Sabtu, 25 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Apa Makna Membaca al-Quran dengan Tartil?

KonsultasiSyariah: Apa Makna Membaca al-Quran dengan Tartil?


Apa Makna Membaca al-Quran dengan Tartil?

Posted: 24 Oct 2014 03:58 PM PDT

Membaca al-Quran dengan Tartil

Ustadz, saya sering mendengar istilah tartil. mohon dijelaskan apa yang dimaksud makna membaca alquran dengan tartir?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Allah memrintahkan kita agar kita membaca al-Quran dengan tartil,

وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلا

Dan bacalah al-Qur’an itu dengan tartil. (Al-Muzammil: 4)

Berikut beberapa keterangan sahabat tentang makna tartil,

Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna tartil dalam ayat,

"Mentajwidkan huruf-hurufnya dengan mengetahui tempat-tempat berhentinya". (Syarh Mandhumah Al-Jazariyah, hlm. 13)

Ibnu Abbas mengataan,

بينه تبييناً

Dibaca dengan jelas setiap hurufnya.

Abu Ishaq mengatakan,

والتبيين لا يتم بأن يعجل في القرآة، وإنما يتم التبيين بأن يُبيِّن جميع الحروف ويوفيها حقها من الإشباع

Membaca dengan jelas tidak mungkin bisa dilakukan jika membacanya terburu-buru. Membaca dengan jelas hanya bisa dilakukan jika dia menyebut semua huruf, dan memenuhi cara pembacaan huruf dengan benar. (Lisan al-Arab, 11/265).

Inti tartil dalam membaca adalah membacanya pelan-pelan, jelas setiap hurufnya, tanpa berlebihan. (Kitab al-Adab, as-Syalhub, hlm. 12)

Cara Ibnu Mas'ud Membaca al-Quran

Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah menyampaikan kabar gembira kepada Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضاًّ كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأَهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

Siapa yang ingin membaca al-Quran dengan pelan sebagaimana ketika dia diturunkan, hendaknya dia membacanya sebagaimana cara membacanya Ibnu Mas'ud. (HR. Ahmad 36, dan Ibnu Hibban 7066).

Hadis ini menunjukkan keistimewaan bacaan al-Quran Ibnu Mas'ud Radhiyallahu ‘anhu. Karena bacaannya sama dengan ketika al-Quran di turunkan. Beliau membacanya dengan cara 'ghaddan' artinya segar yang belum berubah. Maksudnya suaranya menyentuh (as-Shaut an-Nafidz) dan memenuhi semua hak hurufnya.

Untuk itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendengar bacaan Ibnu Mas'ud, dan bahkan hingga beliau menangis.

Ibnu Mas'ud Radhiyallahu ‘anhu bercerita, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruhnya untuk membaca al-Quran,

"Bacakan al-Quran!" Pinta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

"Ya Rasulullah, apakah akan membacakan al-Quran di hadapan anda padahal al-Quran turun kepada anda?" tanya Ibnu Mas'ud.

"Ya, bacakan."

Kemudian Ibnu Mas'ud membaca surat an-Nisa, hingga ketika sampai di ayat,

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا

Bagaimanakah jika Aku datangkan saksi untuk setiap umat, Aku datangkan kamu sebagai saksi bagi mereka semua.

Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam minta agar bacaan dihentikan.

Ibnu Mas'ud melihat ke arahnya, ternyata air mata beliau berlinangan. (HR. Bukhari 5050 & Muslim 1905).

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Jumat, 24 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Renungan Surat al-Kahfi (bagian 02)

KonsultasiSyariah: Renungan Surat al-Kahfi (bagian 02)


Renungan Surat al-Kahfi (bagian 02)

Posted: 23 Oct 2014 09:22 PM PDT

Renungan Surat al-Kahfi (bagian 02)

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Pada kajian sebelumnya kita telah mengupas berbagai pelajaran berharga dari surat al-Kahfi. Kita akan kembali melanjutkan beberapa pelajaran penting lainnya, yang bisa kitagali dari surat al-Kahfi,

Pertama, semangat orang kafir untuk memurtadkan orang beriman, sekalipun melalui cara kekerasan.

إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

Sesungguhnya mereka jika berhasil menangkap kalian, mereka akan merajam kalian atau mengembalikan kalian ke agama mereka, dan kalian tidak akan beruntung selamanya.

Kedua, keputusan raja dan penguasa, tidak bisa jadi dalil sebuah kebenaran. Termasuk adanya bangunan di kuburan orang shaleh.

وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا

Demikianlah kami pertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.

Setelah ashabul kahfi dibangunkan oleh Allah, keadaan mereka diketahui masyarakat sekitar. Hingga akhirnya penguasa mereka bermaksud mendirikan masjid di gua itu untuk mengenang kehebatan ashabul kahfi. Dan peristiwa ini bukan dalil anjuran membangun masjid di kuburan.

Ketiga, berbicara masalah ghaib tanpa dalil termasuk perbuatan tercela. Allah menyebutnya 'rajman bil ghaib' (nebak-nebak yang ghaib).

سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, menebak yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”

Keempat, al-Quran bercerita tantang kejadian masa silam agar generasi selanjutnya mengambil pelajaran dariya. Karena itu, bagian yang tidak penting, tidak disebutkan al-Quran. Allah tidak menyebutkan berapa jumlah yang pasti untuk ashabul kahfi, siapa nama mereka, dst.

Kelima, dalam kasus yang kita tidak memiliki sumber kebenarannya, tidak selayaknya diperdebatkan dengan serius. Perdebatan hanya dilakukan di permukaan (mira' dzahir), tidak sampai dimasukkan ke dalam hati.

قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا

Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja…

Keenam, larangan untuk bertanya kepada orang yang tidak layak dimintai fatwa. Allah melarang Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada orang yahudi tentang ashabul kahfi, karena mereka tidak memiliki ilmu yang detail tentangnya.

وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا

Jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.

As-Sa'di menyebutkan, dua jenis manusia yang tidak layak dimintai fatwa,

  1. Orang yang memiliki keterbatasan pengetahuan apa yang difatwakan
  2. Orang yang kurang peduli dengan apa yang dia ucapkan, tidak memiliki rasa takut terhadap konsekuensi buruk fatwa.

(Tafsir as-Sa'di, hlm. 473)

Ketujuh, Allah melarang Nabi-Nya untuk menyampaikan rencana ke depan, tanpa digandengkan dengan kehendak Allah. Jika nabi dilarang, tentu umatnya juga lebih dilarang. Karena itu, ayat yang berisi perintah dan larangan untuk nabi, juga beraku untuk seluruh umatnya.

Kedelapan,  mengembalikan suatu rencana kepada kehendak Allah, maka rencana itu akan dimudahkan, diberkahi, dan diberi pertolongan oleh Allah.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا ( ) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, ( ) kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”.

Kesembilan, perintah untuk mengingat Allah ketika lupa.

وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ

"Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa…"

Ulama berbeda pendapat tentang makna kata 'lupa' dalam ayat ini,

  1. Lupa mengucapkan insyaaAllah ketika mengucapkan rencana, sekalipun menyampaikan rencana itu dilakukan kemarin atau bahkan jauh sebelum itu. (pendapat mayoritas ulama)
  2. Ingatlah Allah ketika engkau marah. (pendapat Ikrimah)
  3. Ingatlah Allah ketika melakukan maksiat. Karena maksiat termasuk lupa. (pendapat Ikrimah)
  4. Ingatlah Allah ketika lupa apapun, agar Allah mengingatkan kamu dari apa yang terlupakan. (pedapat al-Mawardi)

Kesepuluh, hikmah mengucapkan insyaaAllah ketika mengungkapkan rencana, agar kita tidak termasuk berdusta ketika rencana itu gagal. Kita juga dianjurkan mengucapkan isyaaAllah, ketika bertekad untuk berusaha memiliki karakter yang baik.

Nabi Musa menyatakan di haapan Khidr,

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.

Kesebelas, perintah untuk selalu memohon hidayah,

وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

Dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.”

Karena itulah, kita diwajibkan untuk selalu memohon hidayah dalam setiap shalat, melalui bacaan surat al-Fatihah.

Allahu a'lam

insyaaAllah bersambung.. 

Baca artikel sebelumnya: Renungan Surat al-Kahfi (bagian 01)

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Doa Tahun Baru Hijriyah

Posted: 23 Oct 2014 07:17 PM PDT

Doa Tahun Baru Hijriyah

Apa doa tahun baru hijriyah?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Sebelumnya mari kita perhatikan sejarah tahun baru hijriyah. Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, kaum muslimin belum mengenal pergantian tahun hijriyah. Sehingga ketika itu, tidak ada istilah tahun baru hijriyah. Mereka menggunakan kalender qamariyah sebagai acuan kegiatan dan pencatatan sejarah. Mengikuti kalender yang sudah digunakan oleh masyarakat arab sejak sebelum islam. Hanya saja, di zaman mereka belum ada angka tahun dan acuan tahun.

Hingga akhirnya di zaman Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, tepatnya di tahun ketiga beliau menjabat sebagai khalifah, beliau mendapat sepucuk surat dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, yang saat itu menjabat sebagai gubernur untuk daerah Bashrah. Dalam surat itu, Abu Musa mengatakan:

إنه يأتينا من أمير المؤمنين كتب، فلا ندري على أيٍّ نعمل، وقد قرأنا كتابًا محله شعبان، فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي

"Telah datang kepada kami beberapa surat dari amirul mukminin, sementara kami tidak tahu kapan kami harus menindaklanjutinya. Kami telah mempelajari satu surat yang ditulis pada bulan Sya'ban. Kami tidak tahu, surat itu Sya'ban tahun ini ataukah tahun kemarin."

Kemudian Umar mengumpulkan para sahabat di Madinah, dan beliau meminta,

ضعوا للناس شيئاً يعرفونه

"Tetapkan tahun untuk masyarakat, yang bisa mereka jadikan acuan."

Ada yang usul, kita gunakan acuan tahun bangsa Romawi. Namun usulan ini dibantah, karena tahun Romawi sudah terlalu tua. Perhitungan tahun Romawi sudah dibuat sejak zaman Dzul Qornain. (Mahdhu ash-Shawab, 1/316, dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab, Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1/150)

Kemudian disebutkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, dari Said bin al-Musayib, beliau menceritakan:

Umar bin Khattab mengumpulkan kaum muhajirin dan anshar radhiyallahu 'anhum, beliau bertanya: "Mulai kapan kita menulis tahun." Kemudian Ali bin Abi Thalib mengusulkan: "Kita tetapkan sejak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah, meninggalkan negeri syirik." Maksud Ali adalah ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Kemudian Umar menetapkan tahun peristiwa terjadinya Hijrah itu sebagai tahun pertama Hijriyah. (al-Mustadrak 4287 dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi).

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Sejarah Penetapan Kalender Hijriah

Dengan memahami latar belakang di atas, ada kesimpulan yang bisa kita berikan garis tebal,

  1. Bahwa di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr tidak dikenal tahun baru hijriyah.
  2. Alasan Umar menetapkan acuan tahun hijriyah adalah untuk menandai setiap peristiwa dan menertibkan kegiatan korespondensi dengan wilayah lain. Atau dengan bahasa sederhana, latar belakang penetapan tahun hijriyah di zaman Umar, lebih terkait pada kepentingan administrasi dan tidak ada hubungannya dengan ibadah.
  3. Segala bentuk ritual ibadah, baik shalat di malam pergantian tahun atau doa tahun baru, atau puuasa akhir tahun, dst, sama sekali tidak pernah dikenal di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat.
  4. Ketika Umar menetapkan tanggal 1 Muharram sebagai hari pergantian tahun, beliau tidak memerintahkan masyarakat untuk memeriahkan hari itu sebagai hari istimewa.

Karena itulah, para ulama sejak masa silam, mereka tidak pernah menganjurkan adanya ibadah khusus, apapun bentuknya, di tahun baru hijriyah. bahkan para ulama mengingkarinya.

Dr. Bakr Abu Zaid – Pengajar di Masjid Nabawi pada 1390 – 1400 H, dan anggota Majma' al-Fiqhi al-Islami di bawah Rabithah Alam Islamiyah – (w. 1429 H) mengatakan,

لا يثبت في الشرع شيء من دعاء أو ذكر لآخر العام، وقد أحدث الناس فيه من الدعاء، ورتبوا ما لم يأذن به الشرع، فهو بدعة لا أصل لها.

Tidak terdapat dalil dalam syariat yang menyebutkan tentang doa atau dzikir akhir tahun. Masyarakat membuat-buat kegiatan doa, mereka susun kalimat-kalimat doa, yang sama sekali tidak diizinkan dalam syariat. Doa semacam ini murni bukan ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak ada dasarnya. (Tashih ad-Dua, hlm. 108).

Keterangan yang sama juga disampaikan Syaikh Khalid Abdul Mun'im Rifa'i,

ينبغي للمسلم اجتناب تخصيص نهاية العام أو بداية العام الجديد بشيء من العبادات؛ فكل خير في اتباع من سلف

Selayaknya bagi setiap muslim untuk tidak mengkhususkan akhir tahun atau awal tahun baru dengan ibadah apapun. Karena kebaikan itu ada pada mengikuti ulama terdahulu.

Memahami keterangan di atas, satu prinsip yang layak kita pahami bersama, tidak ada doa tahun baru hijriyah. Sementara doa yang tersebar di masyarakat, yang bunyinya,

اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ….الخ.

Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam…dst.

Doa ini shahih, diriwayatkan Ahmad, Turmudzi dan yang lainnya, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth. Hanya saja, doa ini bukan doa awal tahun, namun doa awal bulan. Dianjurkan untuk dibaca setiap awal  bulan qamariyah. Mengkhususkan doa ini hanya ketika tahun baru hijriyah, termasuk menyalahi fungsi dari doa tersebut.

Allahu a'lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Kamis, 23 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Luka Bernanah yang Lama Sembuhnya

KonsultasiSyariah: Luka Bernanah yang Lama Sembuhnya


Luka Bernanah yang Lama Sembuhnya

Posted: 22 Oct 2014 07:58 PM PDT

Luka Bernanah

Pak 2 minggu lalu saya terkena paku saat bekerja.. Sekarang saya mempunyai luka lain yg bernanah dan ada banyak luka di kaki yang lama sembuhnya itu penyakit apa dan bagaimana mengatasinya dan ada luka di hidung yang berair itu bagaimana tolong pencerahannya.

Dari: Khoirul Ahmadi

Jawaban:

Mengenai luka terkena paku, memang dikahwatirkan akan terjadi penyakit tetanus. Terutama pada paku yang berkarat, akan tetapi kejadian tersebut sudah 2 minggu lebih sehingga dipastikan anda tidak mungkin terkena tetanus akibat tusukan paku. Paku tersebut tidak mengandung kuman tetanus yang bisa menginfeksi anda.

Banyaknya luka dan bernanah di kaki mengindikasikan ada kemungkinan anda terkena diabetes mellitus. Penyakit ini terjadi kekurangan atau tidak adanya insulin. Insulin adalah kendaraan glukosa untuk masuk ke dalam sel tubuh. Karena tidak bisa masuk menyebabkan penumpukan gula/glukosa di darah. Glukosa yang nantinya menjadi energi bagi sel tubuh dan jaring, jika kurang maka tidak ada energi yang cukup untuk peroses perbaikan sel saat terjadi luka. Sehingga jika ada luka, maka penyembuhannya lama

Luka bernanah karena luka tersebut terjadi dalam waktu yang lama. Letaknya di kaki yang dekat dengan tanah atau kaki jarang dilihat, maka ini memudahkan terjadinya infeksi. Sehingga luka tersebut bernanah dan membuat semakin lama untuk sembuh
Kami sarankan anda untuk periksa gula darah dan konsultasi kepada dokter. Semoga dimudahkan

Dijawab oleh dr. Raehanul Bahraen (Pengasuh Kesehatan www.konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Kapan Abu Hurairah Masuk Islam?

Posted: 22 Oct 2014 07:13 PM PDT

Kapan Abu Hurairah Masuk Islam?

Kapan Abu Hurairah masuk islam? Krn saya pernah mendengar, beliau masuk islam sebelum peristiwa hijrah. Apa itu benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Sebelumnya, kita perlu tahu sekelumit tentang latar belakang Abu Hurairah. Nama asli beliau Abdurrahman bin Shakr – menurut pendapat yang paling kuat –. Beliau berasal dari suku Daus dari Yaman. (Siyar A'lam an-Nubala, 2/578).

Menurut banyak riwayat, orang yang mendakwahkan islam di suku Daus adalah Thufail bin Amr ad-Dausi Radhiyallahu ‘anhu, yang masuk islam ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Dan Abu Hurairah termasuk orang yang mengikuti ajakan Thufail.

Siapa Thufail ad-Dausi?

Sebelum menjawab kapan islamnya Abu Hurairah, terlebih dahulu kita buka identitas Thufail bin Amr ad-Dausi. Karena sosok beliau membantu menentukan masa islamnya Abu Hurairah.

Dalam berbagai referensi sejarah, diantaranya at-Thabaqat al-Kubro karya Ibnu Sa'd, disebutkan biografi Thufail. Beliau adalah sosok yang terpandang, penyair ulung, sering dikunjungi orang. Beliau tiba di Mekah tahun ke-11 kenabian. Begitu tiba di Mekah, orang musyrikin menyambutnya, dan merekapun langsung mengingatkan beliau agar tidak dekat-dekat dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يا طفيل، إنك قدمت بلادنا، وهذا الرجل الذي بين أظهرنا قد أعضل بنا، وقد فرق جماعتنا، وشتت أمرنا، وإنما قوله كالسحر، يفرق بين الرجل وأبيه، وبين الرجل وأخيه ، وبين الرجل وزوجه، وإنا نخشى عليك وعلى قومك ما قد دخل علينا، فلا تكلمه ولا تسمعن منه شيئًا

Hai Thufail, kamu datang ke negeri kami. Di sini ada orang yang telah merepotkan kami, memecah belah persatuan kami, mengacaukan semua urusan kami. Ucapannya seperti sihir, bisa membuat seorang ayah membenci anaknya, seseorang benci saudaranya, dan suami istri bisa bercerai. Kami mengkhawatirkan kamu dan kaummu mengalami seperti apa yang kami alami. Karena itu, jangan sampai engkau mengajaknya bicara dan jangan mendengar apapun darinya.

Mereka terus-menerus mengingatkan Thufail, hingga beliau menyumbat telinganya dengan kapas ketika masuk masjidil haram. Ketika beliau masuk masjidil haram, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat. Hingga Allah takdirkan, beliau mendengar sebagian bacaan shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau semakin penasaran dan akhirnya menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah diajarkan tentang islam dan dibacakan sebagian ayat al-Quran, Thufail terheran-heran, hingga beliau tertarik masuk islam dan langsung bersyahadat masuk di depan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepadanya untuk mendakwahkan islam kepada kaumnya.

Beliau meminta suatu tanda. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan, "Ya Allah, berikanlah cahaya untuknya."

Allahpun memberikan tanda di depan dahinya. Namun Thufail khawatir, justru ini dianggap tanda buruk baginya. Kemudian cahaya itu dipindah ke ujung cemetinya. Cahaya ini menjadi penerang baginya di waktu malam yang gelap. (at-Thabaqat al-Kubro  4/237, ar-Rahiq al-Makhtum hlm. 105).

Ada dua pendapat ulama tentang kapan Abu Hurairah masuk islam.

Pertama, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu masuk islam di awal tahun 7 Hijriyah. Bertepatan dengan peristiwa perang Khaibar. Dan inilah keterangan yang masyhur dari berbagai ahli sejarah.

Ibnu Abdil Bar mengatakan,

أسلم أبو هريرة وعمران بن حصين عام خيبر

Abu Hurairah dan Imran bin Husain masuk islam di tahun Khaibar. (al-Isti'ab, 1/374).

Keterangan lain, dari al-Khithabi,

أسلم أبو هريرة سنة سبع قدم المدينة ورسول الله بخيبر وأسلم عمرو وخالد بن الوليد سنة ست

Abu Hurairah masuk islam tahun 7 Hijriyah. Beliau datang ke Madinah, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Khaibar. Sementara Amr dan Khalid bin Walid tahun 6 Hijriyah. (Gharib al-Hadits, 2/485).

Keterangan Ibnul Atsir,

أسلم أبو هريرة عام خيبر، وشهدها مع رسول الله صلى الله عليه وسلم  ثم لزمه وواظب عليه رغبة في العلم فدعا له رسول الله صلى الله عليه و سلم

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu masuk islam di tahun Khaibar, dan beliau ikut peristiwa Khaibar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian selalu menampingi Nabi dan selalu bersama beliau, karena keinginan untuk mendapatkan ilmu. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebaikan untuknya. (Usud al-Ghabah).

Kedua, sebagian ulama berpendapat bahwa Abu Hurairah masuk islam sebelum peristiwa Khaibar. Berikut beberapa keterangan mereka,

Ibnu Hibban,

أسلم أبو هريرة بدوس، فقدم المدينة ورسول الله  خارج نحو خيبر وعلى المدينة سباع بن عرفطة الغفاري استخلفه رسول الله ، فصلى أبو هريرة مع سباع، وسمعه يقرأ: { ويل للمطففين }، ثم لحق المصطفى  إلى خيبر، فشهد خيبر مع النبي

Abu Hurairah masuk islam di suku Daus. Kemdian beliau datang ke Madinah, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam teah berangkat menuju Khaibar. Ketika itu, yang bertanggung jawab terhadap kota Madinah adalah Siba bin Urfuthah al-Ghifari. Ditugaskan untuk menggantikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah shalat bersama Siba', kemudian menyusul Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Khaibar, dan ikut peristiwa Khaibar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Shahih Ibnu Hibban, 11/187).

Kemudian keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar, setelah beliau menceritakan islamnya Thufail,

وفيها أنه دعا قومه إلى الإسلام فأسلم أبوه ولم تسلم أمه وأجابه أبو هريرة وحده قلت وهذا يدل على تقدم إسلامه وقد جزم بن أبي حاتم بأنه قدم مع أبي هريرة بخيبر وكأنها قدمته الثانية

Di kampung ad-Daus Thufail mendakwahkan kaumnya untuk masuk islam, hingga ayahnya masuk islam, namun ibunya menolak. Kemudian Abu Hurairah menerima ajakan beliau sendirian.

Menurut saya (Ibnu Hajar), ini menunjukkan bahwa islamnya Abu Hurairah itu sejak awal. Bahkan Ibnu Abi Hatim menyebutkan bahwa Thufail datang ke Khaibar bersama Abu Hurairah. Seolah ini adalah kedatangan yang kedua. (Fathul Bari, 8/102)

Diantara ulama kontemporer yang menegaskan islamnya Abu Hurairah sebelum peristiwa hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah adalah al-A'dzami. Dalam catatan kaki untuk Shahih Ibnu Khuzaimah, beliau mengatakan,

أسلم أبو هريرة قبل الهجرة إلى المدينة بسنوات، لكنه هاجر بزمن خيبر، انظر ترجمة الطفيل ابن عمرو الدوسي في الاستيعاب والإصابة

Abu Hurairah masuk islam beberapa tahun sebelum peristiwa hijrah. Namun beliau hijrah di masa peritiwa Khaibar. Anda bisa lihat biografi Thufail bin Amr ad-Dausi di kitab al-Isti'ab dan kitab al-Ishabah. (Ta'liq Shahih Ibn Khuzaimah, 1/280).

Keterangan yang lain juga disampaikan Dr. Muhammad Ajjaj al-Khatib dalam kitabnya 'Abu Hurairah, Rayatul Islam' (Abu Hurairah, Bendera Islam),

أن أبا هريرة أسلم قديماً وهو بأرض قومه على يد الطفيل بن عمرو، وكان ذلك قبل الهجرة النبوية

Bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu masuk islam dari awal, ketika beliau masih di kampung halamannya, mengikuti ajakan Thufail bin Amr. Dan itu terjadi sebelum hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Abu Hurairah, Rayatul Islam, hlm 70).

Dari beberapa keterangan dan riwayat di atas, yang lebih mendekati, nampaknya Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, telah masuk islam ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Hanya saja, beliau datang ke Madinah dan selalu menyertai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika peristiwa perang Khaibar.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Rabu, 22 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Hukum Shalat Jenazah di Kuburan

KonsultasiSyariah: Hukum Shalat Jenazah di Kuburan


Hukum Shalat Jenazah di Kuburan

Posted: 21 Oct 2014 08:32 PM PDT

Cara Shalat Jenazah di Kuburan

Assalamualaikum….

bagaimana tata cara jika sholat jenazah dilakukan di makam krn terlambat u/ mengikutinya secara berjamaah di masjid atau dirumah duka syukron atas tanggapannya

Dari Wardi Wahid via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Dalam masalah shalat jenazah di kuburan, terdapat bebebrapa hadis yang secara makna tekstualnya bertentangan.

Pertama, Hadis-hadis yang melarang shalat di kuburan.

Hadis dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الأرض كلّها مسجد إلاّ المقبرة والحمّام

Bumi, semua bisa dijadikan tempat shalat, kecuali kuburan dan kamar mandi. (HR. Ahmad 12104, Abu Daud 492, Turmudzi 317, dan dishahihkan al-Albani dalam al-Irwa)

Kemudian, hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

نهى عن الصلاة بين القبور

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat di kuburan. (HR. Al-Bazzar 441 dan dishahihkan al-Albani dalam Ahkam al-Janaiz).

Dalam riwayat lain dari Abu Martsad al-Ghanawi, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تصلوا إلى القبور ولا تجلسوا عليها

"Jangan shalat menghadap kuburan dan jangan duduk di atas kuburan." (HR. Muslim 972, Nasai 760, dan yang lainnya).

Hadis-hadis di atas bersifat umum, kita dilarang untuk melakukan shalat di kuburan, apapun bentuk shalatnya, tak terkecuali shalat jenazah. Karena shalat jenazah, sekalipun tidak ada rukuk dan sujudnya, namun ibadah ini disebut dengan nama 'shalat'.

Kemudian, khusus shalat jenazah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melaarang di lakukan di tengah-tengah kuburan. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أنّ النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يصلى على الجنائز بين القبور

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat jenazah di sekitar kuburan. (HR. Thabrani dalam al-Wasith 5631, dan dihasankan al-Haitsami dalam Majma az-Zawaid).

Kedua, Hadis-hadis yang membolehkan shalat jenazah di kuburan.

Disamping beberapa hadis yang melarang, terdapat beberapa hadis yang menegaskan boleh melakukan shalat jenazah di kuburan. Diantaranya,

Hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,

Bahwa ada orang yang meninggal dan dimakamkan para sahabat di malam hari tanpa mengabari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal ketika sakit, orang ini sering dijenguk oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di pagi harinya, mereka baru memberitahu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

"Mengapa kalian tidak memberi tahu saya?" tanya beliau.

"Malam hari, gelap. Kami khawatir akan merepotkan anda." Jawab sahabat.

Ibnu Abbas melanjutkan ceritanya,

فأتى قبره، فصلى عليه، قال: فأمّنا،وصفّنا خلفه، وأنا فيهم، وكبّر أربعا

Lalu beliau mendatangi kuburannya, dan menshalatinya. Kami menjadi makmum dan membentuk shaf di belakang beliau. Saya termasuk diantara mereka dan beliau bertakbir 3 kali. (HR. Ibn Majah 1530, al-Baihaqi dalam as-Sunan, dan dishahihkan al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil).

Kemudian, hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

Bahwa ada seorang wanita hitam yang tinggal di dalam masjid, menjadi tukang sapu masjid. Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencarinya. Para sahabat memberi tahu bahwa beliau sudah meninggal.

"Mengapa kalian tidak memberi tahu saya." Tanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Seolah para sahabat menganggap orang ini biasa saja .

"Tunjukkan kepadaku, di mana kuburannya." Pinta beliau.

Kemudian beliau mendatangi kuburannya dan shalat jenazah di sana. Lalu beliau bersabda,

إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ

Kuburan ini dipenuhi dengan kegelapan bagi penghuninya. Kemudian Allah ta'ala meneranginya dengan shalatku untuk mereka. (HR. Bukhari 460, dan Muslim 2259).

Berdasarkan beberapa hadis di atas, ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat jenazah di kuburan. Berikut penjelasannya,

Pertama, shalat jenazah di kuburan tidak sah. Ini merupakan salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad. (al-Inshaf, 1/490).

Kedua, shalat jenazah di kuburan hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. (Badai as-Shana'i 1/320, Bidayatul Mujtahid 1/410, al-Majmu' 5/231, al-Inshaf, 1/490).

Dua pendapat ini berdalil dengan beberapa hadis yang melarang shalat di kuburan dan secara khusus, larangan melakukan shalat jenazah di kuburan.

Ketiga, shalat jenazah di kuburan, jika ada sebab, hukumnya dibolehkan. Ini merupakan pendapat sebagaian Hanafiyah (al-Fatawa al-Hindiyah, 1/165), sebagian Malikiyah (Bidayatul Mujtahid, 1/410), mayoritas ulama hambali (al-Mughni, 3/423), dan Zahiriyah (al-Muhalla, 4/32).

Dari ketiga pendapat ini, yanng lebih mendekati kebenaran adalah pendapat ketiga, bahwa shalat jenazah di kuburan hukumnya diperbolehkan. Diatara alasannya,

Pertama, semua praktek Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa shalat jenazah di kuburan yang beliau lakukan bersama para sahabat menjadi pengecualian terhadap larangan dalam beberapa hadis di atas. Sehingga kita bisa mengamalkan semua hadis, dengan memposisikan masing-masing sesuai porsinya. Hadis yang melarang shalat di kuburan dipahami semua shalat selain shalat jenazah. Sementara praktek beliau shalat jenazah di kuburan dipahami sebagai pengecualian.

Pemahaman semacam ini sesuai kaidah:

إعمال الكلام أولى من إهماله

Mengamalkan hadis, lebih didahulukan dari pada membuangnya.

Ketika kita berpendapat bahwa shalat jenazah di kuburan hukumnya terlarang, konsekuensinya, kita akan meniadakan semua hadis yang membolehkan shalat jenazah di kuburan.

Kedua, sementara hadis dari Anas bin Malik, bahwa 'Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat jenazah di sekitar kuburan',

Hadis ini memiliki beberapa redaksi, diantaranya umum, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat di antara kuburan, tanpa ada tambahan kata 'jenazah'. Dan inilah riwayat yang umum. Sementara tambahan kata jenazah 'melarang shalat jenazah' adalah riwayat yang ganjil, menyelisihi umumnya riwayat lainnya. (at-Taqrib hlm. 169).

Ketiga, Praktek para sahabat

Beberapa sahabat shalat jenazah di kuburan. Ini menunjukkan bahwa mereka memahami praktek Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dalil bahwa itu diperbolehkan.

Nafi – ulama tabi'in muridnya Ibnu Umar – menceritakan,

لقد صلينا على عائشة وأم سلمة وسط البقيع بين القبور، والإمام يوم صلينا على عائشة أبو هريرة وحضر ذلك ابن عمر

Kami pernah menshalati jenazah Aisyah dan Ummu Salamah di tengah pemakaman Baqi' di antara kuburan. Yang menjadi imam adalah Abu Hurairah, dan dihadiri Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhum. (HR. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf no. 6570)

Demikian, Allahu a'lam.

Tata Cara Shalat Jenazah di Kuburan

Mengenai tata cara shalat jenazah di kuburan, sama persis dengan cara shalat jenazah pada umumnya.

Referensi:

  • Majalah Buhuts al-Islami, volume 80, edisi Dzulqa'dah-Shafar (caturwulan), 1427 H.
  • Situs resmi Dr. Muhammad Ali Farkus: http://ferkous.com/site/rep/Be1.php
  • Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 11238

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Sering Kencing Siang dan Malam Hari

Posted: 20 Oct 2014 10:40 PM PDT

Sering Kencing Anyang-anyangan

Saya umur 51 laki-laki sering kencing bila minum air putih sudah hampir sebelum puasa tahun ini dok kadang kencing tidak tuntas dan masih menetes  jadi kaya anyang-anyangan saya ada gejala gula dan kadang timbul gatal-gatal kalau lagi berkeringat terima kasih dok untuk solusinya?

Dari Pak Mitra

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang Bapak berikan kepada kami.

Buang air kecil tidak tuntas pada pria, khususnya diatas 30 tahun, kemungkinan merupakan tanda adanya penyumbatan di saluran kemih. Kemungkinan ini bukan satu-satunya, namun merupakan yang tersering dijumpai dalam praktek, dan penyebabnya antara lain adalah:

  • Pembesaran prostat jinak (benign prostatic hyperplasia/BPH)
  • Batu saluran kemih
  • Infeksi saluran kemih
  • Pada penderita diabetes, terlebih dalam jangka panjang dengan kontrol gula darah yang buruk, kerusakan saraf

Selain buang air kecil tidak tuntas, tanda lain dari BPH adalah sulit memulai kencing, aliran melemah atau bercabang, sulit menahan kencing, kencing sering kali di malam hari, dan kencinh tersendat-sendat. Bila pasien juga mengalami gejala diabetes, dimana diabetes juga akan menyebabkan pasien sering minum dan sering berkemih, gejalanya dapat lebih berat. BPH sendiri bisa ditangani dengan obat-obatan seperti tamsulosin atau finasteride, atau dengan operasi.

Saran kami, sebaiknya Bapak memeriksakan diri ke dokter, seperti dokter spesialis urologi atau penyakit dalam, untuk mengetahui penyebab gangguan berkemih yang Bapak alami. Dokter akan melakukan serangkaian tes yang dianggap perlu, seperti foto radiologi saluran kemih (foto polos, BNO-IVP yang menggunakan kontras), pemeriksaan darah, juga gula darah. Nantinya, dokter yang memeriksa tersebut yang lebih berwenang menentukan apakah Bapak memerlukan obat ataukah operasi. Disamping itu, karena Bapak memiliki gejala penyakit diabetes, hendaknya Bapak melakukan kontrol gula dengan baik, yang dapat diawali dengan olahraga teratur dan diet diabetes. Pengontrolan kadar gula darah, pemakaian sabun yang dapat menjaga kelembaban kulit dan segera mengganti pakaian atau mengelap bagian tubuh yang berkeringat juga, dan menaburkan bedak setelahnya, diharapkan dapat membantu meringankan keluhan gatal-gatal yang Bapak rasakan.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh dr Hafid (Pengasuh rubrik kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Selasa, 21 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Mimpi Basah di Masjid

KonsultasiSyariah: Mimpi Basah di Masjid


Mimpi Basah di Masjid

Posted: 20 Oct 2014 06:33 PM PDT

Mimpi Basah di Masjid

Bagaimana hukumnya mimpi basah di masjid ustadz?

Dari Khoirul Azzam via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Masalah mimpi basah di masjid adalah turunan dari hukum tidur di dalam masjid. Mayoritas ulama membolehkan tidur di masjid. Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan,

وقد سئل سعيد بن المسيب وسليمان بن يسار عن النوم في المسجد؟ فقالا: كيف تسألون عنه وقد كان أهل الصفة ينامون فيه، وهم قوم كان مسكنهم المسجد؟

Said bin Musayib dan Sulaiman bin Yasar ditanya tentang tidur di masjid. Mereka mengatakan, 'Bagaimana bisa kalian bertanya tentang hukum tidur di masjid. Sementara Ahlu sufah tidur di masjid. Dan mereka sekelompok orang yang tempat tinggalnya di masjid.' (Fathul Bari, 2/455)

Kemudian, al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan rincian hukum tidur di masjid,

Pertama, tidur di masjid hanya ketika butuh, dan tidak menjadikannya tempat tidur terus menerus, seperti tidur ketika iktikaf, atau musafir yang mampir masjid, atau hanya sebatas tidur siang, atau semacamnya. Tidur di masjid untuk kondisi di atas hukumnya dibolehkan oleh mayoritas ulama. Bahkan ada yang menegaskan, ulama sepakat bahwa itu dibolehkan. Karena diriwayatkan, beberapa sahabat tidur siang di masjid, diantaranya, Umar bin Khatab dan Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhuma.

Kedua, menjadikan masjid sebagai tempat tidur. Perbuatan ini dibenci oleh Ibnu Abbas. Beliau pernah mengatakan, 'Jika kamu tidur di masjid karena nunggu shalat, tidak masalah.' Kecuali bagi orang yang membutuhkan tempat tinggal sementara, karena dia tidak memiliki tempat tinggal di daerah itu, sebagaimana yang dilakukan para tamu Madinah, wanita hitam yang tidur di masjid, dan ashabus sufah. (Fathul Bari, 2/456)

Oleh karena itu, tidak masalah ketika ada orang yang tidur di masjid kemudian mimpi basah. Karena mimpi bawaan tidur, tak terkecuali mimpi basah. Alauddin al-Kasani mengatakan,

ولو احتلم المعتكف؛ لا يفسد اعتكافه؛ لأنه لا صنع له فيه فلم يكن جماعاً، ولا في معنى الجماع، ثم إن أمكنه الاغتسال في المسجد من غير أن يتلوث المسجد فلا بأس به، وإلا فيخرج فيغتسل، ويعود إلى المسجد

Jika orang yang iktikaf mimpi basah, iktikafnya tidak batal. Karena tidak ada yang dia sengaja dalam mimpi itu, sehingga tidak dihukumi jimak, dan tidak disamakan dengan jimak. Kemudian, jika dia bisa mandi di masjid tanpa haru mengotori masjid, tidak masalah untuk dia lakukan. Dan jika tidak memungkinkan, dia harus keluar masjid dan mandi, lalu kembali ke masjid. (Bada'i as-Shana'i, 2/116).

Diantara dalil bahwa mimpi basah di masjid tidak bernilai dosa, adalah hadis yang diriwayatkan Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أقيمت الصلاة، وعدلت الصفوف قياماً، فخرج إلينا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فلما قام في مصلاه ذكر أنه جنب، فقال لنا: (مكانكم) ثم رجع، فاغتسل، ثم خرج إلينا ورأسه يقطر، فكبر، فصلينا معه

Iqamah telah dikumandangkan, shaf sudah ditata semua posisi berdiri. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk mengimami kami. Ketika beliau berdiri di tempat imam, beliau teringat bahwa beliau sedang junub. Kemudian beliau berpesan, 'Tetap di tempat kalian.' Beliau pulang, mandi, kemudian kembali mendatangi kami sementara rambut beliau meneteskan air. Lalu beliau bertakbir dan shalat mengimami kami. (HR. Bukhari 275).

Disamakan dengan kasus ini adalah orang yang mimpi basah di masjid.

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Mata Anak Memerah dan Berair

Posted: 20 Oct 2014 01:43 AM PDT

Sakit Mata pada Anak

Ass,sya mw tny anak saya umur 3thn kmrn mtx yg sblh kanan merah trs ada kyak lendir bening kra2 bahaya g ya tp anakx sya tanya g sakit dan wktu bngun tdr g ada kotoranx. Terima kasih

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullaahi wabarokaatuh.

Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada kami.

Mata merah umumnya disebabkan oleh 4 hal, yakni:

  • Infeksi
  • Alergi
  • Inflamasi (peradangan tanpa infeksi)
  • Peningkatan tekanan dalam bola mata

Mata merah yang hanya terjadi di salah satu mata, tanpa disertai rasa sakit, air mata yang banyak, dan kotoran mata, kemungkinan diakibatkan peradangan ringan karena adanya benda asing yang masuk ke mata (debu, pasir, dll). Pada anak khususnya, cenderung akan menggosok-gosok matanya jika dirasa tidak nyaman akibat adanya benda asing tersebut, yang justru memperberat keluhan. Kemungkinan lainnya adalah mata merah tersebut merupakan awal dari infeksi (konjungtivitis), yang beberapa hari kemudian akan diikuti keluhan klasik seperti mata berair dan nyeri. Peradangan ringan maupun infeksi umumnya tidak berbahaya, dan dapat menyembuh tanpa bekas dengan pengobatan yang tepat.

Saran kami, jika belum ada keluhan tanda-tanda infeksi, dan anak masih bermain seperti biasanya, tidak perlu memberikan apapun ke mata anak, namun tetap dipantau. Jika setelah 2-3 hari merahnya belum hilang, atau timbul keluhan infeksi, sebaiknya bawa anak ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh dr Hafidz (Pembina rubrik kesehatan Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Senin, 20 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Kisah: Kesabaran Tanpa Batas

KonsultasiSyariah: Kisah: Kesabaran Tanpa Batas


Kisah: Kesabaran Tanpa Batas

Posted: 19 Oct 2014 07:36 PM PDT

Kisah: Balasan nan Indah…

Diterjemahkan oleh Abu Hudzaifah Al Atsary dari kitab: 'Aasyiqun fi Ghurfatil 'amaliyyaat, oleh Syaikh Muh. Al Arify.

Abu Ibrahim bercerita:

Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas… kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang…

Ternyata orang ini kedua tangannya buntung… matanya buta… dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..

Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:

الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍمِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً ..الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍمِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. ..

Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia…

Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh… ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi… kedua tangannya buntung… matanya buta… dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya…

Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yang mengurusinya? atau isteri yang menemaninya? ternyata tak ada seorang pun…

Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku… ia lalu bertanya: "Siapa? siapa?"

"Assalaamu'alaikum… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini" jawabku, "Tapi kamu sendiri siapa?" tanyaku.

"Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? lanjutku.

"Aku seorang yang sakit… semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal…" jawabnya.

"Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia…!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara…?!?" ucapku.

"Aku akan menceritakannya kepadamu… tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?" tanyanya.

"Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu" kataku.

"Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir…?

"Betul" jawabku. lalu katanya: "Berapa banyak orang yang gila?"

"Banyak juga" jawabku. "Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia" jawabnya.

"Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?" tanyanya.

"Iya benar", jawabku. "Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb" jawabnya.

"Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar…?" katanya.

"Banyak juga…" jawabku. "Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb", katanya.

"Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?" tanyanya.

"Iya benar" jawabku. "Lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara?" tanyanya.

"Wah, banyak itu" jawabku. "Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb" jawabnya.

"Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya… mengharap pahala dari-Nya… dan bersabar atas musibahku?" tanyanya.

"Iya benar" jawabku. lalu katanya: "Padahal berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat…!!"

"Banyak sekali", jawabku. "Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb" katanya.

Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu… dan aku semakin takjub dengan  kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah…

Betapa banyak pesakitan selain beliau, yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau… mereka ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya… tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong 'sehat'. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya… mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar…

Aku pun menyelami fikiranku makin jauh… hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan:

"Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… maukah kamu mengabulkannya?"

"Iya.. apa permintaanmu?" kataku.

Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: "Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun… dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku… sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja… dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya…"

Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya…

Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut… aku tak tahu harus memulai dari arah mana…

Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua.

Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yang mengerumuni sesuatu… maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.

Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.

Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong… rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung…

Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah…

Aku pun turun dari bukit… dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam…

Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian… ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?

Aku berjalan menujuk kemah pak Tua… aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana?

Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyu 'alaihissalaam… maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya… ia mendahuluiku dengan bertanya: "Di mana si bocah?"

Namun kataku: "Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub 'alaihissalaam?"

"Tentu Ayyub 'alaihissalaam lebih dicintai Allah" jawabnya.

"Lantas siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya?" tanyaku kembali.

"Tentu Ayyub…" jawabnya.

"Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung… ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya…" jawabku.

Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata: "Laa ilaaha illallaaah…" dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya… namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya… hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya… lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya…

Maka kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku…

Kukatakan: "Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yang mengurusinya… maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?"

"Iya.." jawab mereka.

Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya… namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak: "Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!"

Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh…

Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah…

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah… ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna… ia berjalan-jalan di tanah yang hijau… maka aku bertanya kepadanya:

"Hai Abu Qilabah… apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat ini?"

Maka jawabnya: "Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:

( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )

Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali

Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: "Ats Tsiqaat" dengan penyesuaian.

Hukum Syukuran Pulang Haji

Posted: 19 Oct 2014 06:52 PM PDT

Syukuran Menyambut Jamaah Haji

Di beberapa tempat, sebagian org yg br pulang haji, mreka ngadakan syukuran, makan-makan. Apa itu boleh dalam islam?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan bahwa para sahabat menyambut kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari safar atau ketika masuk ke sebuah kota. Diantaranya,

Hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَكَّةَ اسْتَقْبَلَتْهُ أُغَيْلِمَةُ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَحَمَلَ وَاحِداً بَيْنَ يَدَيْهِ وَآخَرَ خَلْفَهُ

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di Mekah, anak-anak kecil bani Abdul Muthalib menyambut kedatangan beliau. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong salah satu dari mereka dan yang lain mengikuti dari belakang. (HR. Bukhari 1798)

Dalam shahihnya, Imam Bukhari membuat judul bab,

باب استقبال الحاج القادمين

Bab, menyambut kedatangan jamaah haji yang baru pulang.

Kemudian Bukhari menyebutkan hadis di atas.

Abdullah bin Ja'far mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا .فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ . قَالَ : فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila pulang dari safar, kami menyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain, lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau, hingga kami masuk kota Madinah. (HR. Muslim 6422).

An-Naqi'ah

Acara makan-makan dalam rangka penyambutan orang yang baru pulang haji disebut an-Naqi'ah. Ini tidak hanya berlaku untuk hji saja, namun semua kegiatan safar. Sebagian ulama mengajurkan untuk mengadakan acara makan-makan, dalam rangka tasyakuran pulangnya seorang musafir.

An-Nawawi mengatakan,

يستحب النقيعة ، وهي طعام يُعمل لقدوم المسافر ، ويطلق على ما يَعمله المسافر القادم ، وعلى ما يعمله غيرُه له ، … ومما يستدل به لها : حديث جابر رضي الله عنه ” أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما قدم المدينة من سفره نحر جزوراً أو بقرةً ” رواه البخاري

Diadakan untuk mengadakan naqi'ah, yaitu hidangan makanan yang digelar sepulang safar. Baik yang menyediakan makanan itu orang yang baru pulang safar atau disediakan orang lain… diantara yang menjadi dalil hal ini adalah hadis Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba dari Madinah sepulang safar, beliau menyembelih onta atau sapi. (HR. Bukhari). (al-Majmu', 4/400)

Fatwa Imam Ibnu Utsaimin

Pertanyaan:

Ada tradisi yang terebar di beberapa kampung, mereka mengadakan makan-makan sepulang haji dari Mekah. Itu diadakan setiap tahun. Mereka sebut 'salamah hujjaj' selametan haji. Bisa dagingnya diambilkan dari daging qurban yang tersimpan, bisa juga menyembelih hewan baru.

Jawaban Syaikh Ibnu Utsaimin:

هذا لا بأس به ، لا بأس بإكرام الحجاج عند قدومهم ؛ لأن هذا يدل على الاحتفاء بهم ، ويشجعهم أيضاً على الحج.. وهذا لعله يكون في القرى ، أما في المدن فهو مفقود ، ونرى كثيراً من الناس يأتون من الحج ولا يقام لهم ولائم ، لكن في القرى الصغيرة هذه قد توجد ، ولا بأس به ، وأهل القرى عندهم كرم ، ولا يحب أحدهم أن يُقَصِّر على الآخر .

Semacam ini tidak masalah. Boleh menyambut jamaah haji ketika mereka datang, karena ini menjadi pesta penyambutan mereka, dan memotivasi lainnya untuk berhaji… mungkin ini hanya ada di kampung. Kalau di kota, semacam ini sudah tidak ada. Saya melihat banyak orang yang pulang haji, dan tidak ada acara makan-makan. Beda dengan di kampung, semacam ini masih ada. Dan tidak masalah. Penduduk kampung biasanya lebih dermawan, dan mereka tidak ingin bersikap pelit dengan orang lain. (Liqaat Bab al-Maftuh, volume 154, no 12).

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Sabtu, 18 Oktober 2014

KonsultasiSyariah: Membaca dengan Hafalan atau dengan Mushaf?

KonsultasiSyariah: Membaca dengan Hafalan atau dengan Mushaf?


Membaca dengan Hafalan atau dengan Mushaf?

Posted: 17 Oct 2014 06:54 PM PDT

Membaca dengan Hafalan atau dengan Mushaf?

Mana yang lebih utama, membaca al-Quran dengan hafalan ataukah dengan melihat mushaf?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Ada pendapat ulama dalam masalah ini,

Pertama, membaca al-Quran dengan melihat mushaf, lebih utama dibandingkan dengan hafalan. Karena membaca dengan mushaf berarti kita melihat al-Quran. Dan ini memiliki nilai tersendiri. Mengingat umumnya orang membaca dengan melihat mushaf, hatinya bisa lebih konsentrasi merenungkan apa yang dia baca. Ini merupakan mayoritas ulama.

Ketika seseorang sama sekali tidak melihat mushaf, dikhawatirkan termasuk memboikot al-Quran. Allah berfirman,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. al-Furqon: 30)

Berdasarkan ayat ini, Imam Ibnul Jauzi menjelaskan,

وينبغي لمن كان عنده مصحف أن يقرأ فيه كل يوم أيات يسيرة لئلا يكون مهجوراً

Selayaknya bagi orang yang memiliki mushaf untuk membacannya dengan melihat mushaf beberapa ayat setiap hari. Agar tidak termasuk menjadikan al-Quran sesuatu yang diacuhkan. (al-Adab as-Syar'iyah, Ibn Muflih, 2/300).

Kedua, menimbang mana yang lebih bisa khusyu. Jika membaca melalui hafalan bisa lebih khusyu dan lebih bisa merenungkan isi al-Quran maka hafalan lebih utama, dan sebaliknya. Ini merupakan pendapat Ibnu Katsir, An-Nawawi dan beberapa ulama lainnya.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,

وقال بعض العلماء : المدار في هذه المسألة على الخشوع، فإن كان الخشوع أكثر عند القراءة عن ظهر قلب، فهو أفضل، وإن كان عند النظر في المصحف أكثر، فهو أفضل،

Sebagian ulama mengatakan, inti dari masalah ini adalah khusyu. Jika dia bisa lebih khusyu ketika membacanya melalui hafalan, maka ini lebih afdhal. Namun jika dengan melihat mushaf bisa lebih khusyu, maka itu lebih afdhal.

فإن استويا، فالقراءة نظراً أولى، لأنها أثبت، وتمتاز بالنظر إلى المصحف. قال الشيخ أبو زكريا النواوي -رحمه الله-  في التبيان: الظاهر أن كلام السلف وفعلهم محمول على هذا التفصيل

Jika sama khusyunya, maka membaca dengan melihat ke mushaf lebih baik, karena lebih konsentrasi dan fokus dengan melihat ke arah mushaf. Imam an-Nawawi mengatakan dalam at-Tibyan, 'Yang benar, bahwa keterangan para ulama dan praktek mereka, dipahami sesuai rincian ini.' (Fadhail al-Quran, Ibnu Katsir, hlm. 136).

Allahu a'lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Renungan Surat al-Kahfi (bagian 01)

Posted: 16 Oct 2014 10:45 PM PDT

Renungan Surat al-Kahfi (bagian 01)

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Setiap jumat, kita dianjurkan membaca surat al-Kahfi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan, orang yang membacanya akan mendapatkan cahaya. Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

"Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka'bah." (HR. ad-Darimi  3470 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami', 6471)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

"Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat." (HR. Hakim 6169, Baihaqi  635, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami', no. 6470)

Bahkan, karena kuatnya pengaruh cahaya yang Allah berikan, orang yang memperhatikan surat al-Kahfi, akan dilindungi dari fitnah Dajjal. Dari Abu Darda' Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

 Siapa yang menghafal 10 ayat pertama surat al-Kahfi maka dia akan dilindungi dari fitnah Dajjal. (HR. Muslim 1919, Abu Daud 4325, dan yang lainnya)

Surat Pelindung Fitnah

Jika orang yang merenungi surat al-Kahfi terlindung dari fitnah Dajjal – sementara itu salah satu fitnah terbesar – maka berpeluang besar bagi orang yang memahaminya untuk terlindung dari fitnah (ujian) lainnya.

Dalam surat al-Kahfi, terdapat 4 kisah, yang semuanya memberikan pelajaran kita sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai macam fitnah (ujian).

Pertama, ujian karena agama à kisah ashabul kahfi yang lari meninggalkan kampung halamannya dalam rangka menjaga imannya.

Kedua, fitnah harta à kisah shohibul jannatain (pemilik dua kebun), yang kufur kepada Tuhannya karena silau dengan dunianya.

Ketiga, ujian karena ilmu à kisah Musa dengan Khidr. Musa diperintahkan untuk belajar kepada Khidr, sekalipun beliau seorang nabi yang memiliki Taurat. Karena di atas orang yang berilmu, ada yang lebih berilmu.

Keempat, fitnah kekuatan dan kekuasaan à kisah Dzulqarnain. Seorang raja penguasa hampir semua permukaan dunia. Kekuasaannya membentang dari ujung timur hingga ujung barat. Namun beliau jadikan kekuasaannya untuk menegakkan keadilan dan syariat bagi seluruh manusia.

Surat Peneguh Hati

Mayoritas ulama mengatakan, surat al-Kahfi Allah turunkan sebelum hijrah. Sehingga surat ini digolongkan sebagai surat Makiyah. Tepatnya, surat ini diturunkan menjelang hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Seolah surat ini menjadi mukadimah, untuk perjuangan besar bagi kaum muslimin, hijrah meninggalkan kampung halamannya, berikut harta dan keluarganya.

Tentu saja, butuh perjuangan yang tidak ringan. Mereka harus siap dengan segala resiko, ketika mereka pindah ke Madinah. Semuanya serba menjadi taruhan. Mempertaruhkan hartanya untuk ditinggal di Mekah. Mempertaruhkan hubunngan keluarganya karena harus pisah di dua negeri yang berbeda. Mempertaruhkan keselamatan jiwa sesampainya di Madinah, yang masih harus bersaing dengan yahudi di sekitarnya.

Allah kuatkan hati mereka dengan kisah:

  1. Ashabul kahfi, mengajarkan bahwa manusia harus mempertahankan agamanya, sekalipun dia harus terusir dari kampung halamannya.
  2. Cerita Shohibul Jannatain (pemilik kebun), mengajarkan agar manusia tidak silau dengan harta, sehingga lebih memilih dunia dan meninggalkan agamanya.
  3. Kisah Musa & Khidir, bahwa orang harus mendatangi sumber ilmu dan hidayah, dimanapun dia berada.
  4. Kisah Dzulqarnain, bahwa bumi ini akan Allah wariskan kepada siapapun yang Allah kehendaki diantara hamba-Nya.

Demikian istimewanya surat ini, hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jadikan sebagai sumber cahaya bagi manusia. Sehingga mereka terhindari dari fitnah Dajjal, fitnah dunia, dan agama. Tentu saja, ini bagi mereka yang berusaha merenungi kandungan isi dan maknanya.

Berikut, kita akan mengkaji beberapa renungan terhadap kandungan surat al-Kahfi,

Pertama, surat ini diawali dengan menetapkan segala pujian untuk Allah. Dan dalam al-Quran, terdapat 5 surat yang diawali dengan bacaan hamdalah: al-Fatihah, al-An'am, al-Kahfi, Saba', dan Fathir.

Kita memuji Allah dalam semua keadaan, sekalipun makhluknya  sedang mendapatkan ujian dan musibah.

Kedua, bahwa al-Quran adalah sumber ilmu yang lurus tanpa ada sedikitpun yang bengkok.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ( ) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; ( ) sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh

Ketiga, segala kenikmatan dunia hanya hiasan, dalam menguji manusia, siapakah diantara mereka yang tetap berusaha beribadah dan tidak tertipu dengannya.

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

Keempat, dai yang ikhlas, bisa saja mendapatkan tekanan batin karena beban berat dakwah. Tak terkecuali, inipun dialami manusia terbaik, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آَثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

Barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka (orang kafir) berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Quran).

Kelima, manusia harus berusaha menyelamatkan agama dan aqidahnya, sekalipun dia harus terusir dari negerinya. Bahkan sekalipun dia harus tinggal di gua dengan segala keterbatasannya.

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آَيَاتِنَا عَجَبًا ( ) إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? ( ) (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”

Keenam, Allah akan memberi tambahan dan kekuatan hidayah bagi orang yanng komitmen dengan kebenaran dan berani menampakkan

وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.

Ketujuh, meninggalkan kemaksiatan belum dinilai sempurna hingga dia meninggalkan pelakunya,

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ

Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu

Kedelapan, orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah ganti dengan yang lebih baik. Asahbul kahfi meninggalkan kehangatan kampung halamannya dan keluarganya, Allah ganti dengan kehangatan hidayah dan rahmat dari-Nya.

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا

Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.

Kesembilan, Allah jaga hamba-Nya yang sholeh, meskipun mereka sedang istirahat. Ashabul kahfi dijaga oleh Allah, sekalipun mereka sedang istirahat di gua. Sehingga tidak ada satupun makhuk yang berani mengganggu maupun membangunkan mereka.

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

Kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari merekadengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.

Kesepuluh, tawakkal yang sejati, adalah pasrah kepada Allah setelah berusaha mengambil sebab. Ashabul kahfi membawa uang untuk bekal mereka ketika mereka pergi meninggalkan kampungnya.

قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ

Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu

Allahu a'lam

Bersambung, insyaaAllah…

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial