasaan ini mulai usia 4 tahun ke atas. Anak akan kebih mudah berhenti mengisap jika menemukan alternatif lain untuk merasa tenang, misalnya selimut atau mainan tertentu, atau bahkan berada di dekat orang tua dan menyentuhnya.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh dr Hafidz (Pengasuh rubrik kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Jumat, 21 November 2014

KonsultasiSyariah: Kedahsyatan Bacaan Bismillah sebelum Makan apapun!

KonsultasiSyariah: Kedahsyatan Bacaan Bismillah sebelum Makan apapun!


Kedahsyatan Bacaan Bismillah sebelum Makan apapun!

Posted: 20 Nov 2014 05:34 PM PST

Kedahsyatan Bacaan Bismillah sebelum Makan

Benarkah jika makan tidak baca bismillah, setan akan ikut menyantap makanan kita? Mohon jelaskan dalilnya! Terima kasih stad..

Jawab:

Bismillah was Shalatu was Salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Diantara manfaat membaca basamalah sebelum makan adalah menghalangi setan untuk ikut bergabung makan bersama manusia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ

Sesungguhnya setan akan ikut menyantap makanan yang tidak diawali dengan membaca bismillah sebelum makan. (HR. Muslim dan Ahmad)

Sebab Wurud Hadis

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Apabila kami makan satu nampan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami tidak berani mengambil makanan, hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengawali mengambilnya. Suatu ketika, kami makan satu nampan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba ada anak kecil nyeruduk untuk mengambil makanan, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya. Kemudian datang lagi orang badui nyeruduk untuk mengambil makanan, dan tangannya langsung dipegang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ لِيَسْتَحِلَّ بِهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا، فَجَاءَ بِهَذَا الْأَعْرَابِيِّ لِيَسْتَحِلَّ بِهِ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ يَدَهُ فِي يَدِي مَعَ يَدِهَا

Sesungguhnya setan akan ikut menyantap makanan yang tidak diawali dengan membaca bismillah sebelum makan. Setan datang dengan memanfaatkan anak kecil ini agar bisa ikut menyantap makanan. Lalu akupun memgang tangannya. Kemudian setan datang lagi dengan memanfaatkan orang badui itu agar bisa ikut menyantap makanan, lalu aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan itu sedang saya pegang bersamaan saya memegang tangan kedua orang ini. (HR. Ahmad 23249 dan Muslim 2017)

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan anak kecil agar ketika makan, diawali dengan membaca basmalah.

Dari 'Umar bin Abi Salamah, ia berkata, "Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ. فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

"Wahai anakku, bacalah "bismilillah", makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu." Selanjutnya seperti itul cara makanku setelah itu. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Bagaimana Jika Lupa?

Jika lupa, anda bisa membaca kalimat berikut ketika ingat,

بِسْمِ اللَّهِ في أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

"Dengan nama Allah di awal dan dia akhir"

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda,

من نسي أن يذكر  اسم الله في أول طعامه؛ فليقل حين يذكر: بِسْمِ اللَّهِ في أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، فإنه يستقبل طعامه جديدا، ويمنع الخبيث ما كان يصيب منه

"Apabila salah seorang kamu makan hendaklah mengucapkan bismillah, maka jika lupa mengucapkan bismillah di awalnya, ucapkanlah,

بِسْمِ اللَّهِ في أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

(dengan nama Allah di awal dan dia akhir)

dengan demikain dia seperti makan dari awal lagi, dan setan terhalangi untuk ikut makan bersamanya, yang mana sebelumnya dia telah mendapat bagian dari makanan tersebut." (HR Ibnu Hibban 5213, Ibnu Sunni no. 461 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Betapa pentingnya bacaan bismillah sebelum makan, sehingga tidak selayaknya kaum muslimin melalaikannya. Karena ini senjata kita untuk menghindari gangguan setan, dengan izin Allah.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Stroke di Usia Muda

Posted: 19 Nov 2014 08:32 PM PST

Stroke di Usia Muda

Pertanyaan:

Pak dokter, apakah benar stroke bisa mengenai orang berusia muda, 20-30 tahun an? Yang saya tahu, stroke itu penyakit orang tua. Tapi beberapa waktu lalu saya ada baca di internet, kalau stroke juga bisa terjadi pada yang lebih muda.

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada kami.

Stroke terjadi ketika pembuluh darah yang bertugas menyuplai darah berisi nutrisi dan oksigen mengalami penyumbatan, atau pecah. Akibatnya, daerah yang disuplai tidak mendapatkan darah, sehingga sel otak ‘sekarat’ dan jika tidak segera ditangani dalam hitungan menit. Bagian otak tersebut pun tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Memang benar stroke lebih banyak mengenai lansia, diatas 50-60 tahun, dan jenis kelamin laki-laki, terdapat beberapa kondisi dimana stroke dapat mengenai mereka yang berusia lebih muda, diantaranya:

  • Kelainan anatomis pembuluh darah otak, seperti aneurisma (pembuluh darah melebar dan dindingnya melemah). Kelainan ini terjadi di usia dini dan sulit dideteksi karena cenderung tidak bergejala, biasanya ditemukan tanpa sengaja saat pemeriksaan rutin.
  • Penyakit hipertensi esensial, dimana tekanan darah tinggi terjadi sejak usia muda tanpa disebabkan oleh penyakit/gangguan kesehatan lainnya.
  • Penyakit jantung seperti kebocoran katup, infeksi katup, penyakit jantung rematik.
  • Penyakit pada pembuluh vena, seperti trombosis vena dalam.
  • Emboli, seperti emboli amnion paska persalinan atau emboli lemak paska operasi besar seperti operasi tulang.

Selain itu, perubahan gaya hidup yang lebih sedenter, konsumsi makanan tak sehat (tinggi lemak tak sehat, garam, gula, penyedap, dll), stres fisik dan emosional yang tinggi, secara tidak langsung meningkatkan peluang dewasa muda untuk terkena stroke. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi setiap orang untuk memperbaiki pola aktivitas, kerja, dan makannya, untuk menurunkan risiko terkena stroke di usia muda.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh dr. Hafidz (Pengasuk rubrik kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Kamis, 20 November 2014

KonsultasiSyariah: Kode Etik Khutbah dan Khatib

KonsultasiSyariah: Kode Etik Khutbah dan Khatib


Kode Etik Khutbah dan Khatib

Posted: 19 Nov 2014 06:19 PM PST

Sekilas Tentang Kode Etik Khutbah dan Khatib

Ketika berkhutbah dan tampil sebagai khatib, seorang juru dakwah harus mengikuti aturan yang telah diatur oleh Islam. Aturan itu pada dasarnya diambil contoh sikap dan perbuatan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam ketika menyampaikan khutbah Jumat. Berikut ini sejumlah kode etik yang perlu diperhatikan ketika menyampaikan khutbah dan berperan sebagai khatib:

1. Khatib seyogyanya beraqidah benar dan lurus, sesuai dengan pemahaman ahlus sunnah wal jamaah dan tidak memiliki pemahaman aqidah yang menyimpang, seperti menyekutukan Allah dengan makhluk dan membatasi nama dan sifat Allah. Selain itu juga, hendaknya ia lebih mendahulukan dalil naqli (Alquran dan sunah) dibandingkan dalil aqli (logika). Jika dalam praktiknya, logika tidak bisa merasionalkan argumentasi Alquran dan sunah, perlu disadari bahwa hal itu terjadi karena kekurangan dan ketidaksempurnaan akal. Bukan karena argumentasi dalil naqli bertentangan dengan logika. Sebab, sangat tidak mungkin, dilihat dari sudut pandang manapun, argumentasi Alquran dan sunah yang sahih bertentangan dengan logika umum.

2. Memiliki kepribadian yang tenang dan berwibawa, mengagungkan tanda-tanda kebesaran dan syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala, memandang larangan dan pelanggaran syariat sebagai perbuatan hina dan tidak terhormat. Selain itu, segala gerak-gerik ibadahnya, mulai dari berdiri, duduk, bergerak, dan diam dilakukan karena Allah. Segala urusannya harus tunduk pada perintah Allah. Hawa nafsunya mengikuti tuntunan yang dicontohkan Rasullah shallallahu 'alaihi wa sallam, memaafkan orang yang dimaafkan Allah Subahanahu wa Ta'ala, tidak memutuskan harapan pelaku dosa dari berharap rahmat Allah Subahanahu wa Ta'ala, tidak membiarkan hamba yang patuh merasa aman ujian Allah, menyukai rukhshah (keringanan dalam melaksanakan suatu kewajiban) tanpa meremehkan perintah-perintah Allah, dengan demikian mereka termasuk orang mencintai dan dicintai hamba Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang yang kalian cintai dan ia mencintai kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang yang kalian tidak sukai dan ia juga tidak menyukai kalian."

3. Memahami dengan baik hukum, syarat, rukun, hal-hal yang membatalkan, tata cara pelaksanaan dan hal-hal yang membuat khutbah dan shalat menjadi sempurna.

4. Menggunakan bahasa baku, fasih bertutur kata, dan pandai mengungkapkan maksudnya agar orang yang mendengarkan pun kagum dan menerima nasihatnya. Seseorang bisa melatih dirinya agar orang tertarik dengan khutbahnya dan tetap menjaga hatinya agar tidak riya'.

5. Menjaga diri agar tidak melakukan kesalahan dalam mengungkapkan kebaikan dari segi sastra, bahasa, ilmiah, dan sejarah. Sehingga orang tidak menuduhnya kaku dalam berdakwah atau memahami penjelasannya dengan pemahaman yang berseberangan.

6. Isi khutbah harus disampaikan dengan jelas, sistematis, terususn rapi dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, lugas, dan diterima oleh semua kalangan, baik yang terpelajar dan awam. Sebab, tujuan khutbah adalah memotivasi jiwa agar taat kepada Allah 'Azza wa Jalla. Tentu saja, penyampaian khutbah yang baik mempunyai dampak positif. Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan khutbah, khatib tidak perlu menggunakan peribahasa, ungkapan sastra yang rumit dan bahasa yang tidak lazim.

7. Hendaknya seorang khatib tidak memperpanjang penyampaian khutbah. Hendaknya khutbah disampaikan secara ringkas dan padat, agar para pendengar tidak merasa bosan, benci terhadap ilmu dan tidak mau mendengar kebaikan. Dengan begitu, membuat mereka terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Perlu diingat, ketika menyampaikan nasihat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selalu menjaga agar para sahabat tidak sampai merasa bosan dan jemu, seperti dinukil dalam kitab Sahihain (Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim) dari Ibnu Mas'ud.

Imam Az-Zuhri berkata, "Apabila sebuah majelis terlalu panjang, maka setan akan mengambil bagian di dalamnya."

8. Mengutip hadis-hadis sahih dan menjelaskan maknanya sesuai dengan pemahaman ulama salaf (ulama-ulama salih terdahulu dari kalangan sahabat, tabi'in, dan sesudahnya pen.).

9. Menjaga kemampuan daya tangkap para pendengar dalam memahami pesan yang disampaikan, agar tidak salah paham. Pernah terjadi di zaman Nabi, seorang pria berkhutbah di hadapan nabi dengna menggunakan ungkapan, "Barangsiapa taat dan patuh kepada Allah dan rasul-Nya, maka ia memperoleh petunjuk. Dan barangsiapa mendurhakai (perintah) mereka, maka ia telah sesat." Mendengar itu, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Seburuk-buruk khatib adalah kamu. Katakanlah, 'Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka ia telah sesat'." Sahabat tersebut menggunakan kata ganti "mereka" sebagai kata ganti yang menunjukkan pada Allah dan rasul-Nya di hadapan hadirin yang kurang paham. Karenanya, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam pun menegur dan mengoreksinya agar pendengar yang kurang memahami tidak menganggap kata ganti tersebut bermakna satu, kendati pada dasarnya, orang yang taat kepada rasul, juga berarti taat kepada Allah. Begitu pula sebaliknya, orang yang mendurhakai perintah rasul, berarti ia juga mendurhakai Allah. Karena itu, beliau mengungkapkan, "Seburuk-buruk khatib adalah kamu." Saat itu, sahabat itu tengah berada dalam masyarakat umum. Beliau menegurnya agar tidak menimbulkan pemahaman yang keliru, wallahu a'lam.

Di samping itu, khatib juga perlu memperhatikan waktu dan mengajukan solusi permasalahan yang sedang dihadapi para pendengar.

10. Tidak merasa khawatir dan takut kepada orang yang mendengar atau orang yang belajar dari pesan yang disampaikan oleh khatib. Seyogyanya seorang khatib merasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam penyampaiannya dan dalam memberikan informasi hukum yang berkaitan dengan kemaslahatan dunia dan akhirat para jamaah. wallahu a'lam.

11. Seorang khatib hendaknya pandai membagi dan menempatkan isi khutbah dengan baik agar mudah dipahami oleh semua pendengar, baik masyarakat umum maupun kalangan terpelajar. Selain itu, khatib hendaknya selalu menggunakan ungkapan "Amma ba'd" setelah ber-tahmid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sebelum menyampaikan pesan takwa yang merupakan sunah yang selalu dilakukan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dalam setiap khutbahnya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab "Sahihain" dan kitab-kitab lainnya. Inilah kelebihan yang diberikan Allah kepada Nabi Daud 'alaihissalam, menurut pendapat sejumlah ahli tafsir.

"Dan kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan." (Shaad: 20)

12. Ketika menyampaikan khutbah, khatib selain dianjurkan untuk menyampaikan harapan-harapan yang menimbulkan semangat, hendaknya ia menyampaikan ancaman terhadap perbuatan dosa yang dapat menimbulkan rasa takut dalam diri pendengar. Demikian pula ketika menyampaikan berita gembira, seorang khatib hendaknya menyampaikan peringatan, dalam rangka meniru metodologi Alquran dalam memberikan pendidikan dan bimbingan.

13. Mempersiapkan konsep khutbah dan kerangka pemikiran yang sistematis. Hal ini sebaiknya dilakukan agar ide yang ingin disampaikan dan metode yang digunakan tidak semrawut dan lebih efektif.

14. Tidak memutuskan harapan dan semangat pendengar. Sebaliknya, khatib yang baik semestinya mampu memotivasi dan melahirkan harapan dalam diri pendengar.

15. Selayaknya khutbah dapat mengajak dan menyentuh akal dan hati secara bersama-sama agar mampu mempengaruhi pikiran dan perasaan pendengar.

16. Khatib yang baik seyogyanya memiliki jiwa yang lapang dan murah senyum. Seakan terpancar dari wajahnya aura harapan dan selalu menerima pendapat dan nasihat orang lain. Sebab, seorang Muslim merupakan cermin bagi Muslim yang lain.

17. Selalu bersikap realistis dalam menghadapi setiap permasalahan. Hendaknya ia berusaha mengaitkan masalah itu dengan peristiwa sejarah yang memiliki kesamaan lalu menarik pelajaran dan ibrah dari setiap peristiwa.

18. Memilih topik pembahasan yang baik dan menarik. Hal ini dapat ditempuh dengan menyinggung masalah kekinian dengan memberikan nilai tambah bagi wawasan hadirin.

19. Melantangkan dan mengeraskan suara ketika menyampaikan nasihat. Sebab, inilah tujuan umum yang ingin disampaikan dalam khutbah. Hal ini dipraktikkan langsung oleh Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dalam setiap khutbahnya. Kala itu, beliau diibaratkan seolah sedang berpesan pada pasukan yang akan maju ke medan laga. Beliau bersabda, "Keselamatan bagi kalian di pagi dan sore hari."

20. Saat menyampaikan khutbah, lalu seorang khatib menyaksikan sebuah pelanggaran terhadap syariat terjadi, hendaknya ia menghentikan khutbah dan melakukan amar ma'ruf nahi munkar adalah sesuai dengna kebutuhan saat itu. Karenanya, kemungkaran atau pelanggaran yang terjadi ketika khutbah berlangsung lebih diprioritaskan. Pendapat ini didasarkan pada argumen syariat dan ijma' (konsensus) ulama, tanpa ada silang pendapat.

Ini pernah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Sulaik Al-Ghathfani masuk ke masjid ketika Nabi sedang berkhutbah. Beliau pun berujar, "Sudahkah engkau shalat dua rakaat?" Sulaik menjawab, "Belum." Nabi lalu bersabda, "Berdiri dan lakukan shalat dua rakaat"

Lebih tegas lagi, suatu ketika Utsman datang terlambat ke masjid ketika sedang berkhutbah. Umar pun menanyakan perihal keterlambatannya. Utsman menjawab, "Saya hanya bisa berwudhu." Umar berkata, "Dan wudhu juga! Engkau sendiri tahu bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk mandi (Jumat)."

Seorang pendengar dalam hal ini, tidak dianjurkan untuk melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, baik dengan ucapan maupun isyarat agar tidak menimbulkan kegaduhan. Juga agar tidak mengganggu konsentrasi khatib dalam menyampaikan khutbahnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Jika engkau mengatakan kepada temanmu ketika imam sedang berkhutbah: diamlah, maka sungguh engkau telah melakukan perbuatan sia-sia."

Amar ma'ruf dalam kondisi seperti ini dikategorikan oleh Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam sebagai perbuatan sia-sia (tidak berpahala pen.). Sebab para hadirin dalam majelis Jumat diperintahkan untuk diam. Tak boleh satu orang pun yang boleh berbicara, seperti halnya seseorang yang salat. Perbuatan sia-sia (laghwu) yang dimaksud di sini adalah ucapan yang terlontar dari mulut seseorang dan sudah sewajarnya disikapi dengan tidak mengindahkannya. Tak hanya sebatas ucapan, tapi juga perbuatan pun termasuk dalam kategori ini. Karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa menyentuh batu kerikil, maka ia telah melakukan perbuatan sia-sia." Maksudnya, perbuatan seperti itu dianggap sia-sia ketika dilakukan dalam shalat karena akan mengganggu kekhusyuan dan konsentrasi.

Perhatikanlah! Meski amar ma'ruf dan nahi munkar adalah perbuatan baik, tapi dalam kondisi seperti ini, seorang pendengar yang melakukannya dinilai telah melakukan perbuatan sia-sia. Sebab, terjadi pada kondisi yang tidak pas dan cocok. Sama halnya dengna larangan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam untuk membaca ayat Alquran ketika ruku dan sujud, menunaikan shalat di waktu-waktu makruh, ketika makanan telah siap disajikan, dan ketika menahan kencing dan buang air besar. Wallahu a'lam.

21. Topik pembahasan yang disampaikan dalam khutbah hendaknya memiliki maksud dan makna yang seirama, dituangkan dalam pemaparan yang menarik dan menggunakan gaya bahasa yang enak didengar. Karena itu, topik pembahasan khutbah yang disampaikan mestinya dapat bermanfaat dan bernilai positif. Dengan begitu, usai mendengarkan khutbah, para pendengar memahami dengan baik topik pembahasan yang disampaikan oleh khatib.

22. Topik pembahasan yang diangkat dalam khutbah seyogyanya berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat umum. Sebab, umumnya, setiap orang memiliki masalah, cita-cita, penderitaan, nasib baik dan buruk. Khutbah yang sukses adalah khutbah yang mampu memberikan solusi terhadap permasalahan hidup yang tengah dihadapi dan menyentuh berbagai permasalahan penting lainnya. Agar khutbah Jumat yang dijadikan Islam sebagai media pembekalan ruhani bagi penganutnya dalam sepekan, dapat berperan penting dalam membangun mentalitas, muatannya seyogyanya mendatangkan solusi penambahan wawasan keilmuan, dan arahan yang bermanfaat bagi urusan agama dan dunia seorang Muslim.

23. Hendaknya khutbah Jumat tidak dijadikan sebagai media propaganda atau tujaun tertentu. Namun, hendaknya hal itu dilakukan ikhlas karena Allah, dalam rangka menegakkan agama, dakwah dan menjunjung kalimat Allah di atas semua ideologi dan isme lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (Q.S. Al-Jin: 18)

24. Seorang khatib seyogyanya bersikap zuhud terhadap milik orang lain dan menerima karunia yang diberikan Allah dengan tulus. Dengan demikian, di mata orang lain, ia menjadi sosok mulia dan terhormat, layak dihormati dan dicintai dan terhindar dari segala bentuk pelecehan dari mereka.

25. Mempersiapkan diri dengan menguasai praktik ibadah yang terdiri dari khutbah dan shalat jamaah yang dilaksanakan pada momen-momen tertentu, seperti shalat Idul Fitri, shalat Gerhana (Kusuf atau Khusuf) dan shalat istisqa. Sebab, tidak semua praktik ibadah tersebut, terutama shalat gerhana dapat dilaksanakan dalam ritual ibadah yang sama. Wallahu a'lam.

26. Tidak menjiplak dan meniru gaya maupun metode penyampaian khatib yang lain. Karena pendengar, pada umumnya, akan merasa bosan serta menanggapinya negatif.

27. Memberikan tarbiyah (pendidikan) dan mengadakan perubahan secara bertahap dengan menggunakan metode sesuai dan nasihat yang baik. Hendaknya ia mengawali dakwah dengan memprioritaskan perbaikan aqidah terlebih dahulu.

28. Hendaknya seorang khatib tidak hanya pandai mendiagnosa penyakit atau fenomena penyimpangan masyarakat. Tapi ia juga mampu memberikan obat atau solusi terhadap setiap penyakit sosial yang menjangkiti masyarakat.

Sumber: 33 Kesalahan Khotib Jumat, Su’ud bin Malluh bin Sulthan Al-‘Unazi, Pustaka at-Tazkia, 2006

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Bagaimana Iblis Menggoda Adam, Sementara Dia telah Diusir dari Surga?

Posted: 18 Nov 2014 11:57 PM PST

Bagaimana Iblis Menggoda Adam

Assalamualaikum ustad, saya mau tanya tentang kisah Nabi Adam dan Syetan dalam Surah Al A’raaf. Pertanyaan saya adalah waktu itu Syetan sudah diusir Allah SWT dari surga namun mereka masih bisa menggoda Adam dan Hawa untuk memakan buah kuldi, apakah waktu menggoda Adam dan Hawa, Syetan ada di surga atau tidak? kalau di waktu itu kejadiaanya ada di surga, bukankah Syetan sudah diusir Allah SWT dari surga. Kenapa Syetan laknatullah bisa kembali lagi ke surga? atau memang kejadiaan saat setan menghasut Adam dan Hawa ada di luar surga. Tolong beri penjelasan dengan literatur dan dalil yang akurat. Terima kasih tolong beri pencerahannya. Wassalamualaikum.

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam Wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Terdapat beberapa ayat yang menyebutkan bagaimana cara iblis menggoda Adam. Diantaranya adalah firman Allah,

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ . وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ . فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ

Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”, maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya… (QS. al-A'raf: 20 – 22)

Ada beberapa catatan yang bisa disimpulkan dari ayat ini,

Pertama, ulama sepakat bahwa yang menggoda Adam untuk memakan buah larangan adalah Iblis.

Al-Qurthubi mengatakan,

وَلَا خِلَافَ بَيْنَ أَهْلِ التَّأْوِيلِ وَغَيْرِهِمْ أَنَّ إِبْلِيسَ كَانَ مُتَوَلِّيَ إِغْوَاءِ آدَمَ

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tafsir dan yang lainnya, bahwa Iblislah pelaku yang menggoda Adam.

Kedua, ulama berbeda pendapat tentang tata cara Iblis dalam menggoda Adam 'alaihis Salam. Al-Qurthubi menyebutkan adanya dua pendapat dalam hal ini,

Pendapat pertama, Iblis menggoda Adam secara lisan, dalam bentuk dialog dengan ucapan.

Ini merupakan pendapat Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, dan mayoritas ulama. Iblis tidak menggoda melalui bisikan hati.

Al-Qurthubi mengatakan,

وَاخْتُلِفَ فِي الْكَيْفِيَّةِ، فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَجُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ أَغْوَاهُمَا مُشَافَهَةً، وَدَلِيلُ ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى:” وَقاسَمَهُما إِنِّي لَكُما لَمِنَ النَّاصِحِينَ” وَالْمُقَاسَمَةُ ظَاهِرُهَا الْمُشَافَهَةُ

Ulama berbeda pendapat mengenai cara bagaimana Iblis menggoda Adam. Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa Iblis menggoda Adam dan Hawa dengan dialog secara lisan. Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), "Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua." Adanya sumpah menunjukkan bahwa itu dilakukan secara lisan (bukan bisikan). (Tafsir al-Qurthubi, 1/312).

Pendapat kedua, Iblis menggoda Adam melalui was-was dan bisikan hati. Dan bukan secara lisan.

Al-Qurthubi menukil keterangan ulama lainnya,

وقالت طائفة: إن إبليس لم يدخل الجنة إلى آدم بعدما أخرج منها، وإنما أغوى بشيطانه وسلطانه ووساوسه التي أعطاه الله تعالى، كما قال صلى الله عليه وسلم: “إن الشيطان يجري من ابن آدم مجرى الدم

Sebagian ulama mengatakan, bahwa Iblis tidak masuk surga untuk menemui Adam, setelah dia diusir dari surga. Namun Iblis menggoda Adam dengan kekuatan setannya dan was-wasnya kepada Adam, yang kemampuan itu Alah berikan kepadanya. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Sesungguhnya setan mengalir di pembuluh darah bani Adam."

Dan pendapat yang lebih kuat adalah pendapat mayoritas ulama, mengingat adanya ayat yang menegaskan sumpah Iblis di hadapan Adam.

Ketiga, Lalu bagaimana cara Iblis masuk ke surga?

Ada dua pendapat ulama dalam hal ini,

Penndapat pertama, Iblis masuk surga bersama ular

al-Qurthubi menyebutkan keterangan dari Wahb bin Munabih – ulama tabiin –, yang diriwayatkan Ibnu Razaq,

دخل إبليس الجنة في فم الحية، وهي ذات أربع كالبُخْتِيَة من أحسن دابة خلقها الله تعالى بعد أن عرض نفسه على كثير من الحيوان فلم يدخله الجنة، فلما دخلت به الجنة خرج من جوفها إبليس، فأخذ من الشجرة التي نهى الله آدم وزوجه عنها، فجاء بها إلى حواء فقال: انظري إلى هذه الشجرة، ما أطيب ريحها وأطيب طعمها وأحسن لونها! فلم يزل يغويها حتى أخذتها حواء فأكلتها، ثم أغوى آدم، وقالت له حواء: كل فإني أكلت منها، فلم تضرني، فأكل منها فبدت لهما سوآتهما، وحصلا في حكم الذنب، فدخل آدم في جوف الشجرة، فناداه ربه: أين أنت؟ فقال: أنا هذا يا رب، قال: ألا تخرج؟ قال أستحي منك يا رب،  فقال الله لآدم: اهبط إلى الأرض التي خلقت منها، ولعنت الحية، وردت قوائمها في جوفها، وجُعِلت العداوة بينها وبين بني آدم، ولذلك أمرنا بقتلها…

Iblis masuk ke dalam surga melalui mulut ular, sebagaimana onta Bukhtiyah, binatang tunggangan yang paling indah, yang Allah ciptakan. Setelah Iblis menawarkan diri ke semua binatang, namun tidak ada yang bersedia mengajaknya masuk surga.

Setelah ular itu masuk ke dalam surga bersama Iblis, keluarnya dia dari perut ular itu. Kemudian dia menuju pohon larangan bagi Adam dan Hawa itu. Pertama kali dia mempengaruhi Hawa. Di membawa pohon itu ke Hawa,

'Lihatlah pohon ini, baunya harum, rasanya lezat, dan warnanya indah.' Dia terus mempengaruhi Hawa, hingga Hawa-pun mengambil pohon itu dan memakannya.

Kemudian baru menggoda Adam.

Kata Hawa, 'Makanlah, aku sudah makan, tidak ada masalah apa-apa.'

Adam-pun makan dari pohon itu. Tiba-tiba pakaiannya terbuka dan terlihat kemaluan mereka. Mereka telah melakukan dosa.

Lalu Adam masuk ke pohon itu. Dan dipanggil oleh Allah.

"Di mana kamu?" tanya Allah dan (Dia Maha Mengetahui).

'Saya di sini, Ya Allah' jawab Adam.

"Mengapa kamu tidak keluar dari situ?" tanya Allah.

'Saya malu kepada-Mu, Ya Allah.' Jawab Adam.

Lalu Allah berfirman kepada Adam, "Turunlah ke bumi, asal penciptaanmu."

Ular itupun dilaknat, dan kakinya dilenyapkan menjadi bagian perutnya, serta dijadikan permusuhan antara ular dengan manusia. Karena itulah, kita diperintahkan untuk membunuhnya… (Tafsir al-Qurthubi, 1/313).

Pendapat kedua, Iblis masih memungkinkan masuk surga, hanya saja tidak dimuliakan dan masuk dalam keadaan terhina.

Al-Baidhawi menyebutkan,

قيل: إنه منع من الدخول على جهة التكرمة كما كان يدخل مع الملائكة، ولم يمنع أن يدخل للوسوسة ابتلاء لآدم وحواء

Ada yang mengatakan, dia tidak boleh masuk ke dalam surga dengan penghormatan, sebagaimana dulu dia masuk ke dalam surga bersama para Malaikat. Dan dia tidak dilarang untuk menggoda Adam sebagai ujian bagi Adam dan Hawa. (Tafsir al-Baidhawi, 1/72).

Keempat, Mengimani yang Global

Masalah semacam ini adalah ghaib. Tidak ada yang tahu kejadian aslinya, kecuali Allah dan para pelaku sejarah peristiwa itu. Sehingga tidak ada ruang untuk berijtihad atau menghayalkan bagaimana keadaan sejatinya.

Hanya saja yang penting untuk ditekankan di sini, bahwa kita wajib mengimani semua informasi yang Allah ceritakan dalam al-Quran. Meskipun bisa jadi informasi itu mengundang tanda tanya di benak kita.

Andai tidak ada keterangan ulama tentang bagaimana Iblis menyesatkan Adam, kita tetap wajib percaya bahwa Iblis adalah pelaku yang menyesatkan Adam ketika di surga.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Rabu, 19 November 2014

KonsultasiSyariah: Berobat dengan Air Hujan

KonsultasiSyariah: Berobat dengan Air Hujan


Berobat dengan Air Hujan

Posted: 18 Nov 2014 07:09 PM PST

Berobat dengan Air Hujan

Benarkah minum hujan untuk obat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Dalam al-Quran, Allah menyebut hujan sebagai sesuatu yang diberkahi,

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Kami turunkan dari langit air yang berkah (banyak manfaatnya) lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam. (QS. Qaf: 9)

Allah juga menyebut hujan sebagai rahmat,

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji (QS. as-Syura: 28)

Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang soleh masa silam, sangat gembira dengan turunnya hujan. Sehingga mereka mengambil berkah dengan air hujan.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menceritakan,

"Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyingkap bajunya, lalu beliau guyurkan badannya dengan hujan. Kamipun bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa anda melakukan demikian?" Jawab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

"Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan." (HR. Ahmad 12700, Muslim 2120, dan yang lainnya)

Al-Qurthubi mengatakan,

وهذا منه صلى الله عليه وسلم تبرك بالمطر ، واستشفاء به ؛ لأن الله تعالى قد سماه رحمة ، ومباركا ، وطهورا ، وجعله سبب الحياة ، ومبعدا عن العقوبة ، ويستفاد منه احترام المطر ، وترك الاستهانة به

Praktek dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan bentuk tabarruk (ngalap berkah) dengan hujan. Dan menjadikannya sebagai obat. Karena Allah menyebut hujan dengan rahmat, mubarok (berkah), dan thahur (alat bersuci). Allah jadikan hujan sebagai sebab kehidupan dan tanda terhindar dari hukuman, yang memberi kesimpulan agar kita menghormati hujan dan tidak menghina hujan. (al-Mufhim lima Asykala min Talkhis Shahih Muslim, 2/546).

Kemudian dalam hadis lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sengaja menghujankan dirinya ketika khutbah di masjid. Anas bin Malik menceritakan,

ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ

Kemudian beliau tidak turun dari mimbarnya hingga saya melihat air hujan menetes dari jenggot beliau. (HR. Bukhari 1033)

Ketika membawakan hadis ini, Imam Bukhari memberikan judul bab dalam kitab shahinya,

باب من تمطر في المطر حتى يتحادر على لحيته

Bab orang yang menghujankan diri hingga air menetes di jenggotnya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menilai bahwa tindakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghujankan diri beliau adalah suatu kesengajaan, dan bukan kebetulan. Karena andai beliau tidak sengaja, tentu beliau akan menyelesaikan khutbahnya ketika mendung kemudian berteduh. Namun beliau terus melanjutkan khutbahnya, ketika hujan turun, sampai membasahi jenggot beliau. (Simak Fathul Bari, 2/520).

Demikian pula yang dilakukan oleh para sahabat. Mereka hujan-hujanan dalam rangka ngalap berkah.

Ibnu Abi Syaibah menyebutkan beberapa riwayat dari para sahabat, dan beliau memberikan judul bab,

مَنْ كَانَ يتمطّر فِي أوّلِ مطرةٍ

Orang yang hujan-hujanan ketika pertama kali turun hujan.

Selanjutnya Ibnu Abi Syaibah menyebutkan beberapa riwayat berikut,

عَن بُنَانَةَ ، أَنَّ عُثْمَانَ كَانَ يَتَمَطَّرُ فِي أَوَّلِ مَطْرَةٍ

Dari Bunanah, bahwa Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu hujan-hujanan di awal turunnya hujan.

عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ كَانَ يَتَمَطَّرُ ، يُخْرِجُ ثِيَابَهُ حَتَّى يُخْرِجَ سَرْجَهُ فِي أَوَّلِ مَطْرَةٍ

Dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma hujan-hujanan, beliau mengeluarkan pakaiannya, hingga pelananya di awal turunnya hujan.

عَنْ عَلِيٍّ ، أَنَّهُ كَانَ إذَا رأى الْمَطَرَ خَلَعَ ثِيَابَهُ وَجَلَسَ ، وَيَقُولُ : حدِيثُ عَهْدٍ بِالْعَرْشِ

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa apabila beliau melihat hujan, beliau melepas bajunya lalu duduk. Sambil mengatakan, "Baru saja datang dari Arsy."

(Mushannaf Ibn Abi Syaibah, 8/554).

Bolehkah Dijadikan Obat?

Seperti yang kita tahu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, mereka mencari berkah dengan turunnya hujan. Kita tidak tahu, apakah mereka melakukan semacam itu dalam rangka pengobatan atau sebatas mencari berkah. Hanya saja, zahir riwayat di atas menunjukkan bahwa mereka tidak minum air hujan itu. Mereka hanya hujan-hujanan, mandi dengan air hujan atau berwudhu dengan air hujan.

Karena itu, menjadikan air hujan sebagai obat dengan cara diminum, ini butuh dalil atau bukti secara ilmiah.

Dalam fatwa Islam, terdapat pertanyaan tentang hukum menjadi air hujan sebagai obat. Keterangan dalam fatwa islam,

فمن حرص على التعرض للمطر والإصابة منه بالغسل أو الشرب تبركا به ، فلا بأس عليه ولا حرج .ولكن لا ينبغي نسبة الشفاء إلى هذا الماء إلا بدليل ، وإن كانت البركة الثابتة لهذا الماء قد تنفع في العلاج ، ولكن لا نجزم بوقوع العلاج والشفاء ما لم يرد نص شرعي خاص به ، ولا ينبغي الجزم بذلك للناس

Orang yang hujan-hujanan atau mandi hujan atau meminumnya dalam rangka mencari berkah, hukumnya boleh dan tidak berdosa. Hanya saja, selayaknya tidak meyakini air ini sebaai obat, kecuali berdasarkan bukti. Meskipun keberkahan air hujan, bisa jadi bermanfaat untuk pengobatan. Akan tetapi, kita tidak menegaskan adanya unsur obat, selama tidak ada dalil yang secara khusus menyebutkan hal ini. Dan tidak selayaknya menegaskan hal itu kepada masyarakat. (Fatawa Islam, 164231)

Demikian…

Allahu a'lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Mengobati Meningitis Tanpa Vaksin

Posted: 17 Nov 2014 10:17 PM PST

Mengobati Meningitis

Pertanyaan:

Adakah cara alami mengobati meningitis tanpa vaksin? Terima kasih.

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada kami.

Penyakit meningitis, atau peradangan pada selaput otak (meninges), secara sederhana dapat diklasifikasikan menjadi:

  • Meningitis bakterial akut
  • Meningitis aseptik

Pada meningitis bakterial akut, gejala khas meningitis seperti demam, nyeri kepala, kaku kuduk, dan muntah tampak jelas dan cepat, dan dalam waktu singkat bisa diikuti pemburukan kondisi seperti penurunan kesadaran hingga koma. Untuk jenis meningitis ini, yang umumnya disebabkan infeksi bakteri, diperlukan pemberian antibiotik segera. sedangkan meningitis aseptik bukan akibat infeksi namun peradangan, biasanya setelah infeksi virus tertentu. Meningitis aseptik bersifat lebih ringan, dan self-limited (dapat membaik tanpa pengobatan khusus). Gejalanya pun lebih ringan dan berkembang lebih lambat dibanding meningitis bakterial. Terapinya juga bersifat suportif, seperti minum air putih yang cukup, nutrisi yang baik, dan penurun demam serta pereda rasa nyeri. Jadi penurun demam atau pereda rasa nyeri berbahan alami dapat digunakan untuk meningitis jenis ini. Sedangkan fungsi vaksin bukanlah mengobati namun menyiapkan kekebalan terhadap penyebab meningitis.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh dr Hafidz (Pengasuh Rubrik Kesehatan  Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial